Kamis, 11 Juni 2015

Psikologi Ikan

Pulau Sulawesi menyimpan pesona laut yang menakjubkan. Teman saya, seorang Jerman berkebangsaan Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menghibur pikiran di pulau yang terkenal dengan keindahan lautnya.

Sebuah percakapan berisi kesenangan saya memancing ikan, membuat percakapan kami berakhir pada pernyataannya, "You are a cruel person."

Saya tidak terima dikatakan jahat. Apa yang jahat dengan orang yang memancing untuk kesenangan? Saya ceritakan kepadanya bahwa saya biasanya memancing, tapi tidak untuk saya makan. Saya memancing, membiarkan mulut ikan menancap berdarah di mata kail, lalu meminta teman saya untuk mencabut ikan itu dan mengembalikannya ke air. Semua itu saya lakukan semata-mata untuk mendapatkan sensasi menunggu memandang air sambil ngobrol, perasaan deg-degan saat pancingan saya bergetar, rasa bermain ketika harus memutar-mutar untuk mendapatkan ikan. Kemudian lagi, pandai-pandai memformulakan pelet dan membentuknya untuk menarik minat ikan untuk memakannya.

Apa yang salah dengan hal-hal di atas? Tidak ada, bagi saya. Dan mungkin jutaan orang lainnya dengan kebiasaan yang sama.

Tapi seorang teman saya yang mengerti ikan menyadarkan saya bahwa ternyata ikan juga punya psikologi, sama seperti manusia.

"Pernahkah Anda melihat ikan tersenyum?" tanyanya dalam bahasa Inggris.

Saya menggeleng. Lalu saya diam, tapi mata saya mengisyaratkan kepadanya untuk memperjelas maksud dari pertanyaannya tentang ikan yang tersenyum. Kemudian dia melanjutkan, "Saya pernah melihatnya. Mereka begitu cantik. Mereka bermain satu sama lain. Mereka tidak seperti ikan biasa. Mereka punya kumis dan kau akan tahu bedanya karena... Ya, kau akan tahu saja, sama seperti kau tahu siapa temanmu yang sedang kasmaran.  Ada tatapan cinta dan senyum bahagia ketika kau melihat mereka bermain."

Saya terpelongo mendengarkan pernyataannya. Keren, gumam saya dalam hati. "Dan kau tahu di mana letaknya jahatmu?"

Saya menggeleng.

"Jahatmu adalah ketika kau memancing untuk kau kembalikan. Kalau kau memancing untuk kau makan, ya, itu oke. Tapi, tahukah kau, ketika kau memancing untuk kau kembalikan, sama saja kau bermain-main dengan darah ikan. Tak tahukah kau, ikan yang kau pancing itu, tidak akan lagi menjadi ikan yang sama setelah kau mengembalikannya ke air? Ia akan menjadi ikan yang trauma untuk makan. Ia akan menjadi ikan yang selalu berpikir dua kali bahkan untuk bertahan hidup. Ia akan selalu terbayang bagaimana mata kailmu melubangi mulutnya hingga terluka dan menyeretnya ke permukaan air untuk bertatap muka dengan makhluk asing besar bernama manusia. Ia akan dihantui pikiran bahwa makan itu berbahaya until the end of his life. Di saat teman-temannya yang lain bisa makan tanpa rasa takut, bisa bermain dengan rasa bahagia, di saat itulah pikirannya selalu terngian-ngiang akan manusia jahat seperti kau," katanya dengan jujur dan terbuka, sambil menatap saya dalam saat mengucapkan tatapan terakhir.

"Sama seperti manusia yang psikologinya terpengaruh karena pernah mengalami kekerasan, seperti itulah psikologi ikan terganggu ketika dipancing untuk dikembalikan lagi ke air."

Even if fishes are animal, they have feelings too, same like you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar