Senin, 04 Mei 2015

Seni dari Makan

Bahkan bukan hanya mendengarkan yang memiliki seni. Makan pun juga memiliki seni. Bukan tentang cara duduknya atau cara menyendokkan sesuatu ke mulut, bukan.


Semakin banyaknya rumah makan dan warung jajanan kecil di luar sana, dengan jumlah makanan yang tak terkira banyaknya dan kreasi yang kreatif membludak, bukan menjadi tugas yang sulit untuk memuaskan hasrat daging kita untuk makan.

One of the greatest luxuries of eating of mine is to be able to stop thinking about anything. The world is just belong to me and the thing in my mouth.


Selama makanan itu terlihat baik dan tidak beracun, kenapa tidak? Seperti halnya segala sesuatu yang dikemas dalam kaleng, kotak, plastik, alumunium, dsb, yang sering dijual di supermarket, yang menjadi santapan orang-orang sepanjang yang mereka inginkan.

Dulu, saya juga berpikir demikian. Hubungan saya dengan makanan berhenti seketika makanan itu berada di mulut saya. Makan adalah sesuatu lumrah yang dibutuhkan setiap insan. Yang diperlukan hanyalah menempatkannya di dalam mulut dan membiarkan tubuh dengan saluran pencernaannya mengemban tugas mereka. Kita tidak membutuhkan kursus spesial untuk makan.

Permasalahannya sekarang adalah, banyak dari makanan yang tersedia saat ini sudah berada pada fase sangat jauh dari kata alami dan sehat. Makanan sekarang ini telah melalui sekelibat proses panjang dengan banyak tahap, yang menjadikanya mungkin menarik secara visual, tetapi kehilangan esensi manfaatnya sebagai makanan. Mungkin tidak akan berbahaya apabila dikonsumsi sekali waktu, tapi apabila sering dikonsumsi, akan berdampak tidak baik bagi tubuh kita.


Berangkat dari lantunan Sugarnya Adam Levine, saya merasa tertantang untuk tidak makan gula selama tiga hari. Waktu yang singkat memang, tapi cukup menyiksa bagi seorang penyuka manis seperti saya. Teh saya menjadi pahit, sarapan gandum saya terasa tawar. Sangat tidak enak menghabiskan hari tanpa gula. Untuk apa saya melakukan hal ini?


Sebuah buku memberitahu saya tentang proses yang dilalui tebu untuk menjadi gula. Gula ternyata jahat, atau setidaknya, prosesnya lah yang menjadikannya cukup jahat di mata saya.

Tahukah Anda? Kecanduan manusia akan gula ikut mengambil bagian dalam penyebab kelaparan, pemerasan tenaga buruh, dan pemusnahan atas wilayah yang cukup besar yang dimiliki penduduk asli yang dibersihkan dalam rangka penanaman tebu oleh perusahaan penjajah profit?

Gula adalah akar dari banyak permasalahan dan bencana, yang mungkin banyak tidak diketahui oleh manusia, mulai dari kerusakan gigi yang ditumbulkannya sampai pada diabetes dan obesitas. Saya cukup kaget mengetahui cerita menyedihkan dibalik kristal putih mungil yang hampir selalu berhasil merangsang pikiran saya yang lelah. Ternyata makhluk manis ini punya terrible story di baliknya.

Berangkat dari hal itu juga, guru saya dulu juga mengajarkan untuk memperhatikan kandungan-kandungan yang terdapat dalam label makanan. Setiap kotak, kaleng, botol, pembungkus timah, plastik, apapun yang dijajakan di rak-rak di supermarket, semuanya memiliki label. Saya mengetahuinya. Hanya saja, saya tidak pernah memeperhatikannya.

Tahukah Anda, bagaimana seguci kecil mayonais, selai kacang atau sebungkus cemilan kentang, punya banyak sekali bahan penyusun?

Dan, nama-namanya dan persenan kandungannya, punya segudang misteri bagi saya. Hal-hal itu antara lain, pewarna makanan, zat aditif, pengawet, sampai pada aneka perisa makanan yang membuat makanan itu terlihat menarik dan tahan lama.

Semakin panjang daftar penyusunnya, semakin buatanlah makanan itu dan semakin sedikit kandungan nutrisi yang terdapat di dalamnya. Boleh saja makanan itu terlihat menarik dan terasa nikmat, tetapi makanan itu tidak begitu sehat.

Belajar untuk menyadari setiap hal yang saya konsumsi bukan hanya mengubah kebiasaan makan saya, menggantinya dengan masak bahan makanan segar kapanpun saya sempat, tetapi juga meningkatkan kesadaran saya tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar