Kamis, 30 Juli 2015

A Bowl of Porridge for Sibling

Having sibling in your life is like having the one who see you when you are eight, eighteen, fifty eight; all at once.

Having sibling in your life is like having the one you argue with for hours and find you both smile for each other hours later.

Having sibling is not just about having the one who share the same roof with you, it’s about having the one who also share the same mother and father and you both have your same testimonial about them; about the way they angry or the way they eat or the way they watch movies, the sound the produce when they’re walking downstairs or a lot of simple unpresumable habit.


Having sibling is like having another father or another mother with different ages.

Having sibling is like having the one to slander on whenever household chores you do seems wrong.

Having sibling is like having the one to snatch your spoon of noodles away from you, or your sushi, or your delicious hamburger, or even your little sweet pudding. And there is always a sensation of eating in vigilance because of their quick agile movement.

Why is this named a bowl of porridge? A bowl of chicken soup is too mainstream and it takes other's brand. A bowl of cream soup is also soup too. A bowl of porridge is cute, I think. I have a nightmare about this. Porridge is like a national breakfast in my family and I gonna make porridge be my-family thing. It's like I always waking up in the morning whether I gonna swallow all the porridge up to my stomach and torture(?) my poor tongue.

Kamis, 23 Juli 2015

Rich Dad, Poor Dad


Pendahuluan
Sebuah buku dengan judul yang sensasional berhasil membangkitkan gairah membaca saya yang mungkin telah hilang selama berbulan-bulan.
Membangkitkan? Barangkali bukan itu kata yang tepat. Buku Rich Dad, Poor Dad telah menciptakan rasa cinta saya pada buku beraroma finansial; dengan bumbu akuntansi, aset, neraca, liabilasi, dan kata-kata lain berkoherensi dengan itu.

Catatan Penulis
Saya tidak dibayar sepeserpun untuk menuliskan pujian terhadap buku ini.

Isi
Apakah sekolah menyiapkan generasi muda untuk mengahadapi dunia yang riil?
Apakah meraih nilai tertinggi di kelas dan mendapatkan peringkat tertinggi di kelas bisa menjamin seseorang mendapatkan masa depan yang cerah?

"Belajarlah yang rajin, raihlah nilai yang tinggi, carilah pekerjaan yang aman dan terjamin."
Nasihat semacam itu barangkali akan bekerja di era 1945, namun sudah kadaluwarsa untuk diterapkan sekarang.

Buku Rich Dad, Poor Dad karangan Robert T. Kiyosaki menuliskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas secara lugas dan menawan, mengulas paradigma Robert yang memiliki dua ayah yang berbeda, memiliki cara pandang yang berbeda tentang uang, bahkan tak jarang bertolak belakang.

Ayahnya yang terdidik mendorong Robert untuk menjadi orang yang pandai dan cerdik.
Ayahnya yang kaya mendorong Robert untuk mengetahui bagaimana memperkerjakan orang yang pandai dan cerdik.
See the differences?

Lagi.

Salah seorang ayahnya mengatakan, "Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan."
Pada saat yang sama, ayahnya yang lain mengatakan, "Kekurangan akan uang adalah akar segala kejahatan."
Well, both are true, I admit it.

Buku ini mengupas bagaimana dalam kehidupan, orang-orang terjerat dalam kehidupan "Perlombaan Tikus"
Berikut ini adalah pernjelasan Robert mengenai "Perlombaan Tikus":
"Jika Anda melihat kehidupan orang-orang yang pendidikannya sedang-sedang saja dan bekerja keras, ada jalan yang serupa. Anda dilahirkan dan pergi ke sekolah. Orangtua bangga dan senang karena anaknya unggul, memperoleh nilai baik dan jujur, dan diterima di sebuah universitas bergengsi. Anak itu lulus, dan mungkin melanjutkan ke program pasca-sarjana, dan kemudian melakukan persis seperti yang telah diprogramkan: mencari sebuah pekerjaan yang aman dan terjamin. Si anak mendapatkan pekerjaan itu, mungkin sebagai dokter atau pengacara, atau bergabung dengan Angkatan Bersenjata atau menjadi pegawai negeri. Biasanya si anak mulai menghasilkan uang, kartu kredit mulai dikoleksi, dan belanja pun dimulai.

Karena sudah mempunyai uang untuk dibelanjakan ,sang anak pergi ke tempat-tempat di mana anak-anak muda lainnya senang berkumpul, dan mereka bertemu banyak orang, mereka berkencan, dan kadang-kadang mereka menikah. Saat ini aktivitas hidup telah berubah sangat banyak, karena sekarang, baik pria(suami) maupun wanita (istri) bekerja. Dua penghasilan dalam keluarga tentu menggembirakan. Mereka merasa berhasil, masa depan mereka cerah, dan mereka memutuskan untuk membeli rumah, mobil, televisi, berlibur, dan mempunyai anak. Segumpal kegembiraan tiba. Permintaan uang tunai sangat besar. Pasangan itu memutuskan bahwa karier mereka sangat penting dan mereka bekerja keras untuk itu, mencari promosi dan kenaikan(gaji maupun jabatan). Kenaikan-kenaikan pun datang, dan mereka juga mempunyai seorang anak lagi sehingga membutuhkan rumah yang lebih besar.

Mereka bekerja lebih keras, menjadi karyawan yang baik, bahkan lebih berdedikasi. Mereka bersekolah kembali untuk memperoleh keterampilan yang lebih terspesialisasi dengan harapan bisa menghasilkan uang lebih banyak. Mungkin mereka mencari kerja tambahan atau sambilan. Penghasilan mereka pun naik, tetapi pajak-pajak yang harus mereka bayar pun semakin bertambah: pajak atas rumah baru yang lebih besar, pajak kendaraan, dan pajak-pajak lainnya. Mereka memperoleh cek gaji yang besar dan bertanya-tanya ke mana larinya seluruh uang itu. Mereka membeli beberapa reksa dana dan membeli kebutuhan rumah tangga dengan kartu kredit. Kebutuhan anak-anak mereka dan kebutuhan pendidikan mereka juga mereka perhatikan, begitu pula dengan kebutungan menabung untuk hari tua (masa pensiun) mereka.

Pasangan bahagia itu, yang lahir 35 tahun yang lalu, sekarang terperangkap dalam perlombaan tikus selama sisa-sisa hari kerja mereka. Mereka bekerja untuk para pemilik perusahaan mereka, atau untuk pemerintah, untuk membayar pajak, hipotek bank, dan tagihan kartu-kartu kredit.

Bagian mirisnya adalah, mereka menasihati anak-anak mereka sendiri untuk 'rajin belajar, memperoleh rangking yang baik, dan mendapatkan pekerjaan atau karir yang aman dan terjamin'. Mereka tidak belajar apa pun tentang uang, kecuali dari mereka yang mendapat keuntungan dan kenaifan mereka, dan bekerja keras sepanjang hidup mereka. Proses itu terulang dalam generasi berikutnya yang bekerja keras. Ini adalah "Perlombaan Tikus"."

Nah, kalau sekarang Anda menyadari bahwa Anda sedang berada dalam perlombaan ini atau hampir menjerumuskan diri Anda ke dalam perlombaan ini dan membutuhkan jawaban untuk menghindari perlombaan ini, buku setebal 238 halaman ini menyediakan jawabannya bagi Anda.

Selasa, 21 Juli 2015

What Straying is For

In the seventh century, a firm sailor lifted his sails up and crossed over seas. His aim was a fertile soil far away from the land he lived at, exploring the world in order to satisfy his tastes of curiosity.

After being rejected by King of Portuguese and England at that time, this man finally got the faith from Queen of Spain. For days of sailing, exploring ocean for months, he eventually reached a land.

"India!" he shouted to all of his crews. "We have landed in India."

You'll probably be able to guess who I am talking about. Yes, he is Christopher Colombus. Instead of landing in India as what have been expected by Isabel Queen who sponsored his trip mission (to strengthen Spain position in the spices trade which was needed by Europe and was ruptured by crusade), Columbus precisely landed in a continent which is later named America.

This is no doubt is out of his expectation. He himself has never put his two legs in India; however, he got lost in another continent. Then, he came back to Spain, fronted the queen and was scoffed by the other colonizers who took different routes to the west coast of Africa straight forward to south until he reached Tanjung Harapan. They're obviously in the closer position to the authentic India.

Nevertheless, instead of being penalized because of straying, Colombus precisely got appreciation by Ferdinand King and Isabel Queen.

Nay, we know him as the discoverer of America continent these days. It is when he was scoffed he philosophized, "If I had never been wanted to be strayed, you would never have found the new way."

Minggu, 19 Juli 2015

11 Hal yang Dialami Mahasiswa Perantau

Hai maba...
Halo mahasiswa...

Sebelumnya, izinkan saya mengucapkan selamat atas hari Anda menjadi mahasiswa, Anda disebut maha karena kesiswaan Anda. Semoga dengan kenyataan itu, Anda bisa me-maha-kan dan me-maha-mi bidang yang telah Anda pilih untuk sunting selama 4 tahun ke depan dan Anda lanjutkan belajar secara otodidak selama sisa hidup Anda.

Berangkat dari pengalaman saya selama satu tahun menjadi mahasiswa perantau, saya yakin beberapa hal di bawah ini paling tidak akan menghiasi hari-hari Anda:
1. Anda akan jauh dari rumah, beradaptasi dengan lingkungan baru bisa jadi merupakan hal yang tidak mudah.

2. Ada rasa yang benar-benar baru, seperti asing. Kehadiran teman-teman kuliah membuat Anda merasa Anda tidak menjalaninya seorang diri.

3. Media sosial teman-teman lama, sekedar memberikan like ke sebuah foto, atau sekali-kali mengirimkan foto atau obrolan basa-basi ke multichat bersama teman-teman SMA menjadi salah satu bentuk bahwa Anda masih dan akan selalu mengingat mereka.

4. Ada masa-masa di saat Anda sangat merindukan rumah Anda dan benar-benar ingin pulang, Percakapan selama satu dua menit bersama mama atau papa menjadi percakapan yang mengurai senyum.

5. Orang tua tertentu kadang akan rajin menelepon atau berkirim pesan, sekedar menanyakan sudah makan atau belum, sedang bersama siapa dan pulang pukul berapa. (loh kok jadi kayak Yolanda?)
6. Makanan kampung halaman Anda, terutama masakan mama, menjadi sangat dirindukan. Pada tahap yang sangat buruk, bahkan semangkuk Ind*mie panas dengan cabe rawit dan telur setengah matang tidak terlihat semenggugah dulu.
7. Anda melihat tempat baru dan berkenalan dengan budaya baru, pelan-pelan dalam hati Anda akan mengucapkan, "Oh... Oh... Ternyata"
8. Anda mengikuti ospek, berkenalan dengan teman-teman baru, kakak kelas, juga kegiatan-kegiatan baru. Semuanya terasa begitu menyenangkan, dan perlahan-lahan, Anda mulai terbiasa dengan tempat tinggal baru Anda.
9. Tidak akan ada mama yang akan membangunkan Anda ketika pagi hari jikalau alarm Anda mati. (katanya sih alarmnya ga bunyi, padahal kenyataannya udah bunyi, eh dimatiin)
10. Tidak akan ada mama yang menyiapkan makanan ketika Anda lapar sehabis bangun tidur. Keadaan terburuk, kalau Anda kelaparan dan tidak ada yang menyiapkan makanan dan Anda terlalu malas untuk berjalan keluar, Anda akan makan rasa lapar Anda dalam diri, terkadang sampai Anda merasa kenyang(baca: tidak selera makan).
11. HP, dompet, dan kunci menjadi tiga benda bawaan pokok.

Rabu, 15 Juli 2015

Lenyap

Setelah melalui berbagai macam pertimbangan yang sulit, menimbang-nimbang kata terbaik untuk "Bunuh", saya putuskan untuk mengganti judul artikel ini menjadi lenyap.
Dua kata dengan arti yang berbeda memang, namun kata lenyap cukup halus dan cukup menyensor kata bunuh, tanpa menghilangkan nilai yang akan saya sampaikan.

I am kinda addicted to Korean Drama, Rooftop Prince get the highest attention of my midnight sleeps.

Bagian paling menyebalkan dari menonton film ini adalah ketika Park Ha berkali-kali disakiti oleh Tae Moo, entah itu karena kesengajaan atau karena ulah jahat See Na. Dengan cerita yang panjang dan cukup kompleks yang tentunya akan lebih seru kalau Anda tonton sendiri, saya berkali-kali dibuat gemas dengan kenyataan bahwa Tae Moo suka sekali melukai hati Park Ha.

Lalu tiba-tiba saya mengoneksikan hal ini dengan syarat menyembelih kurban. #ceritanya.nonton.berita

Loh, min, apa hubungannya dengan menyembelih kurban?

Ketika televisi banyak memberitakan segala sesuatu mengenai penyambutan Idul Fitri, remot TV saya membawa saya pada berita yang memberi nilai edukasi, bahwa ternyata menyembeli kurban memiliki syarat-syarat tertentu.

Dari beberapa poin yang dijabarkan, mulai dari hewannya harus memenuhi kriteria A atau B, lalu ketika disembelih harus sambil membaca doa, atau hal-hal yang berhubungan dengan agama, ada satu syarat mengenai pisau. Pisau yang digunakan untuk menyembelih kurban harus tajam supaya kurban tidak merasa menderita, supaya kurban langsung mati. Nah, ini sangat memiliki korelasi dengan jatuh cinta.

Ketika menyakiti seseorang, itu sama saja menggunakan pisau tumpul untuk menyayat kurban sehingga kurban merasakan sakit yang begitu lama. It's better to kill them immediately. Itulah mengapa, kalau Anda berniat menyakiti hati seseorang, pikirkan dua kali, tiga kali bahkan lebih. Sakit itu menderita dan tak jarang lebih baik mati daripada sakit.

Duh, min, kok kedengarannya galau banget? Hahaha iya, sedikit. Bete aja nonton drama Korea yang cewenya disakitin terus. loh gue jadi curcol  *abaikan paragraf ini*

Sometimes it's better to kill instead of to hurt, it tortures, you know.

Tadinya gaada sometimes, tapi mimin tahu entar kalian nyanyi What Doesn't Kill You Makes You Stronger-nya Kelly Clarkson. #edisi.sotoy

Senin, 13 Juli 2015

Pil Lupa Ingatan

Seperti keinginan saya: anti-mainstream
Lupa ingatan di sini bukanlah untuk menjelaskan tentang arti lupa ingatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lupa ingatan di sini adalah harapan saya akibat hidup yang terlalu bahagia.

Loh, kok kalau bahagia ingin lupa ingatan?

Begini ceritanya cung...

Libur telah tiba. Saya yang biasanya bangun pagi untuk kuliah, kerja, senang-senang, sekarang punya kebiasaan lain: menulis, belajar bahasa asing, menonton drama Korea, membaca buku, begitu seterusnya.

Bahagia banget kan? Iya dong. Tapi setelah membaca sebuah buku yang sangat bagus atau menonton drama Korea yang sangat menawan, ada satu jeda atas perasaan sedih. Perasaan sedih apakah itu? Rasa kehilangan.

Saking merasa hilang, kalau saya diberikan pil kebebasan untuk lupa ingatan, diberikan seratus biji sekalipun, tidak akan saya gunakan untuk melupakan mantan pacar saya yang mungkin telah membuat saya menangis selama seribu satu malam, atau konflik saya bersama orang-orang tersayang. Tidak akan. Biarlah cerita itu terus ada, karena rasa sedih itu semuanya telah hilang.

Ada pekerjaan berharga yang bisa dilakukan pil-pil lupa ingatan itu.

Pil-pil lupa ingatan itu akan saya telan untuk melupakan serial drama Korea yang membuat saya melting atau novel yang membuat saya jatuh hati. Dengan begitu, saya akan mampu menikmati cerita-cerita itu ratusan kali banyaknya masih dengan rasa gemas yang sama. Suatu perasaan indah yang tidak akan terbeli selain dengan pil-pil lupa ingatan.

Jumat, 10 Juli 2015

Makna LY pada Kata Sifat

Hari ini penulis menulis artikel tentang tata bahasa. (*ceritanya setelah bosan menjadi mahasiswa Ilkom, penulis sempat beralih sementara menjadi mahasiswa Filsafat dan Teologi, hari ini beralih menjadi mahasiswa Sastra Inggris*)

Saya percaya Anda tidak asing lagi dengan kata adjective dan adverb. Kalau ditanya apa perbedaannya? Bukan itu yang akan saya jabarkan di sini, tentang definisinya menurut Kamus Besar Bahasa Inggris (*ada gak sih*). Banyak artikel di luar sana yang telah menjabarkan bahwa adjective adalah kata sifat, sedangkan adverb adalah kata keterangan. Itu banyak. That's mainstream and I'm not going to be that kind of writer.(*sebenarnya karena ga terlalu jago juga sih*)

Daripada memberi definisi suatu hal, akan lebih baik untuk memberikan contoh praktis dan ekstrim, tentang bagaimana sebuah "ly" mampu memberikan kesan yang berbeda untuk suatu kalimat. Perhatikan dua buah kalimat yang akan dibuat dari dua kalimat sederhana berikut.

A girl is sadistic. (Seorang anak perempuan sadis.)
A girl is tortured. (Seorang anak perempuan disiksa.)

Dua kalimat di atas akan saya buat menjadi dua kalimat lain yang hanya dengan menambahkan "ly" pada satu kalimat lainnya.

1. She is a sadistic tortured girl.
2. She is a sadisticalLY tortured girl. 

Sebelum Anda melanjutkan membaca, coba tanyakan kepada diri Anda sendiri apa arti kalimat pertama dan apa arti kalimat kedua?

+ Mari membedah kalimat pertama
Sadistic pada kalimat nomor satu merupakan kata sifat, sehingga memberikan keterangan kepada subjek yang mana adalah dia perempuan. Kalimat nomor satu berarti "Dia adalah seorang perempuan sadis yang disiksa."
Kesannya:Ya bagus, dia perempuan yang sadis, sudah sepatutnya dia disiksa. Bahasa gaulnya: "Mampus lo, syukurin."

+ Mari membedah kalimat kedua
Sadistic pada kalimat nomor dua merupakan kata keterangan, sehingga memberikan keterangan pada disiksa, membuat artinya menjadi disiksa dengan kejam. Kalimat nomor dua berarti 'Dia adalah seorang perempuan yang disiksa dengan kejam."
Kesannya dalam bahasa gaul: "Betapa malang nasib perempuan itu. Kasihan sekali dia."

See the differences?

Di sinilah "LY" bermain peran yang sangat penting. Dari contoh sederhana ini terlihat pentingnya penguasaan tata bahasa dalam berkomunikasi.

Kamis, 09 Juli 2015

Belajar Bahasa Mandarin

Never say that you've studied mandarin unless you've really have a date with it more than 20 hours a week. A date, just two of you, you and your mandarin.

Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa mereka sudah belajar bahasa mandarin selama bertahun-tahun. Sebelum menyimpulkan bahwa seseorang benar-benar melakukannya, saya merasa perlu memvalidasi orang tersebut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk mempelajari bahasa Mandarin dalam sehari?
2. Berapa banyak kosakata yang masih Anda ingat sampai hari ini?
3. Seberapa sering Anda menggunakan bahasa Mandarin Anda?

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia telah belajar bahasa Mandarin selama bertahun-tahun, saya meragukan apa yang ia maksud dengan bertahun-tahun. Apakah bertahun-tahun itu dua jam dalam seminggu dan beberapa jam saat ulangan saja?

Kalau iya demikian, ia tidak pantas mengakui bahwa ia telah belajar bahasa Mandarin selama bertahun-tahun. It's totally wrong.

Belajar bahasa, lebih-lebih bahasa Mandarin yang penulisannya cukup kompleks, tidaklah cukup hanya dilakukan beberapa jam dalam seminggu. Mari kita kalkulasikan bersama.

Sebagai orang Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa komunikasi sehari-hari.
Perlu waktu berapa lama bagi seorang bayi Indonesia dengan lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah orang Indonesia untuk bisa lancar berbahasa Indonesia? Kurang lebih 7 tahun.

Lalu, perlu berapa jam bagi seorang Indonesia untuk belajar bahasa Mandarin agar bisa lancar berkomunikasi dengan bahasa Mandarin? Orang yang berbahasa 24 jam sehari saja butuh tujuh tahun untuk bisa berkomunikasi dengan lancar, apalagi orang yang bukan native speaker.

Ada 24 jam dalam satu hari, yang itu berarti 24x7 jam = 168 jam dalam satu minggu. Menyisihkan barang 20 jam seminggu yang sangat jauh dari angka (7(untuk tahun) x 52 (untuk minggu) x 168 (untuk jam) = 61.152 jam) barangkali merupakan perbandingan yang sangat jomplang. 20 jam hanyalah setetes air dibandingkan dengan 61.152 jam yang dihabiskan oleh penutur aslinya.

Nah, tujuan akhir dari artikel ini bukan untuk menyihir para pembaca supaya belajar bahasa mandarin non-stop. Tidak. Tujuan dari artikel ini semata-mata ingin menyadarkan pembaca bahwa waktu yang selama ini dipakai seseorang untuk mengakui seberapa lama ia belajar bahasa Mandarin tentu saja tidak dapat menggambarkan secara jelas kemampuan bahasa mandarin orang tersebut. Yang menjadi bagian penting adalah seberapa lama waktu yang dihabiskan oleh orang tersebut yang benar-benar didedikasikan untuk bahasa Mandarin. Karena sesungguhnya proses belajar bahasa adalah suatu proses tanpa henti, bukan sebatas menghafal kosakata dan memahami tata bahasa, melainkan juga intensitas penggunaan bahasa tersebut.

Review Drama Korea Pinocchio 피노키오

Drama Korea Pinocchio
Judul : Pinocchio (피노키오)
Genre : Drama, Roman, Komedi, Keluarga
Stasiun TV : SBS
Pemeran Utama : Lee Jong Suk dan Park Shin Hye

Istilah Pinocchio (피노키오) yang dipakai sebagai judul dari sebuah drama Korea kali ini bukanlah istilah untuk menunjukkan boneka kayu yang hidungnya akan bertambah panjang setiap kali ia berbohong. Istilah Pinocchio sengaja dipakai untuk menjelaskan jenis penyakit fiktif, yang mana apabila penderitanya berbohong maka penderitanya akan cegukan (hiccup) sampai penderitanya mengatakan kebenaran.

Film ini mengupas dilema wartawan secara tajam. Mengahabiskan 20 episode film ini sama dengan mengikuti 80% perkuliahan Pengantar Jurnalistik. Film ini bukan hanya menghibur penonton dengan cerita cinta dan komedi antara In Ha dan Dal Po, melainkan juga kerja keras seorang wartawan untuk menghadirkan cuplikan beberapa menit berita.

Di dalam film ini digambarkan suasana pembagian tugas reporter, rapat redaksi membahas headline dan penugasan, juga keingintahuan dan kekrisisan yang amat dibutuhkan bagi seorang jurnalis dalam menulis berita. Jurnalis dalam drama Korea Pinocchio bukan hanya dituntut sebagai seorang Journalist saja melainkan juga Jour-Analyst.

Drama ini juga melukiskan betapa kuatnya peran media massa dalam mempengaruhi pikiran publik. Dituangkan secara jelas bagaimana intensitas dan konten pesan bisa perlahan-lahan menggerogoti pikiran penonton. Digambarkan pula esensi informasi bagi dunia media massa. betapa media massa haus dan sangat membutuhkan informasi. Di dalam film ini juga digambarkan bagaimana sebuah media massa pandai-pandai memilah berita sehingga investor terbesar bagi medianya tidak tercemar nama buruk karena apabila mereka menginformasikan bahwa investor mereka tercemar nama buruk, suntikan dana bagi perusahaan mereka bisa saja terhenti dan mereka terancam bangkrut. Terlepas dari sindrom penyakit Pinocchio yang tidak benar-benar ada, film ini benar-benar realistis.

Pada bagian akhir dari film, dilukiskan juga secara singkat peran seorang PR dalam menjaga image seorang tokoh politik. Terdapat skenario dalam film yang berisi percakapan antara seorang PR dan tokoh politik tentang apa saja hal yang sebaiknya dlakukan oleh seorang tokoh politik dan hal apa saja yang boleh diucapkan untuk menjada integritas publik.

Memandang dari nilai edukasi, drama Korea Pinocchio (피노키오) sangat direkomendasikan untuk ditonton oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi, terutama mereka yang ingin memilih Jurnalistk sebagai peminatan.

Finding a really outstanding Korean drama until I want to clean up all my memories about the story and watch it one more time in order to get that "geregetan" feeling.

Sabtu, 04 Juli 2015

Jam di Tubuh

Halo, dunia. Halo, pembaca. Halo, penikmat artikel. 

Artikel hari ini terlahir dari kebiasaan saya tidur larut malam dan mudah-mudahan penting untuk dikupas setajam 'letis'. (hanya penikmat entertaintment yang mengerti maksud dari letis)

Tidur larut malam merupakan aktivitas yang hampir selalu dilakukan mereka yang punya segudang kegiatan. Mereka yang sibuk bukannya tidak mampu mengatur pola hidup, namun keadaan lah yang memaksa mereka untuk demikian.

Belakangan saya tidur hampir selalu pukul satu dan selalu terbangun sebelum pukul tujuh, terkadang pukul 6. Ajaibnya, saya tidak merasa kurang tidur. Yang menjadi ketakutan saya adalah adanya hasil penelitian yang mengatakan bahwa waktu tidur yang paling baik adalah setidaknya pukul 10 atau 11. Jam 1 malam sangat tidak baik untuk tidur dikarenakan pada jam-jam tersebut tubuh telah memasuki masa-masa metabolisme sampai pada pagi hari. Metabolismenya bermacam-macam, ada detoksifikasi  pankreas, detoksifikasi paru-paru, detoksifikasi usus besar, penyerapan vitamin, tulang belakang memproduksi darah, dan lain sebagainya. Semuanya terdengar begitu nyata. Namun, dibalik semua itu, bagaimana mungkin ilmuwan meneliti bahwa tubuh mengenal waktu? Bagaimana mungkin tubuh tahu kapan itu pukul satu malam, kapan pukul 3 malam, dan lain sebagainya. Bagaimana tubuh tahu? Bagaimana hal itu terjadi kalau ada orang yang awalnya tinggal di Indonesia kemudian pindah ke Tiongkok yang perbedaan waktunya 7 jam lebih cepat daripada Indonesia, lalu tidur sesuai dengan pola orang-orang di sana? Akankah tubuhnya menganggap ia telah berada pada jam tidur yang salah dan sebagai gantinya tubuhnya tidak mampu melakukan detoksifikasi?

Kamis, 02 Juli 2015

Tiga Hal Sederhana yang Dapat Mengubah Hidup Anda

Ditililik dari judulnya, artikel edisi hari ini filsafat banget. Mungkin saya akan segera beralih dari mahasiswa Ilmu Komunikasi menjadi mahasiswa Filsafat dan Teologi. (loh?)

Artikel hari ini saya dapatkan hasil dari brainstorming bersama teman saya, seorang vokalis, setelah berjalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan selama kurang lebih satu jam. Sebuah percakapan yang membahas topik yang random, yang mudah-mudahan menjadi catatan bermakna.

Ada tiga hal sederhana yang perlu selalu dilakukan manusia dalam hidupnya. Tiga hal itu adalah:

1. Selalu Terpesona
Definisi terpesona di sini bukanlah terpesona pada laki-laki ganteng atau perempuan cantik lalu berlari meminta nomor handphone-nya or something like that. Definisi terpesona di sini adalah selalu bertanya-tanya tatkala melihat sesuatu yang baru, selalu penasaran. Dengan terpesona akan sesuatu, ada satu pertanyaan lebih yang selalu diajukan dan itulah yang membuat kita terus belajar. Orang yang terpesona selalu bertanya-tanya akan segala sesuatu yang ia temui dan karena itulah wawasannya akan dunia menjadi makin luas.


Sebagai contoh, pernahkah Anda memikirkan mengapa kucing menjilati bulunya di pagi hari? "Oh, ada bulu, Pak, jadi dia menjilatinya supaya tidak gatal." Tidak, bukan, not that true. Kucing menjilati bulunya di pagi hari sambil berjemur di bawah sinar matahari untuk mendapatkan vitamin C yang berguna bagi kelangsungan harinya, semacam vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh.


Atau barangkali pernahkah Anda berpikir tentang bagaimana orang-orang yang berada di GTO bisa sampai di sana, di pos masing-masing, yang letaknya berjauhan, tanpa sekalipun melihat kendaraan mereka? Mungkinkah ada mobil antar jemput? Bagaimana kalau ada yang terlambat? Tidakkah waktu menjadi tidak efektif? Pernahkah Anda setidaknya menanyakannya dalam batin Anda?
Think about that fact.




Atau pernahkah Anda memperhatikan tiang listrik di sepanjang jalan dan mempertanyakan tiap pemisah kabel pada jarak beberapa meter? Untuk apa itu semua? Bagaimana kalau benda itu tidak ada di sana?





Atau pernahkah Anda melihat seorang pengamen di pinggir jalan dan bertanya-tanya berapa banyak kira-kira uang yang dihasilkannya dari menyanyi? Seberapa baik orang-orang yang duduk di angkutan umum menghargai suaranya dan ukulelenya? Apa yang akan ia makan jika ia tidak mendapatkan uang yang cukup?
Think about that fact.



Terlalu banyak memikirkan tentang segala sesuatu terkadang membawa saya pada kenyataan tentang tidak mengetahui apa yang harus dipikirkan terlebih dalulu. Namun, sampai pada detik ini apabila saya terpesona akan segala sesuatu, akan selalu ada jawaban bagi saya entah dari mana datangnya. Dan jawaban itulah yang nantinya akan saling memperkaya saya dan juga orang lain yang membagikan informasi tersebut.

2. Selalu Rendah Hati
Stay humble, all the time. Mengetahui segala sesuata lebih banyak dari orang lain tidak boleh menjadikan seseorang tinggi hati dan arogan. Mengetahui segala sesuatu lebih banyak seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati. Dari mana lagi seseorang mendapatkan hal-hal tersebut kalau bukan dari orang lain? Sebagaimana padi yang semakin berisi, semakin merunduk, demikianlah manusia seharusnya: semakin berwawasan, semakin rendah hati.

Coba bayangkan apabila orang yang berwawasan malah tinggi hati, tidak akan ada orang yang ingin belajar darinya. Apa yang terjadi kalau manusia berhenti belajar? Tepat di sanalah hidupnya akan berhenti.

Kalimat ekstrimnya adalah barangkali monyet yang belajar setiap hari akan mampu menjadi lebih pintar daripada manusia yang berhenti belajar. And maybe just maybe, they gotta be the next "human" someday in somewhere.




3. Jangan Menjadi Budak Uang
Semua orang membutuhkan uang, beberapa bahkan sangat menyukainya. Uang bisa membeli segalanya, termasuk kebahagiaan, bagi saya. Saya bisa membeli sepasang sepatu cantik bertali dengan uang, itu sejenis kebahagiaan juga. Siapa bilang uang tidak bisa membeli kebahagiaan?
Nah, tapi jangan salah menarik kesimpulan. Ada hal yang jauh lebih berharga dari uang
Apakah itu?

Waktu. Kebersamaan.


"Oh, kalau begitu, kalau waktu lebih berharga dari uang, yuk kita beramai-ramai berhenti bekerja lalu ngobrol sepanjang hari setiap hari. Kita ngobrol di kedai kopi, menikmati roti manis sambil menghabiskan waktu-waktu berkualitas bersama-sama. Sepanjang hari. Sepanjang masa, karena waktu lebih penting daripada uang. Bersama-sama lebih penting daripada bekerja untuk menghasilkan uang."
Bukan. Not that kind definition of time is more important than money.

Waktu lebih penting dari uang adalah ketika kita bisa membagi waktu secara bijaksana untuk bekerja dan menikmati hasil dari kerja. Perlu diingat bahwa uang bisa dicari, namun waktu tak akan pernah bisa kembali. Fakta ini bukannya membawa kita pada kenyataan bahwa kita harus menjadi money slave, tetapi pada kenyataan bahwa kita harus memikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang secara dahsyat sehigga waktu hidup yang kita miliki tidak terbuang sia-sia.