2.
Pentingnya menemukan orang terlebih dahulu baru menentukan apa yang harus
dikerjakan
Banyak orang yang punya persepsi yang salah mengatakan bahwa manusia adalah
aset dari perusahaan. Yang benar adalah manusia yang tepat adalah aset dari
perusahaan. Perusahaan hebat akan menemukan orang yang tepat terlebih dahulu
sebelum menemukan visi dan misi.
Kalau diibaratkan dengan menaiki sebuah kereta, perusahaan hebat bukan
menentukan ingin ke mana dulu, melainkan menemukan orang-orang yang tepat dulu
untuk dimasukkan ke dalam kereta, baru setelah itu terserah kereta itu mau
membawa orang-orang tersebut ke mana.
Sistem reward and
punishment-nya bukan dibuat untuk bagaimana mengubah orang yang salah
menjadi benar, atau membuat orang-orang yang tidak produktif menjadi
produktif.
Apabila perusahaan masih membutuhkan sistem
untuk mendisiplinkan orang, berarti perusahaan tersebut bukan perusahaan besar
karena mereka punya banyak orang yang salah di dalam “kereta”nya. Sistem
kompensasi bukan untuk membuat orang yang salah jadi benar, melainkan membuat
orang yang berada di luar kereta tertarik untuk masuk ke dalam kereta dan
bertahan di dalam kereta. Jadi prinsip siapa orangnya, baru visi dan misinya,
itu diterapkan di 11 perusahaan besar. It is who you pay, not how you pay
them.
Walaupun orang-orang tadi tidak dibayar sebesar CEO-CEO lain,
mereka tetap memberikan hasil yang luar biasa bagi perusahaan karena mereka
adalah orang yang tepat. Ada satu prinsip yang sangat sesuai poin nomor dua
ini. Prinsip tersebut adalah prinsip 135: satu orang karyawan mempunyai
penghasilan tiga kali lipat dibanding karyawan yang lain karena dia mempunyai
produktivitas lima kali lipat dibanding karyawan yang lain.
Yang dipakai di perusahaan hebat adalah
mereka merekrut 5 orang, memperkerjakannya seperti memperkerjakan 10 orang dan
memberikan mereka penghasilan sebagaimana memberikan kepada 8 orang. Untuk
memenuhi hal ini, ada tiga hal yang bisa
dilakukan untuk memenuhi hal ini:
1.
Saat menemukan keraguan dalam perekrutan, jangan
rekrut, cari yang terbaik.
2.
Saat tahu perubahan harus dibuat dalam hal
manusianya, take action. Perusahaan hebat punya sistem membuat orang
yang tepat akan berada di perusahaan dalam waktu yang sangat lama atau saat
orang yang tidak tepat akan segera turun. Dua pertanyaan yang menentukan, saat
org tadi sudah berada di perusahaan:
·
Apabila boleh dilakukan perekrutan ulang, apakah
orang tersebut akan direkrut kembali? Kalau jawabannya tidak, berarti orang
tersebut harus dikeluarkan.
·
Apabila orang yang sudah direkrut tersebut
datang menghadap dan meminta maaf karena ia harus meninggalkan perusahaan
karena ada tantangan baru yang lebih menantang di luar perusahaan, bagaimana
perasaan pemimpin? Kalau lega, berarti orang tersebut harus dikeluarkan dari
perusahaan.
3.
Selalu menempatkan orang baik di dalam peluang
besar, bukan masalah yang besar. Perusahaan cenderung meletakkan orang-orang
terbaik untuk menyelesaikan masalah terbesar. Contoh: Saat ada perusahaan,
misalnya toko buku, memiliki 100 buku. Lalu toko ini ingin omsetnya naik dua
kali lipat, ia harus menjual 100 buku tersebut dengan baik. Namun sebenarnya,
jika toko ingin omsetnya naik, mereka harus fokus pada penjualan 4 atau 5 buku.
Permasalahannya adalah kebanyakan penerbit, menyembunyikan buku yang laku dan
memajang buku yang tidak laku. Mana yang lebih mudah? Mempromosikan buku yang
sudah laris atau buku yang tidak laku namun dipaksa-paksa untuk menjadi laris?
Kesalahan semacam ini yang sering dibuat oleh perusahaan bagus.
Semoga ilmunya makin berkah,,
BalasHapus