Sabtu, 04 Juli 2015

Jam di Tubuh

Halo, dunia. Halo, pembaca. Halo, penikmat artikel. 

Artikel hari ini terlahir dari kebiasaan saya tidur larut malam dan mudah-mudahan penting untuk dikupas setajam 'letis'. (hanya penikmat entertaintment yang mengerti maksud dari letis)

Tidur larut malam merupakan aktivitas yang hampir selalu dilakukan mereka yang punya segudang kegiatan. Mereka yang sibuk bukannya tidak mampu mengatur pola hidup, namun keadaan lah yang memaksa mereka untuk demikian.

Belakangan saya tidur hampir selalu pukul satu dan selalu terbangun sebelum pukul tujuh, terkadang pukul 6. Ajaibnya, saya tidak merasa kurang tidur. Yang menjadi ketakutan saya adalah adanya hasil penelitian yang mengatakan bahwa waktu tidur yang paling baik adalah setidaknya pukul 10 atau 11. Jam 1 malam sangat tidak baik untuk tidur dikarenakan pada jam-jam tersebut tubuh telah memasuki masa-masa metabolisme sampai pada pagi hari. Metabolismenya bermacam-macam, ada detoksifikasi  pankreas, detoksifikasi paru-paru, detoksifikasi usus besar, penyerapan vitamin, tulang belakang memproduksi darah, dan lain sebagainya. Semuanya terdengar begitu nyata. Namun, dibalik semua itu, bagaimana mungkin ilmuwan meneliti bahwa tubuh mengenal waktu? Bagaimana mungkin tubuh tahu kapan itu pukul satu malam, kapan pukul 3 malam, dan lain sebagainya. Bagaimana tubuh tahu? Bagaimana hal itu terjadi kalau ada orang yang awalnya tinggal di Indonesia kemudian pindah ke Tiongkok yang perbedaan waktunya 7 jam lebih cepat daripada Indonesia, lalu tidur sesuai dengan pola orang-orang di sana? Akankah tubuhnya menganggap ia telah berada pada jam tidur yang salah dan sebagai gantinya tubuhnya tidak mampu melakukan detoksifikasi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar