Senin, 08 Juni 2015

Surat Jawaban

Ini adalah jawaban dari dosen Pendidikan Kewarganegaraan saya atas artikel Dosenku Pencuri. Bahasanya begitu puitis dan menyentuh, melukiskan tingkat intelegensinya, penggambaran yang elok.
_________________________________________________________________________________

Dear Renata,
Selamat malam. Semoga balasanku tidak menggangu waktu istirahatmu yang sangat berharga setelah seharian lelah belajar menjadi seorang manusia yang unik, tak ada duanya dari abad ke abad. Bukankah hal ini saja begitu menggetarkan jiwa? Betapa tak terselaminya kecerdasan sang Mahaintelijensi itu. Sengaja kutulis malam ini dengan harapan bahwa engkau akan membacanya besok, karena malam ini ingin kupersembahkan hidupku ke dalam dekapan semesta dengan sukacita dan rasa syukur karena Tuhan mengirimiku anak-anak sorgawi yang meneguhkan rasa percaya bahwa dunia ini bisa menjadi sorga yang lain.

Saya berterima kasih padamu karena telah menjadi seorang sahabat bagiku selama semester ini, dan kuyakin akan tetap demikian. Saya berdoa semoga engkau, dan tentu juga sahabat-sahabat kita yang lain, dari perjalanan ke perjalanan, dari perhentian ke perhentian, senantiasa ditemani kawan seperjalanan. Saya telah belajar menjadi kawan seperjalananmu. Saya telah sampai pada sebuah perhentian. Dengan ikhlas kuserahkan engkau pada kehidupan yang pasti akan memberimu kawan seperjalanan yang lain lagi untuk sebuah perjalanan yang lain lagi, tetapi tetap ke tujuanmu sendiri yang telah ditetapkan kehidupan bagimu. Dengan harap saya mendengar dengan telinga iman dan memandang dengan mata doa bahwa engkau tetap setia pada jalanmu. Pergilah. Lanjutkan perjalananmu. Ada yang datang ada yang pergi. Semua terjadi hanya demi satu hal: tujuan kita diciptakan. Semua dipertemukan, diperkenalkan, hanya demi tujuan kita semua diciptakan: menjadi satu keluarga semesta.

Saya meninggalkanmu di sini. Sahabat lain akan membawamu pergi, menemanimu menempuh perjalanamu. Tetapi perjalananmu adalah perjalanannya juga. Seperti halnya denganku. Perjalananmu satu semester kemarin sebenarnya perjalananku. Saya menemanimu melakukan perjalananmu, tetapi sebenarnya juga engkau menemaniku melakukan perjalananku. Saya telah belajar menjadi kawan seperjalananmu, begitu sebaliknya. Akhirnya kita belajar satu hal, hal terpenting, melebihi ilmu, nilai, gelar, ijasah, yaitu kita tidak lagi mementingkan BAGAIMANA kita berjalan, tetapi BERSAMA SIAPA kita berjalan.

Saya melepasmu di perhentian ini. Tetapi kenanganku padamu, sebagaimana juga pada sahabat-sahabat kita yang lain, menjadi doa yang menggetarkan sorga agar engkau selalu dikawani sahabat sorgawi, karena engkau layak untuk dikawani, karena engkau dari abad ke abad hingga abad ke abad hanya ada satu, tak tergantikan, sebagaimana diriku, sebagaimana sahabat kita yang lain.

Selamat Renata, sahabatku dalam perjalanan semesta. 

_____________________________________________________________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar