Kamis, 02 Juli 2015

Tiga Hal Sederhana yang Dapat Mengubah Hidup Anda

Ditililik dari judulnya, artikel edisi hari ini filsafat banget. Mungkin saya akan segera beralih dari mahasiswa Ilmu Komunikasi menjadi mahasiswa Filsafat dan Teologi. (loh?)

Artikel hari ini saya dapatkan hasil dari brainstorming bersama teman saya, seorang vokalis, setelah berjalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan selama kurang lebih satu jam. Sebuah percakapan yang membahas topik yang random, yang mudah-mudahan menjadi catatan bermakna.

Ada tiga hal sederhana yang perlu selalu dilakukan manusia dalam hidupnya. Tiga hal itu adalah:

1. Selalu Terpesona
Definisi terpesona di sini bukanlah terpesona pada laki-laki ganteng atau perempuan cantik lalu berlari meminta nomor handphone-nya or something like that. Definisi terpesona di sini adalah selalu bertanya-tanya tatkala melihat sesuatu yang baru, selalu penasaran. Dengan terpesona akan sesuatu, ada satu pertanyaan lebih yang selalu diajukan dan itulah yang membuat kita terus belajar. Orang yang terpesona selalu bertanya-tanya akan segala sesuatu yang ia temui dan karena itulah wawasannya akan dunia menjadi makin luas.


Sebagai contoh, pernahkah Anda memikirkan mengapa kucing menjilati bulunya di pagi hari? "Oh, ada bulu, Pak, jadi dia menjilatinya supaya tidak gatal." Tidak, bukan, not that true. Kucing menjilati bulunya di pagi hari sambil berjemur di bawah sinar matahari untuk mendapatkan vitamin C yang berguna bagi kelangsungan harinya, semacam vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh.


Atau barangkali pernahkah Anda berpikir tentang bagaimana orang-orang yang berada di GTO bisa sampai di sana, di pos masing-masing, yang letaknya berjauhan, tanpa sekalipun melihat kendaraan mereka? Mungkinkah ada mobil antar jemput? Bagaimana kalau ada yang terlambat? Tidakkah waktu menjadi tidak efektif? Pernahkah Anda setidaknya menanyakannya dalam batin Anda?
Think about that fact.




Atau pernahkah Anda memperhatikan tiang listrik di sepanjang jalan dan mempertanyakan tiap pemisah kabel pada jarak beberapa meter? Untuk apa itu semua? Bagaimana kalau benda itu tidak ada di sana?





Atau pernahkah Anda melihat seorang pengamen di pinggir jalan dan bertanya-tanya berapa banyak kira-kira uang yang dihasilkannya dari menyanyi? Seberapa baik orang-orang yang duduk di angkutan umum menghargai suaranya dan ukulelenya? Apa yang akan ia makan jika ia tidak mendapatkan uang yang cukup?
Think about that fact.



Terlalu banyak memikirkan tentang segala sesuatu terkadang membawa saya pada kenyataan tentang tidak mengetahui apa yang harus dipikirkan terlebih dalulu. Namun, sampai pada detik ini apabila saya terpesona akan segala sesuatu, akan selalu ada jawaban bagi saya entah dari mana datangnya. Dan jawaban itulah yang nantinya akan saling memperkaya saya dan juga orang lain yang membagikan informasi tersebut.

2. Selalu Rendah Hati
Stay humble, all the time. Mengetahui segala sesuata lebih banyak dari orang lain tidak boleh menjadikan seseorang tinggi hati dan arogan. Mengetahui segala sesuatu lebih banyak seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati. Dari mana lagi seseorang mendapatkan hal-hal tersebut kalau bukan dari orang lain? Sebagaimana padi yang semakin berisi, semakin merunduk, demikianlah manusia seharusnya: semakin berwawasan, semakin rendah hati.

Coba bayangkan apabila orang yang berwawasan malah tinggi hati, tidak akan ada orang yang ingin belajar darinya. Apa yang terjadi kalau manusia berhenti belajar? Tepat di sanalah hidupnya akan berhenti.

Kalimat ekstrimnya adalah barangkali monyet yang belajar setiap hari akan mampu menjadi lebih pintar daripada manusia yang berhenti belajar. And maybe just maybe, they gotta be the next "human" someday in somewhere.




3. Jangan Menjadi Budak Uang
Semua orang membutuhkan uang, beberapa bahkan sangat menyukainya. Uang bisa membeli segalanya, termasuk kebahagiaan, bagi saya. Saya bisa membeli sepasang sepatu cantik bertali dengan uang, itu sejenis kebahagiaan juga. Siapa bilang uang tidak bisa membeli kebahagiaan?
Nah, tapi jangan salah menarik kesimpulan. Ada hal yang jauh lebih berharga dari uang
Apakah itu?

Waktu. Kebersamaan.


"Oh, kalau begitu, kalau waktu lebih berharga dari uang, yuk kita beramai-ramai berhenti bekerja lalu ngobrol sepanjang hari setiap hari. Kita ngobrol di kedai kopi, menikmati roti manis sambil menghabiskan waktu-waktu berkualitas bersama-sama. Sepanjang hari. Sepanjang masa, karena waktu lebih penting daripada uang. Bersama-sama lebih penting daripada bekerja untuk menghasilkan uang."
Bukan. Not that kind definition of time is more important than money.

Waktu lebih penting dari uang adalah ketika kita bisa membagi waktu secara bijaksana untuk bekerja dan menikmati hasil dari kerja. Perlu diingat bahwa uang bisa dicari, namun waktu tak akan pernah bisa kembali. Fakta ini bukannya membawa kita pada kenyataan bahwa kita harus menjadi money slave, tetapi pada kenyataan bahwa kita harus memikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang secara dahsyat sehigga waktu hidup yang kita miliki tidak terbuang sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar