Menonton adalah aktivitas yang menyenangkan. Bagaimana mungkin duduk manis di depan layar dan mengalihkan pikiran sejenak dari lalu lintas pikiran yang menyimpan sejuta urusan merupakan hal yang tidak dinanti-nantikan? Menonton itu seru.
Saking seringnya menonton, saya merasa bosan menonton. Bukan karena saya menonton sendirian atau menonton serial televisi, hanya saja ada hal yang berbeda jika menonton itu dilakukan bersama orang yang berbeda.
Suatu hari, saya seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi berkesempatan menonton bersama ratusan mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Saya sejenis menyusup, menyusup yang diizinkan karena ruangan bak bioskop di kampus memang disediakan terbuka untuk seluruh mahasiswa. Hari itu, film yang ditonton merupakan film hasil karya mahasiswa DKV peminatan animasi. Tiada lain yang disuguhkan di depan mata adalah film kartun.
Dari jumlah mahasiswa yang hadir ketahuan kalau kartun merupakan hiburan yang awet di segala penjuru usia. Mahasiswa animasi yang jumlahnya hanya segelintir orang, pun tidak menyangka ruang bak bioskop tersebut bisa begitu penuh, bahkan saya pun terpaksa duduk di tangga. Ada juga yang terpaksa berdiri di pintu. Ruangan tersebut benar-benar ramai untuk hitungan mahasiswa animasi yang terbilang sedikit.
Berada di antara lautan mahasiwa DKV, saya menonton dengan diselimuti atmosfer yang berbeda. Tak perlu perintah untuk tidak menimbulkan suara selama animasi diputar, suasana khidmat laksana upacara bendera seketika layar hitam diisi tulisan bercahaya. Mahasiswa desain bertepuk tanan ketika melihat bagian production dengan animasi yang keren, yang kalau saya akui scara blak-blakan, saya tidak mengerti letak kesulitannya. Kemudian muncul istilah-istilah asing ala anak animasi, "Frackingnya detail." Itu misalnya saja. Saya lupa apa katanya, intinya mereka mengomentarinya.
"Oh, ini tipe Bulgoging, alur cerita belum terbentuk."
Selama saya menonton, tidak pernah mereka tidak bertepuk tangan untuk animasi yang baru saja diputar. Seperti semuanya saling menghormati karya anak lain(Apakah ini termasuk dalam materi dalam salah satu kuliah DKV?). Walaupun kadang menurut saya, animasi itu alur ceritanya sulit ditangkap, masih saja, seluruh mahaswiswa mengapresiasi dengan tepuk tangan.
Tak jarang pula, scene yang sebenarnya tidak lucu sama sekali, namun karena ditonton beramai-ramai manjadi alat pengembang bibir pemamer gigi yang mencairkan suasana sunyi. Hari itu, ada satu suara aneh yang merusak suasana yang pada akhirnya menjadi sangat lucu. Masih saya ingat seorang anak peremuan yang tiba-tiba tertawa di taman dengan frekuensi suara yang sepertinya menumbur frekuensi burung yang sedang terbang di taman, atau si beruang yang turun melayang dari ranjang. Hal-hal seperti itu mungkin tidak terlalu lucu jika ditonton seorang diri, namun ketika ditonton beramai-ramai sambil mendengarkan suara cekikikan ratusan anak lainnya, lucu itu menjadi sangat lucu. Nilai jual kelucuannya meningkat dari di bawah kurva paragison menjadi di atas kurva paragison. (oke, ini menjurus ke alai karena paragison hanyalah fiktif belaka)
Menonton di antara orang-orang berbeda membuat saya merasa berbeda. Saya seolah mendapatkan kacamata menonton baru. Menonton animasi tidak semudah arti menonton yang seungguhnya. Mereka selalu memberikan komentar kritis hampir di setia scene yang menarik dan mengundang decak kagum. Hal-hal seperti pembentukan karakter, pewarnaan karakter, halus lembut gerakan, scene terjatuh yang agak sulit, sampai efek huruf, efek suara, alur cerita, semuanya menjadi perhatian mereka. Seolah ada teori-teori animasi ketika mereka menonton yang melayang hanya di kacamata mereka.
Semoga suguhan mata di atas tidak sekedar mengalihkan Anda sejenak dari realita hidup, melainkan juga memperluas wawasan kita semua tentang sebuah kacamata baru dalam menonton yang saat ini kebanyakan hanya dimiliki oleh mahasiswa DKV peminatan animasi. Kacamata ini bukanlah kacamata yang bisa dibeli dengan uang, melainkan dengan intensitas menonton.
Ternyata menonton kartun bagi mahasiswa animasi bukan sekedar melihat-menonton-tertawa, melainkan juga menonton-menganalisa-menilai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar