Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, salah satu anugerah paling
luar biasa yang kita miliki adalah anugerah untuk menciptakan. Perhatikan
anak-anak kecil di sekitar Anda. Berikan mereka seperangkat pensil warna,
mainan blok, mainan lego, sebongkah clay, lidi-lidi kecil, apapun yang bisa
Anda beri, dan mereka akan menyusun, membentuk, memoles, menciptakan sesuatu
yang baru. Dan bukan hanya benda yang mereka ciptakan, melainkan juga cerita
dan petualangan. Dan jangan lupa perhatikan gerak mulut dan ekspresi mereka
ketika mereka menceritakannya dengan semangat yang membara-bara dari api yang
bersinar keluar dari mata mereka. Imajinasi anak-anak, menurut saya, sungguh
“liar”.

Saya juga sempat menjadi anak-anak dan itu merupakan salah
satu masa paling imajinatif yang bisa saya bayangkan. Tembok di rumah adalah
kanvas sejati. Kalau bukan ibu saya yang melindungi keputihan dinding rumah
dari coretan jahil saya, mungkin dinding rumah kami sekarang akan penuh dengan
warna-warni spidol, pensil warna, dan mungkin krayon. Dan tak perlu lebih dari
lima detik bagi saya untuk menyadari betapa saya adalah seorang pelukis amatir
dengan level di bawah nol. Kembali saya buka catatan masa kecil saya, hampir di
setiap lembar dari buku catatan saya, saya temukan garis-garis dan
gambar-gambar yang seharusnya tidak berada di sana. Dan saya percaya, tidak
sedikit dari Anda yang juga melakukannya. Ayo ngaku?
Betapa masa kanak-kanak diisi oleh goresan-goresan tak jelas,
coretan-coretan yang mungkin tak berarti, gambar-gambar lucu yang terkadang
bagus juga kalau dilihat, tulisan cepat sampai-sampai hampir tak terbaca,
arsiran uang 500 rupiah dengan gambar Pancasila, lukisan wajah guru, bentuk
kelas, tulisan curahan hati tentang betapa bahagianya hari itu, apapun,
segalanya, kreativitas, bisa ditumpahkan di bagian atas dari buku.
Intinya, setiap space putih kosong di buku adalah
lahan yang menyegarkan untuk memulai kreativitas baru. Dan sama seperti mie
ayam bakso gratis di kala hujan lebat, itu akan selalu terlihat lezat.
Dan walaupun jurusan perkuliahan saya bukanlah seni, saya
memiliki buku gambar sendiri. Yang jelas bukan buku gambar A3 yang harus diberi
garis tepi 2cm dengan kotak kecil di pojokan bertuliskan nama dan NIM. Di sana,
saya menuangkan segala pikiran saya. Entah itu cerita bahagia atau pelajaran
berharga. Terkadang saya menggambar ringkas untuk memperkuat penjelasan suatu
cerita. Dan selalu ada kerinduan tersendiri untuk kembali membuka buku ambar
itu dan melihat cerita yang tertuang di sana. Tak jarang saya tersenyum melihat
betapa bijak saya saat itu.
Saya sangat percaya, keinginan untuk menciptakan telah ada di
setiap dari kita. Kalau kita memperhatikan sekitar, selain objek-objek alami
yang telah ada dari alam, hampir segala sesuatunya adalah hasil dari buah
pemikiran dan kreativitas manusia. Sebut saja komputer Anda, kursi, meja, HP,
buku, tas, lemari, apapun dan mungkin semuanya, adalah hasil dari daya pikir
dan daya cipta manusia. Itulah yang membedakan manusia dari spesies hewan
apapun di muka bumi, kemampuan untuk menciptakan dan melahirkan sesuatu yang
baru.

Sebaliknya, nilai kebahagiaan kita berkurang ketika kita
tidak bisa mengekspresikan diri kita secara bebas dan kreatif. Kita bisa saja
menjadi sukses dalam pekerjaan kita dan mampu membeli benda yang kita butuhkan
dan inginkan. Tetapi jika hal itu memendam kebebasan kita untuk menjadi pribadi
yang kreaif, sepertinya bekerja seperti robot, melakukan hal yang sama setiap
hari setiap saat, hal yang paling mungkin terjadi adalah hidup kita menjadi
membosankan dan tidak menarik.
Tentu saja, tidak semua hal dalam hidup dan pekerjaan
mengizinkan kita untuk mengeksplorasi dan menyatakan kreativitas kita. Tidak
semua dari kita bekerja pada imdustri kreatif. Tidak semua dari kita bahkan
tertarik pada seni atau pekerjaan yang melibatkan seni, apalagi memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi terhadap desain dan bagaimana suatu karya tercipta.
Beberapa dari kita cukup cerdas untuk bertahan dengan kertas kerja atau
pekerjaan mengelola sesuatu atau seseorang.

Walaupun demikian, kita menemukan diri kita berada pada zona
paling bahagia dan puas ketika kita bisa menciptakan hal baru, yang sederhana
namun mudah dipahami dan bermanfaat. Mungkin itu secarik puisi, sebuah cerpen,
video singkat tentang tutorial melakukan sesuatu, sebait senandung, sebuah
gambar, benda palsu mainan, gelang manik-manik kecil, sebuah susunan mainan
robot, rumah-rumahan, rel kereta api mainan, pesawat kecil, nugget rumahan,
sepiring pasta lezat, bolu manis, segelas minuman menggoda, sweater jahitan
tangan sendiri, kerajinan tangan, tanaman hias rawatan sendiri, hewan
peliharaan, atau segala sesuatu apapun itu yang kita nikmati untuk lakukan di
waktu senggang kita.
Kebahagiaan dan kepuasan saat memanggang kue yang lezat atau
makanan bagi keluarga dan teman dapat menghilangkan kepenatan setelah seharian
otak kita diminta untuk menunjukkan “taringnya”. Ada sebuah pencapaian ketika
kita melihat hasilnya dan kepuasan itu tidak akan tergantikan oleh sesuatu
apapun di dunia. Rasa bangga itu ada karena itu adalah bentuk pengekspresian
diri. Ada kebanggaan ketika kita bisa menciptakan sesuatu dari yang bukan
sesuatu.
Maka itu, selalu sediakan waktu untuk menuangkan kreativitas
Anda dalam bentuk apapun. Otak kita menghargai stimulus yang diberikan dan jiwa
kita pantas menunjukkan cara mengekspresikan diri. Karena kreativitas, baik itu
dalam bidang seni, musik, sastra dan hobi seperti memasak, memancing, kerajinan
tangan, berkebun, membuat patung, dan segala sesuatu yang melibatkan tangan
untuk bekerja, adalah bahasa nyata bagi jiwa untuk bersuara.