Jumat, 25 September 2015

Rangkuman Buku Good to Great Jim Collins - Siapa Dulu ... Baru Apa



2.       Pentingnya menemukan orang terlebih dahulu baru menentukan apa yang harus dikerjakan
Banyak orang yang punya persepsi yang salah mengatakan bahwa manusia adalah aset dari perusahaan. Yang benar adalah manusia yang tepat adalah aset dari perusahaan. Perusahaan hebat akan menemukan orang yang tepat terlebih dahulu sebelum menemukan visi dan misi.
Kalau diibaratkan dengan menaiki sebuah kereta, perusahaan hebat bukan menentukan ingin ke mana dulu, melainkan menemukan orang-orang yang tepat dulu untuk dimasukkan ke dalam kereta, baru setelah itu terserah kereta itu mau membawa orang-orang tersebut ke mana.
Sistem reward and punishment-nya bukan dibuat untuk bagaimana mengubah orang yang salah menjadi benar, atau membuat orang-orang yang tidak produktif menjadi produktif.
Apabila perusahaan masih membutuhkan sistem untuk mendisiplinkan orang, berarti perusahaan tersebut bukan perusahaan besar karena mereka punya banyak orang yang salah di dalam “kereta”nya. Sistem kompensasi bukan untuk membuat orang yang salah jadi benar, melainkan membuat orang yang berada di luar kereta tertarik untuk masuk ke dalam kereta dan bertahan di dalam kereta. Jadi prinsip siapa orangnya, baru visi dan misinya, itu diterapkan di 11 perusahaan besar. It is who you pay, not how you pay them.
Walaupun orang-orang tadi tidak dibayar sebesar CEO-CEO lain, mereka tetap memberikan hasil yang luar biasa bagi perusahaan karena mereka adalah orang yang tepat. Ada satu prinsip yang sangat sesuai poin nomor dua ini. Prinsip tersebut adalah prinsip 135: satu orang karyawan mempunyai penghasilan tiga kali lipat dibanding karyawan yang lain karena dia mempunyai produktivitas lima kali lipat dibanding karyawan yang lain.
Yang dipakai di perusahaan hebat adalah mereka merekrut 5 orang, memperkerjakannya seperti memperkerjakan 10 orang dan memberikan mereka penghasilan sebagaimana memberikan kepada 8 orang. Untuk memenuhi hal ini, ada  tiga hal yang bisa dilakukan untuk memenuhi hal ini:
1.       Saat menemukan keraguan dalam perekrutan, jangan rekrut, cari yang terbaik.
2.       Saat tahu perubahan harus dibuat dalam hal manusianya, take action. Perusahaan hebat punya sistem membuat orang yang tepat akan berada di perusahaan dalam waktu yang sangat lama atau saat orang yang tidak tepat akan segera turun. Dua pertanyaan yang menentukan, saat org tadi sudah berada di perusahaan:
·         Apabila boleh dilakukan perekrutan ulang, apakah orang tersebut akan direkrut kembali? Kalau jawabannya tidak, berarti orang tersebut harus dikeluarkan.
·         Apabila orang yang sudah direkrut tersebut datang menghadap dan meminta maaf karena ia harus meninggalkan perusahaan karena ada tantangan baru yang lebih menantang di luar perusahaan, bagaimana perasaan pemimpin? Kalau lega, berarti orang tersebut harus dikeluarkan dari perusahaan.
3.       Selalu menempatkan orang baik di dalam peluang besar, bukan masalah yang besar. Perusahaan cenderung meletakkan orang-orang terbaik untuk menyelesaikan masalah terbesar. Contoh: Saat ada perusahaan, misalnya toko buku, memiliki 100 buku. Lalu toko ini ingin omsetnya naik dua kali lipat, ia harus menjual 100 buku tersebut dengan baik. Namun sebenarnya, jika toko ingin omsetnya naik, mereka harus fokus pada penjualan 4 atau 5 buku. Permasalahannya adalah kebanyakan penerbit, menyembunyikan buku yang laku dan memajang buku yang tidak laku. Mana yang lebih mudah? Mempromosikan buku yang sudah laris atau buku yang tidak laku namun dipaksa-paksa untuk menjadi laris? Kesalahan semacam ini yang sering dibuat oleh perusahaan bagus.



1 komentar: