Selasa, 30 Juni 2015

Masa Cinta Paling Menyenangkan

Saya tidak menulis artikel ini karena saya sedang jatuh cinta sekarang. Saya bahkan lupa bagaimana rasanya berlama-lama di telepon bersama seseorang sambil menceritakan segala sesuatu, atau berlama-lama dengan seseorang di suatu tempat di suatu waktu sambil menceritakan tentang segala sesuatu. Tapi, dari hasil pertanyaan random saya kepada diri saya sendiri dan beberapa teman perempuan saya, saya mendapatkan sebuah jawaban yang saya yakini benar untuk perempuan seusia saya; yang kalau dideskripsikan secara rinci adalah perempuan yang termasuk dalam kategori SMP, SMA, kuliah, dan awal tahun bekerja. 

Masa cinta paling menyenangkan ala perempuan seusia saya adalah ...
PEDEKATE.
Kenapa pedekate? Kenapa bukan pacaran?
Karena hanya pada saat pedekate-lah seseorang bisa dekat dengan seseorang, merasakan sisi manisnya, tersenyum hampir di segala waktu, tanpa terikat akan suatu komitmen. Itu adalah sesuatu yang cukup indah.

Bukannya saya menyiratkan bahwa menjadi single itu tidak menyenangkan, tapi saya sadari, semasa saya menjadi single, ada suatu masa dalam hidup saya, saya merasa kesepian, seolah-olah tidak ada lawan jenis yang mengganggap saya menarik. Menyedihkan? Not really. Tapi saya merasa saya tidak suka dengan penjara itu. Itu hal tidak enaknya. Bagaimana dengan hal enaknya? Poin enak dari menjadi single adalah: tidak punya keterikatan hubungan. Tidak akan ada pacar yang peduli kalau seorang single pulang larut malam atau tidak memberi kabar, Tidak ada pacar yang cemburu kalau seorang single digoda oleh teman laki-lakinya yang single. That's kinda lovely I think, the feeling of freedom to be close to anybody.


Bagaimana dengan pacaran? Menyenangkan, saya tahu, kalau pacarnya adalah orang yang bisa saling melengkapi apabila berpasangan dengan kita. But, sometimes, being in a relationship is not that easy. Ada saat-saat kedua belah pihak merasakan kekurangcocokan dan konflik menjadi hal yang tak bisa dihindari. Itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Hal menyenangkannya? Tak perlu diumbar di sini, siapa yang tidak tahu bagaimana menyenangkannya memiliki seseorang yang dirimu cintai yang juga mencintaimu? There is no lovelier feeling than being loved by the one you love.



Pedekate mengambil dua poin menyenangkan dari menjadi single dan pacaran: menjadi dekat dengan seseorang, menjadi bebas, tidak mengenal rasa bersalah tentang siapa yang menyakiti hati siapa, dan hanya tersenyum.
Itulah mengapa bagi kebanyakan perempuan seusia saya, pedekate menjadi masa cinta yang paling menyenangkan.

Minggu, 28 Juni 2015

Nge-Date By Accident

Nge-date by accident?
Kalau married by accident sudah biasa, itu mainstream. Maka itu, kali ini saya akan berbagi cerita saya tentang nge-date by accident.

Sebagai foreword, barangkali kalimat berikut bisa menghibur para jomblo, bahwa nge-date ternyata tidak selamanya milik mereka yang sudah pacaran. Mereka yang single-single seperti saya bisa kok merasakan nge-date by accident.



Biar saya tebak, jangan-jangan Anda sudah stereotype bahwa ngedate by accident di sini jangan-jangan adalah ditinggal berdua dengan lawan jenis saat acara makan atau something-like-that yang mulanya beramai-ramai? Oke, itu termasuk nge-date by accident, tapi itu sudah -- sangat -- biasa. Pengalaman nge-date by accident saya baru-baru ini go out of the red.

Saya tidak mengerti dengan apa yang terjadi di lingkungan Serpong, atau barangkali hanya kampus saya saja, Universitas Multimedia Nusantara. Di daerah tempat saya merantau, ada banyak sekali orang dari negara yang kimchi dan bulgoginya terkenal, alias orang Korea. Suatu hari, karena seorang teman saya adalah guru bahasa Korea, saya berkesempatan mengadakan coffee time di salah satu mall di daerah Serpong, berkenalan dengan belasan mahasiswa Korea yang melakukan pertukaran ke Indonesia.



Di hari itu, saya berkenalan dengan banyak beberapa perempuan cantik dan laki-laki ganteng. Saya tidak tahu apakah mereka operasi plastik atau tidak, yang saya tahu, mereka itu cantik dan ganteng. Saya berkomunikasi dengan mereka dengan bahasa tubuh, mengigat saya tidak bisa berbahasa Korea dan kemampuan bahasa Indonesia mereka masih sangat sedikit. Dari berkenalan itu, saya berkenalan dengan seseorang yang saya panggil Yoga Oppa. Yoga adalah namanya versi bahasa Indonesia, sedangkan Oppa adalah sapaan untuk laki-laki yang lebih tua. Namanya yang sederhana begitu mudah diingat, ditambah yoga merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang dipakai untuk mendifinisikan salah satu jenis olahraga dengan cara bermeditasi.

Di hari itu, kami tidak berbicara banyak karena keterbatasan bahasa. Yang jelas saya ingat rupa wajah mereka dan siapa nama mereka. Namun ada satu keanehan setelah hari itu berlalu, saya selalu berjumpa dengan Yoga Oppa secara tidak disengaja. Daerah perjumpaan kami terbilang dalam radius yang kecil, paling-paling seputar kampus, apartemen, atau mall; kurang lebih radius terjauh adalah 2.5 km, bukan radius yang jauh-jauh amat.

Baru-baru ini, di sebuah Sabtu sore,lagi-lagi saya bertemu dengannya, untuk ke sekian kalinya dari satu per ratusan juta mungkin milyar (pertimbangkan probabilitas waktu, jarak, dan jumlah manusia). Yang berbeda dari pertemuan sore itu adalah, kami berjalan pulang bersama, namun pada jarak yang lumayan jauh dari tempat perhentian shuttle. Hari itu sangat kebetulan. Berhubung saya sering melalui jalan itu, saya agak heran mengapa dia memilih jalur yang panjang. Saya pikir dia tidak tahu bahwa di dalam mall ada jalan yang bisa dilalui agar perjalanan menuju apartemen bisa lebih singkat. Saya berniat memberitahu dia supaya lain kali dia bisa pulang ke apartemen lebih cepat. Kendala bahasa menjadi halangan kami berkomunikasi.

Bayangkan, bagaimana cara menjelaskan "Jalan ini panjang, ada jalan yang lebih singkat." dengan bahasa tubuh. Komunikasi kami berlangsung dengan awkward, lucu sekaligus menyentuh di beberapa detik. Kala itu saya mengetikkan kata road di kamusnya, kemudian kamus itu menejemahkan menjadi jalan.  Tahu, apa yang terjadi kemudian? Kami jalan berdua, ya itu tadi nge-date. Dia kira saya mengajak dia, saya kira dia mengajak saya. Sampai artikel ini ditulis saya masih tidak tahu siapa yang mengajak siapa. Yang saya tahu, dia orang yang menyenangkan.

Sampai hari ini, saya bertanya-tanya dalam hati. Barangkali jalan yang dimaksudnya bukan jalan yang saya maksud. Jalan dalam artian saya adalah misalnya Jalan Thamrin, Jalan Jenderal Sudriman, jalan seperti itu yang saya maksud. Jalan dalam artian langkah yang terbentang untuk dilalui. Jalan dalam pengertian dia mungkin pergi jalan, pergi bersenang-senang, antara kami berdua - laki-laki dan perempuan.

Karena itulah, saya berniat untuk memperdalam bahasa Korea. Bukan karena saya tidak suka nge-date by accident(itu sih seneng,hahaha), tapi karena saya takut suatu hari terjadi kesalahpahaman, entah dengan dia atau orang Korea lain.

Sabtu, 27 Juni 2015

Kacamata Menonton Baru

Menonton adalah aktivitas yang menyenangkan. Bagaimana mungkin duduk manis di depan layar dan mengalihkan pikiran sejenak dari lalu lintas pikiran yang menyimpan sejuta urusan merupakan hal yang tidak dinanti-nantikan? Menonton itu seru.

Saking seringnya menonton, saya merasa bosan menonton. Bukan karena saya menonton sendirian atau menonton serial televisi, hanya saja ada hal yang berbeda jika menonton itu dilakukan bersama orang yang berbeda.



Suatu hari, saya seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi berkesempatan menonton bersama ratusan mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Saya sejenis menyusup, menyusup yang diizinkan karena ruangan bak bioskop di kampus memang disediakan terbuka untuk seluruh mahasiswa. Hari itu, film yang ditonton merupakan film hasil karya mahasiswa DKV peminatan animasi. Tiada lain yang disuguhkan di depan mata adalah film kartun.

Dari jumlah mahasiswa yang hadir ketahuan kalau kartun merupakan hiburan yang awet di segala penjuru usia. Mahasiswa animasi yang jumlahnya hanya segelintir orang, pun tidak menyangka ruang bak bioskop tersebut bisa begitu penuh, bahkan saya pun terpaksa duduk di tangga. Ada juga yang terpaksa berdiri di pintu. Ruangan tersebut benar-benar ramai untuk hitungan mahasiswa animasi yang terbilang sedikit.



Berada di antara lautan mahasiwa DKV, saya menonton dengan diselimuti atmosfer yang berbeda. Tak perlu perintah untuk tidak menimbulkan suara selama animasi diputar, suasana khidmat laksana upacara bendera seketika layar hitam diisi tulisan bercahaya. Mahasiswa desain bertepuk tanan ketika melihat bagian production dengan animasi yang keren, yang kalau saya akui scara blak-blakan, saya tidak mengerti letak kesulitannya. Kemudian muncul istilah-istilah asing ala anak animasi, "Frackingnya detail." Itu misalnya saja. Saya lupa apa katanya, intinya mereka mengomentarinya.

"Oh, ini tipe Bulgoging, alur cerita belum terbentuk."
Selama saya menonton, tidak pernah mereka tidak bertepuk tangan untuk animasi yang baru saja diputar. Seperti semuanya saling menghormati karya anak lain(Apakah ini termasuk dalam materi dalam salah satu kuliah DKV?). Walaupun kadang menurut saya, animasi itu alur ceritanya sulit ditangkap, masih saja, seluruh mahaswiswa mengapresiasi dengan tepuk tangan.

Tak jarang pula, scene yang sebenarnya tidak lucu sama sekali, namun karena ditonton beramai-ramai manjadi alat pengembang bibir pemamer gigi yang mencairkan suasana sunyi. Hari itu, ada satu suara aneh yang merusak suasana yang pada akhirnya menjadi sangat lucu. Masih saya ingat seorang anak peremuan yang tiba-tiba tertawa di taman dengan frekuensi suara yang sepertinya menumbur frekuensi burung yang sedang terbang di taman, atau si beruang yang turun melayang dari ranjang. Hal-hal seperti itu mungkin tidak terlalu lucu jika ditonton seorang diri, namun ketika ditonton beramai-ramai sambil mendengarkan suara cekikikan ratusan anak lainnya, lucu itu menjadi sangat lucu. Nilai jual kelucuannya meningkat dari di bawah kurva paragison menjadi di atas kurva paragison. (oke, ini menjurus ke alai karena paragison hanyalah fiktif belaka)

Menonton di antara orang-orang berbeda membuat saya merasa berbeda. Saya seolah mendapatkan kacamata menonton baru. Menonton animasi tidak semudah arti menonton yang seungguhnya. Mereka selalu memberikan komentar kritis hampir di setia scene yang menarik dan mengundang decak kagum. Hal-hal seperti pembentukan karakter, pewarnaan karakter, halus lembut gerakan, scene terjatuh yang agak sulit, sampai efek huruf, efek suara, alur cerita, semuanya menjadi perhatian mereka. Seolah ada teori-teori animasi ketika mereka menonton yang melayang hanya di kacamata mereka.

Semoga suguhan mata di atas tidak sekedar mengalihkan Anda sejenak dari realita hidup, melainkan juga memperluas wawasan kita semua tentang sebuah kacamata baru dalam menonton yang saat ini kebanyakan hanya dimiliki oleh mahasiswa DKV peminatan animasi. Kacamata ini bukanlah kacamata yang bisa dibeli dengan uang, melainkan dengan intensitas menonton.

Ternyata menonton kartun bagi mahasiswa animasi bukan sekedar melihat-menonton-tertawa, melainkan juga menonton-menganalisa-menilai.

Jumat, 26 Juni 2015

The Way People Do

There are billions of unique people out there with different typical interests. Sometimes, I wonder why people can laugh in a creepy-joke-I-think. Sometimes, I also wonder how people feel worthy of spending their time for hours - almost a day or more, to the thing which seems really wasting-time-for-me.

I got astonished as I caught my friends did sleep for two hours just for finishing their sculpting masterpiece. I also amazed by a-look-like-zombie of my friends in the last semester period mentioning that he is not going to sleep until his movie project had been done. I simply got surprised when I saw people are able to do a thing which if you ask me to do as they do, I will call it a torture instead of a thing. (hahaha, this may sound excessive, but it surely is)

As I ask myself how people are capable of doing such a thing, I got the answer as I type this article.

I may spend hours in front of my laptop, accompanied just by one glass of water and some playlists, doing thinking and writing and deleting and typing and reading and put myself in the sea of words and feel like time hasn't moved so long. Yes, I surely can do it. When I do writing, even for hours or a day, I never have the feeling of bored. All I feel is just want to run to the finish. I'm also sure that when my artistic friends spend their hours for artistic thing, they do it the same way as I do to this article. They don't feel they are wasting time by finishing their masterpiece because they enjoy every single second they do it. They put all their soul and mind in the project they're executing.

That's how people do. People do what they love and almost get an 'it's worthy' at the end because when they do, they do it whole-heartedly. So, when you do a thing, do it in the mode that you enjoy it the most.

You don't need to be someone else to do good, you just need to discover your potential and develop it, that's it.


Rabu, 24 Juni 2015

Anjing atau Kucing

Terinspirasi dari kuliah saya hari ini, saya menuliskan kisah berikut.
Pada perayaan ulang tahun pernikahan sepasang suami isteri yang ke-50, anak-anak mereka menyusun acara jalan berdua di sebuah taman bagi sepasang golden-soulmateini. Sepasang suami isteri ini akhirnya berjalan dengan penuh kemesraan di sebuah taman hijau yang sangat luas nan indah. Tangan mereka bergandengan.

Berjalan beberapa menit, terdengar suara yang tak tahu datangnya dari mana, "Miau...Miau..."

"Sayang, kau dengar itu?" tanya sang isteri kepada suaminya sambil merapatkan badannya.

"Oh, ya, tentu saja. Kenapa?"

"Kau seperti tidak tahu saja, aku kan takut dengan anjing..." kata istrinya dengan setengah nada kecewa.

"Loh, tapi itu kan kucing, sayang?"

"Bukan... Itu anjing," bantah si istri. Lalu mereka melanjutkan berjalan dengan keadaan si isteri merapat ke suami, beraga-jaga kalau anjing itu kembali.

"Miau... Miau... Miau..." suara misterius itu makin terdengar jelas.

"Tuh, kan, betul. Itu anjing. Dengar saja suaranya," sahut si isteri.

Si suami menoleh kepada isterinya," Anjing bagaimana? Jelas-jelas dari suaranya, itu suara kucing. Dia mengeong, sayang."

"Bukaaan. Itu suara kucing. Pokoknya itu suara kucing," si isteri menjelaskan, nadanya agak meninggi.

Si suami mulai mengernyitkan dahi, meragukan kebenaran perkataan si isteri. Bahasa nonverbalnya ini ditangkap oleh si isteri. Ya, walaupun ia tidak berkata-kata, tetapi jelas si isteri menangkap si suami tidak mengakui bahwa ia berkata benar. Lalu mereka melanjutkan berjalan lagi. Keduanya berada pada mode tidak senang hati.

"Miau...Miau...Miau..." saura tersebut makin jelas terdengar.

"Coba deh denger baik-baik, Yang barusan itu suara kucing, istriku... Kucing, K-U-C-I-N-G, sayaaaaang."

Kali ini si isteri mulai jengkel. "Bukan! Pokoknya itu bukan kucing! Itu anjing!" katanya sembari melepas gandengan tangannya walaupun ia takut dengan anjing.

"Tapi jelas-jelas, anjing itu menggonggong. Lah, yang barusan itu suara kucing yang mengeong," si suami tak kalah jengkelnya.

"Miau...Miau...Miau..."

Kali ini si isteri makin ketakutan mendengar suara itu. Berhubung ia masih jengkel, ia peluk dirinya erat-erat. Ditatapnya balik suaminya yang memandanginya dengan mata yang seolah-olah bertanya: masih mau bilang itu suara kucing?

"Pokoknya itu suara anjing. Itu-suara-anjing," kata si isteri sambil menekankan satu per satu kata dari kalimat terakhir.

"Kucing," si suami capek berkata-kata.

"Anjing!" kata isteri.

"Kucing!"

"Pokoknya anjing!"

"Kucing!!!"

Keduanya berdebat anjing dan kucing sampai sama-sama jengkel. Akhirnya si isteri buang muka dan tidak menjawab lagi. Mereka berjalan penuh keheningan dan kejengkelan dalam hati, di hari ulang tahun pernikahan mereka. Sesekali si suami menoleh ke arah isterinya, tapi si isteri selalu mengalihkan pandangan. Suara miau-miau itu masih terdengar sesekali. Tak selang beberapa menit, terdengar isakan tangis dan sesunggukan sang isteri. Si suami yang sejak tadi tidak bisa memperhatikan wajah isterinya baru menyadari kalau si isteri menangis.

"Maaf ya. Itu memang suara anjing. Maafkan aku, isteriku," kata si suami sambil merangkul isterinya yang tampak sekali ketakutan.

Si isteri masih sesunggukan, tapi perlahan-lahan agak memudar.

"Maafkan aku juga yang cepat sekali marah," kata si isteri.

Akhirnya mereka berjalan dengan kebahagiaan. Mereke berjalan makin mesra. Yang terpenting bukanlah persoalan apakah itu anjing atau kucing. Yang terpenting adalah mereka bisa menjalani hari itu dengan baik. Minta maaf itu bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi tentang siapa yang lebih menghargai kualitas suatu hubungan. Barangkali suara itu adalah suara anjing yang dimutasikan dengan kucing, atau kucing yang bermutasi dengan anjing.

Selasa, 23 Juni 2015

Dua Cara Marah yang Baik

Setiap orang pernah membuat kesalahan, namun keputusan tentang bagaimana cara kita marah turut menentukan kualitas hubungan ke depan. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang salah atau yang kita anggap salah, pada batas-batas tertentu, bisa jadi membuat kita marah.
Agak naif apabila mengatakan seseorang tak pernah marah dalam hidupnya. Marah merupakan proses alamiah yang sehat. Marah mengeluarkan racun. Salah satu hal penting dari marah adalah membenahi kesalahan yang terjadi, bukan memperburuk keadaan. Namun, yang selama ini menjadi titik buta seseorang adalah ketika marah menjadi alat bagi yang kuat untuk menumpahkan seluruh hal buruk kepada pihak yang diposisikan sebagai terdakwa. Untuk itulah seseorang perlu mengetahui cara marah yang baik dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Bagaimana caranya?
1.       Gunakan bahasa aku, bukan bahasa kamu.
Apa itu bahasa aku dan apa itu bahasa kamu? Ini bukan tentang teori komunikasi. Bahasa kamu adalah ketika merasa kecewa dengan perlakuan seseorang dan mengatakan hal-hal yang intisarinya kira-kira seperti ini, “Kamu membuat aku kecewa, kesal, dan sakit hati.”
Oke, underline, bold, dan italic kata ‘Kamu membuat’.
Bahasa aku adalah kalimat yang intisarinya kira-kira sebagai berikut, “Aku merasa kecewa dan kesal ketika kamu...” Di contoh ini, ulangi perlakuan underline, bold, dan italic pada padanan kata ‘Aku merasa’.
See the differences?
‘Kamu membuat’ dan ‘Aku merasa’ telah meberikan pesan yang sangat berbeda dalam komunikasi. Bahasa ‘kamu membuat’ menjadikan pihak yang dimarahi sebagai satu-satunya tersangka dalam suatu kasus. Bahasa ‘saya merasa’ mengatakan bahwa si pembicaralah yang merasa, apabila orang yang menjadi lawan bicara melakukan hal yang sama pada orang lain, belum tentu orang lain akan merasakan hal yang sama. Bahasa ini tidak menjadikan orang yang menerima pesan ditunjuk mentah-mentah sebagai terdakwa, berbeda dengan bahasa kamu.
Maka itu, penggunaan bahasa aku dan bahasa kamu perlu sangat diperhatikan.

2.       Deskripsikan secara rinci.

Jelaskan kepada rinci kepada orang yang kamu marahi tentang hal apa yang kamu harapkan tidak dia lakukan dan hal apa yang bisa kalian lakukan bersama untuk memperbaiki hubungan kalian. Ketika kamu marah, jelaskan sejelas-jelasnya apa yang ada di pikiranmu. Hindari menggunakan kata-kata umum, gunakan kata-kata detail. Penjelasan yang rinci dan jelas membantu seseorang untuk memperbaiki kualitas diri yang mereka miliki.

Sabtu, 20 Juni 2015

Pengakuan Manusia

Berhadapan dengan berbagai manusia dari belahan dunia yang cukup variatif membawa saya pada percakapan-percakapan yang layak diklipingkan menjadi sebuah cerita. Semoga Anda menangkap maksud pengakuan dari manusia-manusia di bawah ini.

Suatu hari, saya bertemu dengan orang-orang Indonesia. Di dalam makan malam yang berlangsung ceria itu, kami membicarakan artis-artis Korea yang sedang populer. Salah seorang teman saya menyeletuk kepada teman saya yang lain, "Bagaimana kamu bisa mengidolakan A? Bagaimana kamu bisa meningat wajah artis-artis Korea satu per satu? Semuanya begitu mirip, kawan."



Orang Indonesia bilang kalau orang Korea terlihat mirip.

Di hari yang berbeda pula, saya jumpai teman-teman bule saya. "Kamu keren bisa membedakan siap saja temanmu." Saya mematung seperti melongo, "Maksud kamu?" tanya saya kepadanya.

"Ya, itu, keren saja, kamu bisa membedakan wajah teman-teman kamu," tunjuknya pada dua orang teman saya yang sama-sama berkulit sawo matang dan bermata belok.



Orang barat bilang kalau orang Indonesia terlihat mirip.

Nah, hari ini, saya berbelanja ke mall dan melihat dua orang Arab memakai sorban di kepalanya. Barulah saya mengerti rumus kemiripan antar budaya:
Orang ... menganggap orang ... terlihat mirip.

Nah, kalau Anda sering melihat orang-orang dari berbagai belahan dunia, mungkin Anda bisa benar-benar mengerti maksud artikel ini. Kita akan terbiasa membedakan orang ketika kita sudah melihat ragam wajah manusia dengan ras yang sama.

Kamis, 11 Juni 2015

Psikologi Ikan

Pulau Sulawesi menyimpan pesona laut yang menakjubkan. Teman saya, seorang Jerman berkebangsaan Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menghibur pikiran di pulau yang terkenal dengan keindahan lautnya.

Sebuah percakapan berisi kesenangan saya memancing ikan, membuat percakapan kami berakhir pada pernyataannya, "You are a cruel person."

Saya tidak terima dikatakan jahat. Apa yang jahat dengan orang yang memancing untuk kesenangan? Saya ceritakan kepadanya bahwa saya biasanya memancing, tapi tidak untuk saya makan. Saya memancing, membiarkan mulut ikan menancap berdarah di mata kail, lalu meminta teman saya untuk mencabut ikan itu dan mengembalikannya ke air. Semua itu saya lakukan semata-mata untuk mendapatkan sensasi menunggu memandang air sambil ngobrol, perasaan deg-degan saat pancingan saya bergetar, rasa bermain ketika harus memutar-mutar untuk mendapatkan ikan. Kemudian lagi, pandai-pandai memformulakan pelet dan membentuknya untuk menarik minat ikan untuk memakannya.

Apa yang salah dengan hal-hal di atas? Tidak ada, bagi saya. Dan mungkin jutaan orang lainnya dengan kebiasaan yang sama.

Tapi seorang teman saya yang mengerti ikan menyadarkan saya bahwa ternyata ikan juga punya psikologi, sama seperti manusia.

"Pernahkah Anda melihat ikan tersenyum?" tanyanya dalam bahasa Inggris.

Saya menggeleng. Lalu saya diam, tapi mata saya mengisyaratkan kepadanya untuk memperjelas maksud dari pertanyaannya tentang ikan yang tersenyum. Kemudian dia melanjutkan, "Saya pernah melihatnya. Mereka begitu cantik. Mereka bermain satu sama lain. Mereka tidak seperti ikan biasa. Mereka punya kumis dan kau akan tahu bedanya karena... Ya, kau akan tahu saja, sama seperti kau tahu siapa temanmu yang sedang kasmaran.  Ada tatapan cinta dan senyum bahagia ketika kau melihat mereka bermain."

Saya terpelongo mendengarkan pernyataannya. Keren, gumam saya dalam hati. "Dan kau tahu di mana letaknya jahatmu?"

Saya menggeleng.

"Jahatmu adalah ketika kau memancing untuk kau kembalikan. Kalau kau memancing untuk kau makan, ya, itu oke. Tapi, tahukah kau, ketika kau memancing untuk kau kembalikan, sama saja kau bermain-main dengan darah ikan. Tak tahukah kau, ikan yang kau pancing itu, tidak akan lagi menjadi ikan yang sama setelah kau mengembalikannya ke air? Ia akan menjadi ikan yang trauma untuk makan. Ia akan menjadi ikan yang selalu berpikir dua kali bahkan untuk bertahan hidup. Ia akan selalu terbayang bagaimana mata kailmu melubangi mulutnya hingga terluka dan menyeretnya ke permukaan air untuk bertatap muka dengan makhluk asing besar bernama manusia. Ia akan dihantui pikiran bahwa makan itu berbahaya until the end of his life. Di saat teman-temannya yang lain bisa makan tanpa rasa takut, bisa bermain dengan rasa bahagia, di saat itulah pikirannya selalu terngian-ngiang akan manusia jahat seperti kau," katanya dengan jujur dan terbuka, sambil menatap saya dalam saat mengucapkan tatapan terakhir.

"Sama seperti manusia yang psikologinya terpengaruh karena pernah mengalami kekerasan, seperti itulah psikologi ikan terganggu ketika dipancing untuk dikembalikan lagi ke air."

Even if fishes are animal, they have feelings too, same like you.

Senin, 08 Juni 2015

Surat Jawaban

Ini adalah jawaban dari dosen Pendidikan Kewarganegaraan saya atas artikel Dosenku Pencuri. Bahasanya begitu puitis dan menyentuh, melukiskan tingkat intelegensinya, penggambaran yang elok.
_________________________________________________________________________________

Dear Renata,
Selamat malam. Semoga balasanku tidak menggangu waktu istirahatmu yang sangat berharga setelah seharian lelah belajar menjadi seorang manusia yang unik, tak ada duanya dari abad ke abad. Bukankah hal ini saja begitu menggetarkan jiwa? Betapa tak terselaminya kecerdasan sang Mahaintelijensi itu. Sengaja kutulis malam ini dengan harapan bahwa engkau akan membacanya besok, karena malam ini ingin kupersembahkan hidupku ke dalam dekapan semesta dengan sukacita dan rasa syukur karena Tuhan mengirimiku anak-anak sorgawi yang meneguhkan rasa percaya bahwa dunia ini bisa menjadi sorga yang lain.

Saya berterima kasih padamu karena telah menjadi seorang sahabat bagiku selama semester ini, dan kuyakin akan tetap demikian. Saya berdoa semoga engkau, dan tentu juga sahabat-sahabat kita yang lain, dari perjalanan ke perjalanan, dari perhentian ke perhentian, senantiasa ditemani kawan seperjalanan. Saya telah belajar menjadi kawan seperjalananmu. Saya telah sampai pada sebuah perhentian. Dengan ikhlas kuserahkan engkau pada kehidupan yang pasti akan memberimu kawan seperjalanan yang lain lagi untuk sebuah perjalanan yang lain lagi, tetapi tetap ke tujuanmu sendiri yang telah ditetapkan kehidupan bagimu. Dengan harap saya mendengar dengan telinga iman dan memandang dengan mata doa bahwa engkau tetap setia pada jalanmu. Pergilah. Lanjutkan perjalananmu. Ada yang datang ada yang pergi. Semua terjadi hanya demi satu hal: tujuan kita diciptakan. Semua dipertemukan, diperkenalkan, hanya demi tujuan kita semua diciptakan: menjadi satu keluarga semesta.

Saya meninggalkanmu di sini. Sahabat lain akan membawamu pergi, menemanimu menempuh perjalanamu. Tetapi perjalananmu adalah perjalanannya juga. Seperti halnya denganku. Perjalananmu satu semester kemarin sebenarnya perjalananku. Saya menemanimu melakukan perjalananmu, tetapi sebenarnya juga engkau menemaniku melakukan perjalananku. Saya telah belajar menjadi kawan seperjalananmu, begitu sebaliknya. Akhirnya kita belajar satu hal, hal terpenting, melebihi ilmu, nilai, gelar, ijasah, yaitu kita tidak lagi mementingkan BAGAIMANA kita berjalan, tetapi BERSAMA SIAPA kita berjalan.

Saya melepasmu di perhentian ini. Tetapi kenanganku padamu, sebagaimana juga pada sahabat-sahabat kita yang lain, menjadi doa yang menggetarkan sorga agar engkau selalu dikawani sahabat sorgawi, karena engkau layak untuk dikawani, karena engkau dari abad ke abad hingga abad ke abad hanya ada satu, tak tergantikan, sebagaimana diriku, sebagaimana sahabat kita yang lain.

Selamat Renata, sahabatku dalam perjalanan semesta. 

_____________________________________________________________________________________________

What I learn since I know Lorem Ipsum Dolor Sit Amet

I used to see a magazine as a bunch of articles. I read every single words written there. I’ve never noticed the font the magazine use. As long as it’s readable, I will read it.


But once, I am required to design a newsletter and it brings me an obligation to pay attention to every single point of it, from cover to articles to cover. I think Times New Roman doesn’t give any piece of cake for the cover of the article. I think any font doesn’t have any big matter. But, a visual communication design friend of mine, warn me of this, “I recommend you an Arial or Calibri for the cover. It’s strong, elegant, it has no tail or line upside the character. Times New Roman or Minion is suitable for the text in the article because it has tail.”

Bang. Then I notice. It truely is.

Then he asks me, “Why do you italic this word? What does this mean?”

I take a breath for a while, thinking, “Nothing, just to make it seen not really nothing,” I answered.

“Then just un-italic it. You have to have reason for every single bold, italic, or different colour you use.”

I said thank you and grab some magazines to my room. I used to spend hours to read the text. But now, since I haven’t finished my design-newsletter-task, I take the magazine to read the design. I think this is what my lecturer wants me to do.

Thanks to my lecturer and my visual communication design friend.

Now, I have a new glasses to read a magazine. The old and mainstream one to read the text, the new one to read the design.