Sabtu, 25 April 2015

Fakta tentang Tidur

Waking up in the morning and randomly thinking about this true fact of sleeping. In my opinion...

There are only 24 hours in a day. If people sleep 8 hours a day, indeed, it's true, which means one third of it, you can logically say that when people have gone through his 3 days, he actually just live for 2 days because he uses his one day just for sleeping and doing obviously nothing.

And if we count forward, when people die at his 60, he just live for actually 40 years of his life.
That's why, sometimes, I'm afraid of sleeping, it cuts my age.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Terbangun di pagi hari dan tiba-tiba tersadarkan akan fakta tentang tidur. Menurut saya...

Hanya ada 24 jam dalam sehari. Jika manusia tidur selama 8 jam sehari, dan ya, memang itu benar, yang itu berarti sepertiga dari 24, Anda bisa secara logis mengatakan bahwa ketika manusia telah melalui tiga hari dari hidupnya, manusia itu sebenarnya hanya hidup selama dua hari karena ia telah menggunakan satu harinya untuk tidur dan tidak melakukan aktivitas apa-apa selain berdiam diri di tempatnya mendaratkan tubuh.

Dan apabila kita hitung maju, ketika manusia meninggal pada usia 60 nya, sebenarnya dia hanya hidup selama 40 tahun dari hidupnya.

That's why, sometimes, I,m afraid of sleeping. It cuts my age.

Festival Kuasa Allah

Artikel ini telah saya tulis pada 29 Maret lalu, namun entah mengapa baru sekarang ini saya ingin mempublikasikannya di sini.

Rasa penasaran yang menggebu-gebu berhasil mengantarkan tubuh saya menuju Arena JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 28 Maret 2015.
Tulisan ini bukan berita atau ajakan untuk pindah agama. Tulisan ini sekedar bentuk dari gerakan jiwa saya untuk menyampaikan kepada orang-orang kalau mukjizat Tuhan itu sungguh nyata.
Gereja Mawar Sharon kembali menggelar Festival Kuasa Allah 21 tadi malam. Saya bukan jemaat dari gereja ini. Saya pergi semata-mata untuk menjawab pertanyaan saya selama ini, “Apakah orang-orang yang saya lihat di televisi itu benar-benar sembuh dari penyakitnya?”
Awalnya saya agak takut. Saya membayangkan nanti akan ada tubuh yang bergetar-getar, orang yang berteriak-teriak, menangis, tertawa, bahkan tak sedikit yang tergeletak di lantai. Membayangkan hal itu membuat saya bergidik ngeri. Namun karena dibungkus rasa ingin tahu, hal-hal itu tidak menjadi masalah.
Memutuskan untuk bisa memahami hal-hal spiritual di festival ini, saya duduk di antara para jemaat, mencoba masuk ke atmosfer mereka. Dan benar saja, bulu kuduk saya tak henti-hentinya berdiri mendengar dan melihat kesaksian orang-orang tentang kesembuhannya. Tak jarang, mereka membuat saya menitikkan air mata.
Ternyata perjumpaan dengan Tuhan itu sungguh ada. Tuhan sungguh menyembuhkan mereka yang percaya. Saya melihat bagaimana mereka yang lumpuh bisa berjalan, berlari, bahkan ada yang berjingkrak. Ada yang tangannya tak bisa digerakkan, kini bisa digerakkan. Ada balita yang tidak berani berjumpa dengan orang, berani digendong maju dan ingin mengambil microphone. Ada penderita tiroid bisa disembuhkan. Ada yang indung telurnya bermasalahm juga disembuhkan dalam perjumpaan ini. Saya melihat bagaimana orang-orang yang haus jiwanya, dijamah oleh roh kudus. Saya melihat bagaimana orang-orang yang rindu akan kesembuhan dan percaya akan itu, sungguh disembuhakan. Saya melihat berbagai mukjizat.
Dan ternyata orang sakit itu datang dari berbagai agama, bukan hanya dari penganut Kristen saja. Betapa luar biasa berkesempatan menyaksikan orang-orang yang berbagi atas keajaiban dalam hidup mereka.
Awalnya saya sempat bertanya-tanya, “Mungkinkah ini skenario belaka? Mungkinkah orang sakit itu hanya akting dengan kursi roda dan alat bantu lainnya? Dan para petugas pelayanan itu sudah mempersiapkan skenario ini?” Tapi pikiran saya yang lainnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, “Sebegitu kurang kerjaan kah mereka, puluhan orang di panggung dan ratusan orang sakit di balik panggung, puluhan pendoa dan petugas pelayanan serta ribuan jemaat lainnya mempersiapkan drama teater paling improvisasional? Sebegitu “niat” kah mereka membohongi manusia?”
Festival Kuasa Allah tadi malam itu keren, keren sekali menurut saya.
Semoga tulisan ini menjadi sarapan bernutrisi di Minggu ini. smile emotikon Happy Sunday and God bless.

Jumat, 24 April 2015

Catatan Seorang Demonstran

Baru saja membaca secuil halaman dari buku karya Soe Hok Gie dan menemukan sebuah puisi keren.

Saya mimpi tentang sebuah dunia,
Di mana ulama - buruh dan pemuda,
Bangkit dan berkata - Stop semua Kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apa pun.

Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu, dan beras,
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,
Dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun,
Agam apa pun, rasa apa pun, dan bangsa apa pun,
Dan melupakan perang dan kebencian
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi,
Yang tak pernah akan datang.




Kehilangan


Kalau Anda pecinta buku, pernahkah Anda merasakan hal serupa dengan apa yang saya rasakan di bawah ini?
Setelah selesai membaca sebuah buku yang sangat bagus, ada satu jeda singkat atas rasa kehilangan atau kesedihan, seperti rasa gembira karena akhirnya buku itu tamat juga, dan rasa kehilangan karena tak tahu di mana lagi harus menemukan buku yang tepat. Rasa kehilangan itu ada.


Sabtu, 18 April 2015

Hadiah dari Teman

Saya seorang penerjemah.
Bukan penerjemah seperti ada orang asing menjadi pembicara dalam suatu acara kemudian saya berdiri dengan mikrofon dan menyuarakan bahasanya menjadi bahasa Indonesia kepada ratusan pendengar lain.
No, I'm not that kind of translator. May be haven't yet.

Bukan juga penerjemah seperti ada orang asing datang ke suatu perusahaan dan tidak bisa berbahasa Indonesia, lalu saya menafsirkan pesannya tentang mesin, proses kerja atau daya yang dihabiskannya. No, I'm not that kind of translator too. May be haven't yet.

Penerjemah yang saya maksudkan di sini adalah penerjemah seperti ini.
Ketika ada orang yang tidak bisa berbahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Jerman, Korea, Jepang, Prancis, dsb dan saya berada pada posisi mengetahui bahasa-bahasa itu, ketika itulah aura penerjemah saya keluar. Bukan yang levelnya advance memang, tetapi cukup untuk mengajak berkenalan, menanyakan kabar dan barangkali berbicara sehari-hari yang mengundang tawa dengan segenap bahasa tubuh dan bahasa hati. Seringkali ketika ada orang yang menemukan orang yang bisa berbahasa sama dengan mereka, orang itu merasa lebih gembira. Dan kenyataan melihat senyum gembira dan mata ceria merekalah yang membuat saya selalu dan akan selalu termotivasi untuk terus mempelajari bahasa mereka.

Nah, suatu hari, teman saya bertanya, "Pernahkan mereka memberikanmu hadiah?"

Hadiah. Tentu saja pernah. Bukan hadiah dalam kotak yang dibungkus dengan kertas indah dan diikat dengan pita cantik. Bukan, bukan hadiah semacam itu. Tetapi, adakah hadiah-hadiah yang lebih berharga dari hadiah seperti di bawah ini?
Duduk manis di bawah pohon kelapa di tepi kolam atau mendengarkan lagu di mobil sambil mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana cara orang mereka biasanya makan buah tertentu, apa yang orang mereka lakukan sehabis makan, seberapa penting kata A dalam bahasa mereka, bagaimana mereka hidup di negara mereka mulai dari kecil dan sampai bisa terdampar di Indonesia dan menjadi jatuh cinta dengannya, bagaimana cara mereka menghabiskan minuman tertentu pada saat tertentu, bagaimana orang mereka akan bereaksi ketika Anda mengatakan hal B, alasan mengapa potongan rambut orang mereka rata-rata seperti itu, bagaimana cara mereka memainkan hompimpa ala negara mereka dan bagaiman mereka bermain sebelum era digital, bagaimana mereka hidup di negara dengan musim seperti itu, bagaimana pandangan mereka tentang negara Indonesia, dan mungkin akan bertambah semakin banyak lagi seiring saya bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang,

Hal-hal tersebut adalah salah satu hadiah sekaligus memori paling indah dalam hidup saya dan karenanya saya akan terus belajar bahasa asing.

I want to be that kind of translator.

Selasa, 14 April 2015

Kreativitas

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, salah satu anugerah paling luar biasa yang kita miliki adalah anugerah untuk menciptakan. Perhatikan anak-anak kecil di sekitar Anda. Berikan mereka seperangkat pensil warna, mainan blok, mainan lego, sebongkah clay, lidi-lidi kecil, apapun yang bisa Anda beri, dan mereka akan menyusun, membentuk, memoles, menciptakan sesuatu yang baru. Dan bukan hanya benda yang mereka ciptakan, melainkan juga cerita dan petualangan. Dan jangan lupa perhatikan gerak mulut dan ekspresi mereka ketika mereka menceritakannya dengan semangat yang membara-bara dari api yang bersinar keluar dari mata mereka. Imajinasi anak-anak, menurut saya, sungguh “liar”.

Saya juga sempat menjadi anak-anak dan itu merupakan salah satu masa paling imajinatif yang bisa saya bayangkan. Tembok di rumah adalah kanvas sejati. Kalau bukan ibu saya yang melindungi keputihan dinding rumah dari coretan jahil saya, mungkin dinding rumah kami sekarang akan penuh dengan warna-warni spidol, pensil warna, dan mungkin krayon. Dan tak perlu lebih dari lima detik bagi saya untuk menyadari betapa saya adalah seorang pelukis amatir dengan level di bawah nol. Kembali saya buka catatan masa kecil saya, hampir di setiap lembar dari buku catatan saya, saya temukan garis-garis dan gambar-gambar yang seharusnya tidak berada di sana. Dan saya percaya, tidak sedikit dari Anda yang juga melakukannya. Ayo ngaku?

Betapa masa kanak-kanak diisi oleh goresan-goresan tak jelas, coretan-coretan yang mungkin tak berarti, gambar-gambar lucu yang terkadang bagus juga kalau dilihat, tulisan cepat sampai-sampai hampir tak terbaca, arsiran uang 500 rupiah dengan gambar Pancasila, lukisan wajah guru, bentuk kelas, tulisan curahan hati tentang betapa bahagianya hari itu, apapun, segalanya, kreativitas, bisa ditumpahkan di bagian atas dari buku.

Intinya, setiap space putih kosong di buku adalah lahan yang menyegarkan untuk memulai kreativitas baru. Dan sama seperti mie ayam bakso gratis di kala hujan lebat, itu akan selalu terlihat lezat.

Dan walaupun jurusan perkuliahan saya bukanlah seni, saya memiliki buku gambar sendiri. Yang jelas bukan buku gambar A3 yang harus diberi garis tepi 2cm dengan kotak kecil di pojokan bertuliskan nama dan NIM. Di sana, saya menuangkan segala pikiran saya. Entah itu cerita bahagia atau pelajaran berharga. Terkadang saya menggambar ringkas untuk memperkuat penjelasan suatu cerita. Dan selalu ada kerinduan tersendiri untuk kembali membuka buku ambar itu dan melihat cerita yang tertuang di sana. Tak jarang saya tersenyum melihat betapa bijak saya saat itu.

Saya sangat percaya, keinginan untuk menciptakan telah ada di setiap dari kita. Kalau kita memperhatikan sekitar, selain objek-objek alami yang telah ada dari alam, hampir segala sesuatunya adalah hasil dari buah pemikiran dan kreativitas manusia. Sebut saja komputer Anda, kursi, meja, HP, buku, tas, lemari, apapun dan mungkin semuanya, adalah hasil dari daya pikir dan daya cipta manusia. Itulah yang membedakan manusia dari spesies hewan apapun di muka bumi, kemampuan untuk menciptakan dan melahirkan sesuatu yang baru.

Sebaliknya, nilai kebahagiaan kita berkurang ketika kita tidak bisa mengekspresikan diri kita secara bebas dan kreatif. Kita bisa saja menjadi sukses dalam pekerjaan kita dan mampu membeli benda yang kita butuhkan dan inginkan. Tetapi jika hal itu memendam kebebasan kita untuk menjadi pribadi yang kreaif, sepertinya bekerja seperti robot, melakukan hal yang sama setiap hari setiap saat, hal yang paling mungkin terjadi adalah hidup kita menjadi membosankan dan tidak menarik.

Tentu saja, tidak semua hal dalam hidup dan pekerjaan mengizinkan kita untuk mengeksplorasi dan menyatakan kreativitas kita. Tidak semua dari kita bekerja pada imdustri kreatif. Tidak semua dari kita bahkan tertarik pada seni atau pekerjaan yang melibatkan seni, apalagi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap desain dan bagaimana suatu karya tercipta. Beberapa dari kita cukup cerdas untuk bertahan dengan kertas kerja atau pekerjaan mengelola sesuatu atau seseorang.

Walaupun demikian, kita menemukan diri kita berada pada zona paling bahagia dan puas ketika kita bisa menciptakan hal baru, yang sederhana namun mudah dipahami dan bermanfaat. Mungkin itu secarik puisi, sebuah cerpen, video singkat tentang tutorial melakukan sesuatu, sebait senandung, sebuah gambar, benda palsu mainan, gelang manik-manik kecil, sebuah susunan mainan robot, rumah-rumahan, rel kereta api mainan, pesawat kecil, nugget rumahan, sepiring pasta lezat, bolu manis, segelas minuman menggoda, sweater jahitan tangan sendiri, kerajinan tangan, tanaman hias rawatan sendiri, hewan peliharaan, atau segala sesuatu apapun itu yang kita nikmati untuk lakukan di waktu senggang kita.

Kebahagiaan dan kepuasan saat memanggang kue yang lezat atau makanan bagi keluarga dan teman dapat menghilangkan kepenatan setelah seharian otak kita diminta untuk menunjukkan “taringnya”. Ada sebuah pencapaian ketika kita melihat hasilnya dan kepuasan itu tidak akan tergantikan oleh sesuatu apapun di dunia. Rasa bangga itu ada karena itu adalah bentuk pengekspresian diri. Ada kebanggaan ketika kita bisa menciptakan sesuatu dari yang bukan sesuatu.


Maka itu, selalu sediakan waktu untuk menuangkan kreativitas Anda dalam bentuk apapun. Otak kita menghargai stimulus yang diberikan dan jiwa kita pantas menunjukkan cara mengekspresikan diri. Karena kreativitas, baik itu dalam bidang seni, musik, sastra dan hobi seperti memasak, memancing, kerajinan tangan, berkebun, membuat patung, dan segala sesuatu yang melibatkan tangan untuk bekerja, adalah bahasa nyata bagi jiwa untuk bersuara.


Kamis, 09 April 2015

Seni dari Mendengarkan

Mendengarkan itu memiliki seni. Saya tidak mengetahuinya sampai suatu buku atau barangkali teman (ceritanya ini randomly ngetik karena semalam mimpi naik pesawat terbang babi bersayap, hahaha) memberitahu saya bahwa ada tingkatan yang berbeda-beda dalam mendengarkan. Seperti yang kita tahu, mendengarkan dan mendengar itu adalah dua hal yang berbeda. Saat Anda duduk di dalam angkutan umum bersama orang yang Anda kenal, Anda mendengar suara bising jalanan, seperti aspal yang tergesek atau supir yang meneriakkan kepada penumpang untuk mepet. Di lain sisi, barangkali Anda mendengarkan cerita teman Anda. Mendengar adalah suatu proses yang pasti dialami indera kita seiring kita hidup dan telinga kita bekerja, tapi mendengarkan adalah ketika kita menerima suara itu dan mengirimkannya kepada impuls otak untuk dicerna dan dipahami.

Kita bisa secara fisik mendengar orang berbicara. Banyak dari kita hanya berhenti pada tahap mendengar, yang itu berarti, seluruh suara yang masuk dalam pikiran hanya berakhir tidak berarti.

Hal lain untuk diingat adalah kita dilengkai dengan dua telinga, yang berarti manusia diminta untuk menjadi pendengar yang baik. Namun, banyak dari kita yang memperkerjakan lidah kita lebih lama daripada telinga ketika berkomunikasi. Kita cenderung untuk berbicara daripada mendengarkan. Bahkan ketika terlihat seolah-olah sedang mendengarkan orang lain berbicara pun, tak jarang kita menghitung-hitung, menduga-duga di dalam pikiran, kira-kira kapan saat yang paling tepat untuk menenayakan pertanyaan apa.

Sebenarnya, apa yang dibutuhkan untuk berbicara adalah, mulut yang terbuka, dengan lidah yang menyesuaikan bentuk kata, dan pita suara. Sisanya, yang jauh lebih penting adalah keingingan hati untuk mendengarkan lawan bicara dengan sepenuh hati.

Pada kenyataannya, memusatkan perhatian untuk benar-benar berada di tempat saat itu, mendengarkan lawan bicara, agak sulit dilakukan. Untuk beberapa orang, hal itu bahkan membosankan.

Cara kita mendengarkan menentukan kualitas komunikasi dan kualitas hubungan kita. Ketika kita mendengarkan dengan hati, ketika jiwa kita benar-benar berada di dalam raga kita ketika orang lain butuh untuk didengarkan, ketika itulah lawan bicara kita merasa diperhatikan, dipedulikan, dan dihargai. Mengagumkan melihat hubungan kita bertumbuh dan berevolusi dengan dahsyat ketika kita benar-benar bisa mengembangkan seni dari mendengarkan.


Jumat, 03 April 2015

Fakta Menyedihkan tentang Manusia

Luangkan waktu Anda 5 menit dan mungkin Anda baru akan sadar tentang fakta paling menyedihkan dari manusia.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang senang membinasakan makhluk hidup lain.
Manusia pergi ke sungai, melihat buaya, lalu berlari minta tolong kepada orang untuk membunuh buaya itu. Hei, apa yang salah dengannya? Di sanalah rumahnya. Memang seharusnya buaya berada di sana.

Lagi.

Manusia pergi ke hutan, atau gunung, atau tempat sejenis itu. Manusia melihat harimau, kemudian berlari kabur dan pergi lagi membawa senapan atau bahkan membakar hutan. Hei, apa yang salah? Di sanalah rumahnya. Lagi, manusia senang membinasakan makhluk lain.

Masih mengatakan “bukan saya”?

Manusia menyemprotkan obat pembasmi serangga demi membinasakan semut, kecoak, dan lain sebagainya.

Manusia melihat cicak dan terbesit ide untuk membinasakannya.

Hal ini, yang paling sering, manusia membunuh nyamuk, bahkan semut. (Oke, kalau sudah di level sangat mengganggu mungkin bisa dipertimbangkan.)

Ada lagi.

Manusia melihat bunga cantik. Manusia memetiknya, menunjukkan keindahannya pada manusia lain dan lalu menelantarkannya. Manusia senang membinasakan makhluk hidup lain.

Manusia berjalan kaki. Ada jalan yang panjang dan ada shortcut yaitu dengan menginjak rumput. Manusia menginjak rumput. Tak tahukah manusia bahwa rumput juga bernapas?

Lagi-lagi, manusia senang membinasakan makhluk hidup lain.


Apakah manusia masih ingin lari dari kenyataan ini