Saya
mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Saya mencintai kampus saya,
alamamater saya. Tulisan yang Anda baca, judul di atas, benar adanya.
Let
me tell you something, a secret.
Ada
berbagai mata kuliah yang harus saya ambil, semuanya menyenangkan. Entah karena
saya memang mencintai jurusan ilmu komunikasi, atau karena dosennya pencuri,
atau pilihan A dan B keduanya benar? Oke, kalau begitu, jawabannya C, pilihan A
dan B benar.
Dosen-dosen
saya di UMN, menurut saya, semuanya pencuri. Bukan pencuri seperti Swiper
pada Dora the Explorer. Mereka jauh lebih jagoan dari itu. Mereka jauh
lebih keren dan berpengalaman. Tapi pada tulisan ini, saya ingin memfokuskan
pada satu orang saja, yakni dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan saya,
Bapak Edisius Riyadi Terre.
Tulisan
ini bukanlah tugas mata kuliah saya atau cara saya melobi dosen untuk
mendongkrak nilai. Tidak, bukan. Tulisan ini semata-mata sebagai cara saya
menyampaikan apa yang selama ini saya pikirkan dan mungkin hampir seluruh
mahasiswa didikan Bapak Edisius pikirkan.
Baiklah,
the story starts here.
Mata
kuliah umum hampir selalu menjadi mata kuliah yang mendapat nilai ketertarikan
terendah bagi seluruh mahasiswa. Memang, saya belum melakukan survei resmi
tentang ini, tetapi 9 dari 10 koresponden menyatakan demikian adanya. Saya
sendiri, sewaktu mendapatkan kabar bahwa di semester kedua akan ada mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan, juga sudah mengernyitkan dahi dan mulai bergumam,
mengenang masa SD sampai SMA yang saya habiskan dengan menguap-nguap ngantuk
sampai menitikkan air mata sewaktu mengikuti mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan.
Dan
demi Planet Neptunus, bekal pendidikan sedari dua belas tahun yang lalu, yang
diulang secara sama setiap tahun, mungkin dengan tambahan dan polesan sedikit
di sana sini, harus kembali diulang sewaktu kuliah, yang jelas-jelas sudah
diatur berdasarkan jurusan? Ada rasa malas di sana. Tapi berhubung akan
dijalani dengan puluhan teman lain, mungkin rasa malas itu agaknya terasa
dibagi 39 bagian.
Masih
teringat jelas di bayangan saya, bagaimana “konferensi” singkat dengan
teman-teman tentang pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Kami akan
tertawa-tawa mengenang guru pendidikan kewarganegaraan yang rata-rata
berkacamata dengan suara yang berat yang sangat mendukung untuk membelai
pelajar ke alam mimpi. Intinya, pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang saya
jalani selama 12 tahun, bisa jadi membawa saya pada masa-masa ngantuk. Mungkin
dari ratusan pertemuan dengan aneka guru, hanya beberapa pertemuan saya saya
benar-benar mencurahkan perhatian secara all-out.
Tapi, ada yang berbeda dengan sosok yang beberapa bulan lalu berdiri di hadapan saya dan teman-teman dan memperkenalkan diri. Beliau mengajar, mendidik, tetapi tidak membuat saya merasa seperti diajar. Or, I would like to conclude it like this: "Everytime I open my ears to the words he says, I know I learn something, but I don't feel like studying. And it's a lovely taste of learning."
Beliau menepati janjinya. Beliau mengatakan bahwa Beliau ingin menjadi teman belajar bagi saya dan bagi teman-teman saya. Dan benar, Beliau melakukannya. Beliau memberi ilmu dengan segenap hatinya. I can see his blaze. Ada cakrawala baru yang terkuak di kala Beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan. Dan saya suka setiap pertanyaannya yang menggelitik. Berikut ini beberapa pertanyaan Beliau yang membawa pikiran saya dan mahasiswa lain berjelajah jauh: perbedaan antara ekonomi politik dan politik ekonomi, perbedaan antara seks dan gender, perbedaan ketika membayangkan negara Indonesia sebagai daratan yang dikelilingi lautan ataukah lautan yang di dalamnya terdapat beberapa pulau/daratan. Poin-poin yang saya sebutkan barusan hanya seutas kecil cerita dari pelajaran seru yang Beliau ajak untuk eksplorasi.
Beliau selalu sukses membawa suasana belajar di kelas menjadi suasana yang kondusif. Beliau tahu kapan saatnya memberikan pernyataan dan pertanyaan. Bagi saya, Beliau telah menepati pepatah terkenal ciptaan tokoh pergerakan nasional dalam bidang pendidikan, Ki Hadjar Dewantara; ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
Mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan merupakan hidangan penutup yang sangat memesona. Bapak Edisius telah sangat berhasil menjadikan saya warga negara Indonesia yang paham nilai-nilai kewarganegaraan. Namun, saya percaya, pendidikan kewarganegaraan yang sesungguhnya tidak berhenti sampai di sini, masih ada banyak hal yang harus saya dan jutaan masyarakat Indonesia lainnya lakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih baik lagi.
Nah, lihat, bagaimana dosen saya satu ini berhasil mencuri waktu saya untuk menulis artikel ini? Lagi-lagi, dosenku pencuri.
Yang Anda baca barusan ini, baru seperseribu aktivitas menyenangkan Ilmu Komunikasi di UMN, masih ada segudang lagi. Namun yang menjadi menarik adalah, kehadiran dosen-dosen pencuri perhatian seperti Bapak Edi.
Salam kewarganegaraan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar