Selasa, 14 April 2015

Kreativitas

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, salah satu anugerah paling luar biasa yang kita miliki adalah anugerah untuk menciptakan. Perhatikan anak-anak kecil di sekitar Anda. Berikan mereka seperangkat pensil warna, mainan blok, mainan lego, sebongkah clay, lidi-lidi kecil, apapun yang bisa Anda beri, dan mereka akan menyusun, membentuk, memoles, menciptakan sesuatu yang baru. Dan bukan hanya benda yang mereka ciptakan, melainkan juga cerita dan petualangan. Dan jangan lupa perhatikan gerak mulut dan ekspresi mereka ketika mereka menceritakannya dengan semangat yang membara-bara dari api yang bersinar keluar dari mata mereka. Imajinasi anak-anak, menurut saya, sungguh “liar”.

Saya juga sempat menjadi anak-anak dan itu merupakan salah satu masa paling imajinatif yang bisa saya bayangkan. Tembok di rumah adalah kanvas sejati. Kalau bukan ibu saya yang melindungi keputihan dinding rumah dari coretan jahil saya, mungkin dinding rumah kami sekarang akan penuh dengan warna-warni spidol, pensil warna, dan mungkin krayon. Dan tak perlu lebih dari lima detik bagi saya untuk menyadari betapa saya adalah seorang pelukis amatir dengan level di bawah nol. Kembali saya buka catatan masa kecil saya, hampir di setiap lembar dari buku catatan saya, saya temukan garis-garis dan gambar-gambar yang seharusnya tidak berada di sana. Dan saya percaya, tidak sedikit dari Anda yang juga melakukannya. Ayo ngaku?

Betapa masa kanak-kanak diisi oleh goresan-goresan tak jelas, coretan-coretan yang mungkin tak berarti, gambar-gambar lucu yang terkadang bagus juga kalau dilihat, tulisan cepat sampai-sampai hampir tak terbaca, arsiran uang 500 rupiah dengan gambar Pancasila, lukisan wajah guru, bentuk kelas, tulisan curahan hati tentang betapa bahagianya hari itu, apapun, segalanya, kreativitas, bisa ditumpahkan di bagian atas dari buku.

Intinya, setiap space putih kosong di buku adalah lahan yang menyegarkan untuk memulai kreativitas baru. Dan sama seperti mie ayam bakso gratis di kala hujan lebat, itu akan selalu terlihat lezat.

Dan walaupun jurusan perkuliahan saya bukanlah seni, saya memiliki buku gambar sendiri. Yang jelas bukan buku gambar A3 yang harus diberi garis tepi 2cm dengan kotak kecil di pojokan bertuliskan nama dan NIM. Di sana, saya menuangkan segala pikiran saya. Entah itu cerita bahagia atau pelajaran berharga. Terkadang saya menggambar ringkas untuk memperkuat penjelasan suatu cerita. Dan selalu ada kerinduan tersendiri untuk kembali membuka buku ambar itu dan melihat cerita yang tertuang di sana. Tak jarang saya tersenyum melihat betapa bijak saya saat itu.

Saya sangat percaya, keinginan untuk menciptakan telah ada di setiap dari kita. Kalau kita memperhatikan sekitar, selain objek-objek alami yang telah ada dari alam, hampir segala sesuatunya adalah hasil dari buah pemikiran dan kreativitas manusia. Sebut saja komputer Anda, kursi, meja, HP, buku, tas, lemari, apapun dan mungkin semuanya, adalah hasil dari daya pikir dan daya cipta manusia. Itulah yang membedakan manusia dari spesies hewan apapun di muka bumi, kemampuan untuk menciptakan dan melahirkan sesuatu yang baru.

Sebaliknya, nilai kebahagiaan kita berkurang ketika kita tidak bisa mengekspresikan diri kita secara bebas dan kreatif. Kita bisa saja menjadi sukses dalam pekerjaan kita dan mampu membeli benda yang kita butuhkan dan inginkan. Tetapi jika hal itu memendam kebebasan kita untuk menjadi pribadi yang kreaif, sepertinya bekerja seperti robot, melakukan hal yang sama setiap hari setiap saat, hal yang paling mungkin terjadi adalah hidup kita menjadi membosankan dan tidak menarik.

Tentu saja, tidak semua hal dalam hidup dan pekerjaan mengizinkan kita untuk mengeksplorasi dan menyatakan kreativitas kita. Tidak semua dari kita bekerja pada imdustri kreatif. Tidak semua dari kita bahkan tertarik pada seni atau pekerjaan yang melibatkan seni, apalagi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap desain dan bagaimana suatu karya tercipta. Beberapa dari kita cukup cerdas untuk bertahan dengan kertas kerja atau pekerjaan mengelola sesuatu atau seseorang.

Walaupun demikian, kita menemukan diri kita berada pada zona paling bahagia dan puas ketika kita bisa menciptakan hal baru, yang sederhana namun mudah dipahami dan bermanfaat. Mungkin itu secarik puisi, sebuah cerpen, video singkat tentang tutorial melakukan sesuatu, sebait senandung, sebuah gambar, benda palsu mainan, gelang manik-manik kecil, sebuah susunan mainan robot, rumah-rumahan, rel kereta api mainan, pesawat kecil, nugget rumahan, sepiring pasta lezat, bolu manis, segelas minuman menggoda, sweater jahitan tangan sendiri, kerajinan tangan, tanaman hias rawatan sendiri, hewan peliharaan, atau segala sesuatu apapun itu yang kita nikmati untuk lakukan di waktu senggang kita.

Kebahagiaan dan kepuasan saat memanggang kue yang lezat atau makanan bagi keluarga dan teman dapat menghilangkan kepenatan setelah seharian otak kita diminta untuk menunjukkan “taringnya”. Ada sebuah pencapaian ketika kita melihat hasilnya dan kepuasan itu tidak akan tergantikan oleh sesuatu apapun di dunia. Rasa bangga itu ada karena itu adalah bentuk pengekspresian diri. Ada kebanggaan ketika kita bisa menciptakan sesuatu dari yang bukan sesuatu.


Maka itu, selalu sediakan waktu untuk menuangkan kreativitas Anda dalam bentuk apapun. Otak kita menghargai stimulus yang diberikan dan jiwa kita pantas menunjukkan cara mengekspresikan diri. Karena kreativitas, baik itu dalam bidang seni, musik, sastra dan hobi seperti memasak, memancing, kerajinan tangan, berkebun, membuat patung, dan segala sesuatu yang melibatkan tangan untuk bekerja, adalah bahasa nyata bagi jiwa untuk bersuara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar