Cara
Makan Ayam Gratis
Gadis berkulit putih dengan tubuh yang
kurus kering itu terlihat sedang memisahkan kulit renyah ayam dari tempatnya
melekat semula. Tidak lama, temannya yang duduk tepat di seberangnya
menyeletuk, “Son, rajin amat lu misah-misahin ayam sama kulitnya.”
Sonirima masih berkutat dengan
suguhan di piringnya. Tidak digubrisnya ucapan teman makannya. Lalu, ia
memanggil pelayan untuk minta kertas pembungkus.
Megan, teman makan Sonorima, hanya
memperhatikan ulah temannya itu. Daritadi, sejak pelayan dengan seragam berlogo
kakek-kakek berkacamata itu mengantarkan makanan, sampai pada detik itu, saat
makanannya sendiri hampir habis setengahnya, Sonorima serius sekali memisahkan
ayam dari kulitnya. Awalnya Megan menduga kalau-kalau Sonorima punya kebiasaan
menyisakan yang enak untuk dimakan terakhir, tapi ia mulai meragukan dugaannya
setelah melihat pelayan tengah menyodorkan kertas pembungkus kepada Sonorima.
Tak mampu menahan rasa penasarannya,
tidak peduli walaupun daritadi diabaikan, Megan angkat suara, “Loh, kok ayamnya
elu bungkusin? Nggak lu makan di sini?”
Kebetulan Sonorima sudah selesai
dengan ayamnya, ia menjawab pertanyaan Megan sambil tersenyum kecil, “Hehehe...
Nggak, gua makan kulitnya aja.”
“Loh, dagingnya?” spontan Megan bertanya.
“Oh, itu mah buat Dogi aja,” jawab
Sonorima sambil menyuapi mulutnya sendiri dengan nasi ditambah kulit renyah
ayam.
Megan memicingkan mata, agak
meragukan persepsinya tentang Dogi yang baru saja disebutkan cewek kurus kering
di hadapannya. “Maksud lo gukguk?” tanyanya setengah tak percaya.
Sonorima mengangguk setuju sambil
melanjutkan makannya. Megan pun berlalu sambil tak bisa berkata-kata. Matanya
terbelalak besar selama beberapa detik.
Di lain waktu, Megan dan Sonorima
kembali memanjakan lidah mereka di restoran ayam berlogo kakek-kakek memakai
kacamata itu. Kali itu berbeda, mereka tidak hanya berdua, mereka ditemani
seorang teman laki-laki.
“Duh, ayam-ayamnya mahal banget sih,
kecil lagi,” gerutu Miko sesaat setelah pelayan beranjak jauh dari mereka
setelah mengantarkan pesanannya.
“Yah, emang segini porsi makan di
sini. Kita mah udah biasa ya, Son?” Megan mengucapkan kalimat terakhirnya
sambil menyikut tangan Sonorima. Tapi seperti biasa, kalau ia sudah serius
dengan atraksi kulit ayamnya, ia tidak bisa diganggu.
Megan dan Miko saling tatap.
“Ehem...” Megan berdehem.
“Kacang mahal nih,” celetuk Miko
sambil tertawa.
“Kacang apaan?” Akhirnya Sonorima
tersadar dari alam bawah sadarnya.
“Oh, kagak-kagak,” Megan menjawab.
Setelah menelan ludahnya, Megan
menyambung, “Miko, lu bilang ayamnya mahal kan? Mau ayam gratis ga?”
“Ya, kalo ada ya maulah. Kenapa? Elu
mau jadi sukarelawan ayam buat gua? Hahaha...”
Tak perlu dua kali untuk berpikir,
Miko bertanya, “Gimana?”
“Elu jadi anjingnya Sonorima aja...
Hahaha...”
Sonorima yang sudah selesai memisahkan
antara ayam dan kulitnya, kemudian menyobek sedikit daging ayamnya,
diletakkannya di atas piring Miko.
Miko, tak mengerti dengan ulah
Sonorima, kemudian mengeluarkan kegilaannya. Ucapan terima kasihnya disampaikan
dengan menggonggong ala manusia, “Guguk, guguk,” prakteknya sambil menaikkan
kedua tangan dan mengambil ancang-ancang menjulurkan lidah.

