Minggu, 28 Juni 2015

Nge-Date By Accident

Nge-date by accident?
Kalau married by accident sudah biasa, itu mainstream. Maka itu, kali ini saya akan berbagi cerita saya tentang nge-date by accident.

Sebagai foreword, barangkali kalimat berikut bisa menghibur para jomblo, bahwa nge-date ternyata tidak selamanya milik mereka yang sudah pacaran. Mereka yang single-single seperti saya bisa kok merasakan nge-date by accident.



Biar saya tebak, jangan-jangan Anda sudah stereotype bahwa ngedate by accident di sini jangan-jangan adalah ditinggal berdua dengan lawan jenis saat acara makan atau something-like-that yang mulanya beramai-ramai? Oke, itu termasuk nge-date by accident, tapi itu sudah -- sangat -- biasa. Pengalaman nge-date by accident saya baru-baru ini go out of the red.

Saya tidak mengerti dengan apa yang terjadi di lingkungan Serpong, atau barangkali hanya kampus saya saja, Universitas Multimedia Nusantara. Di daerah tempat saya merantau, ada banyak sekali orang dari negara yang kimchi dan bulgoginya terkenal, alias orang Korea. Suatu hari, karena seorang teman saya adalah guru bahasa Korea, saya berkesempatan mengadakan coffee time di salah satu mall di daerah Serpong, berkenalan dengan belasan mahasiswa Korea yang melakukan pertukaran ke Indonesia.



Di hari itu, saya berkenalan dengan banyak beberapa perempuan cantik dan laki-laki ganteng. Saya tidak tahu apakah mereka operasi plastik atau tidak, yang saya tahu, mereka itu cantik dan ganteng. Saya berkomunikasi dengan mereka dengan bahasa tubuh, mengigat saya tidak bisa berbahasa Korea dan kemampuan bahasa Indonesia mereka masih sangat sedikit. Dari berkenalan itu, saya berkenalan dengan seseorang yang saya panggil Yoga Oppa. Yoga adalah namanya versi bahasa Indonesia, sedangkan Oppa adalah sapaan untuk laki-laki yang lebih tua. Namanya yang sederhana begitu mudah diingat, ditambah yoga merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang dipakai untuk mendifinisikan salah satu jenis olahraga dengan cara bermeditasi.

Di hari itu, kami tidak berbicara banyak karena keterbatasan bahasa. Yang jelas saya ingat rupa wajah mereka dan siapa nama mereka. Namun ada satu keanehan setelah hari itu berlalu, saya selalu berjumpa dengan Yoga Oppa secara tidak disengaja. Daerah perjumpaan kami terbilang dalam radius yang kecil, paling-paling seputar kampus, apartemen, atau mall; kurang lebih radius terjauh adalah 2.5 km, bukan radius yang jauh-jauh amat.

Baru-baru ini, di sebuah Sabtu sore,lagi-lagi saya bertemu dengannya, untuk ke sekian kalinya dari satu per ratusan juta mungkin milyar (pertimbangkan probabilitas waktu, jarak, dan jumlah manusia). Yang berbeda dari pertemuan sore itu adalah, kami berjalan pulang bersama, namun pada jarak yang lumayan jauh dari tempat perhentian shuttle. Hari itu sangat kebetulan. Berhubung saya sering melalui jalan itu, saya agak heran mengapa dia memilih jalur yang panjang. Saya pikir dia tidak tahu bahwa di dalam mall ada jalan yang bisa dilalui agar perjalanan menuju apartemen bisa lebih singkat. Saya berniat memberitahu dia supaya lain kali dia bisa pulang ke apartemen lebih cepat. Kendala bahasa menjadi halangan kami berkomunikasi.

Bayangkan, bagaimana cara menjelaskan "Jalan ini panjang, ada jalan yang lebih singkat." dengan bahasa tubuh. Komunikasi kami berlangsung dengan awkward, lucu sekaligus menyentuh di beberapa detik. Kala itu saya mengetikkan kata road di kamusnya, kemudian kamus itu menejemahkan menjadi jalan.  Tahu, apa yang terjadi kemudian? Kami jalan berdua, ya itu tadi nge-date. Dia kira saya mengajak dia, saya kira dia mengajak saya. Sampai artikel ini ditulis saya masih tidak tahu siapa yang mengajak siapa. Yang saya tahu, dia orang yang menyenangkan.

Sampai hari ini, saya bertanya-tanya dalam hati. Barangkali jalan yang dimaksudnya bukan jalan yang saya maksud. Jalan dalam artian saya adalah misalnya Jalan Thamrin, Jalan Jenderal Sudriman, jalan seperti itu yang saya maksud. Jalan dalam artian langkah yang terbentang untuk dilalui. Jalan dalam pengertian dia mungkin pergi jalan, pergi bersenang-senang, antara kami berdua - laki-laki dan perempuan.

Karena itulah, saya berniat untuk memperdalam bahasa Korea. Bukan karena saya tidak suka nge-date by accident(itu sih seneng,hahaha), tapi karena saya takut suatu hari terjadi kesalahpahaman, entah dengan dia atau orang Korea lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar