Jumat, 25 September 2015

Rangkuman Buku Good to Great Jim Collins - Menghadapi Fakta Keras / Konfron terhadap Kenyataan




3.       Perusahaan hebat selalu konfron menghadapi kenyataan, baik ataupun buruk
Perusahaan hebat selalu menatap kenyataan walaupun kenyataan yang ada adalah brutal, tanpa kehilangan keyakinan bahwa perusahaan akan mampu mencapai yang terbaik dalam hidup.

Untuk memperjelas pemahaman mengenai poin ini, ada sebuah contoh yang relevan dengan prinsip ini. Contoh ini disebut paradoks Stockdale. Laksamana Jim Stockdale, perwira militer AS berbintang tiga (pangkat tertinggi) di kamp tawanan perang “Hanoi Hilton” selama masa puncak Perang Vietnam. Ia disiksa lebih dari 20 kali selama dipenjara 8 tahun dari 1965-1973. Tidak ada kepastian apakah Stockdale akan selamat untuk melihat lagi keluarganya. Pada suatu kesempatan, Jim Collins berkesempatan menyakan Stockdale tentang hal apa yang membuatnya mampu lolos dari penyiksaan. Stockdale menjawab dengan luar biasa, katanya, “Saya tidak pernah kehilangan keyakinan pada akhir cerita ini. Saya tidak hanya tidak pernah ragu bahwa saya akan keluar, tapi juga saya akan menang pda akhirnya dan mengubah pengalaman itu menjadi peristiwa penentu dalam hidup saya, yang, jika dilihat ke belakang, tidak akan mau saya tukar dengan apapun.”

Lalu ia ditanya, “Bagaimana dengan teman-teman Anda yang mati pada saat itu? Mereka orang seperti apa?” Lalu Stockdale menjawab, “Mereka adalah orang yang optimistis. Mereka optimis bahwa mereka akan keluar sebelum Natal. Natal tiba dan mereka masih di sana. Kemudian Paskah hampir tiba, mereka masih di sana. Lalu Thanksgiving, dan kemudian Natal kembali datang. Dan mereka meninggal karena hati yang kecewa.”

Orang yang mati duluan mati karena kecewa. Mereka membunuh dirinya sendiri secara pikiran dan tidak tahan.

Apa perbedaan antara positif dan optimis? Positif adalah yakin bahwa pasti berhasil. Optimis adalah orang-orang yang menghadapi kenyataan yang paling pahit dan ia memberi arti terhadap kejadian tadi dan memberikan manfaat terhadapa kejadian tadi. Seorang leader punya tiga karakter:
·         See whatever happens as it is, not less, not more
Maksudnya di sini,pemimpim melihat sesuai kenyataan. Kalau seseorang kelebihan 20 kg, disebutkan lebih 20 kg, bukan sedikit montok.
·         See who he should be
Pemimpin melihat dia seharusnya menjadi seperti apa. Ia mempunyai misi tentang orang seperti apa dia di masa depan, dengan standar yang lebih baik daripada masa sekarang.
·         Leader gathers all resources to achieve a  goal
Pemimpin memanfaatkan sumber daya, segalanya. Ia sendiri sangat berdaya utk  menjadikan semua bisa mewujudkan golnya. Kenyataan pahit membuatnya belajar untuk bertahan hidup dan tidak kehilangan iman bahwa akhir dari cerita ia akan tetap dibebaskan dalam keadaan hidup dan sehat. Sama persis dengan perusahaan yang tidak mau menatap kenyataan ketika dia rugi, selalu menenangkan diri dan mengatakan bahwa krisis hanya sebentar. Perusahaan tersebut tidak menghadapi kenyataan, menipu diri sendiri padahal masalah benar-benar ada di depan mata. Mereka tidak mau menghadapi kenyataan.

                Bagaimana menciptakan iklim di mana kebenaran didengarkan? Ada 4 praktik dasar:
ü  Selalu bimbing dengan pertanyaan, bukan jawaban. Leader memancing dengan pertanyaan, membiarkan orang lain berbicara.
ü  Orang harus berdialog dan berdebat, memunculkan ide dan pandangannya, semuanya dengan tujuan bukan untuk memenangkan ego, tetapi untuk memajukan perusahaan. Jadi tinjauannya adalah tinjauan perusahaan.
ü  Saat terjadi kesalahan pada saat otopsi, yang dicari adalah kesalahan, bukan siapa yang salah. Tujuan otopsi adalah untuk mencari apa yang salah sehingga kemudian hari bisa dibuat sistem untuk mengatasi masalah tersebut, barangkali dengan merekrut orang atau menggunakan teknologi/produk tepat.
ü  Kembangkan kebiasaan seseorang boleh mengembangkan bendera merah. Di mana saat bendera merah dikeluarkan, semua orang harus diam dan mendengarkan orang ini. Di dalam perusahaan, di saat perusahaan menggunakan sistem ini, di dalam rapat, dalam enam bulan, mereka punya satu bendera ini yang tidak boleh dioper kepada orang lain, dijual, dialihtangankan. Jadi saat rapat kalau seseorang merasa saat-saat itu sangat penting, sangat bahaya menurutnya, dia boleh mengeluarkan bendera itu, berbicara sepenuhnya tanpa dicela/di-stop baru setelah itu dibahas. Dengan adanya bendera merah, mereka mulai punya kekuatan untuk mengatakan yang sesungguhnya, punya kesempatan untuk diperhatikan jajaran manjemen.

Perusahaan dahsyat mendapatkan banyak tantangan, namun mereka memberikan respon dengan cara yang berbeda. Mereka tidak mengabaikan tantangan, justru tumbuh lebih kuat. Perusahaan hebat/dashsyat tidak menggunakan waktu mereka untuk memotivasi orang, itu hal yg sia-sia. Karena kalau perusahaan mendapatkan orang yang tepat, orang-orang tersebut akan termotivasi dengan sendirinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar