Minggu, 31 Mei 2015

Orang Bahagia

Menjadi orang bahagia adalah tentang keputusan hidup.

Saya yakin Anda masuk paling tidak satu dari beberapa kategori di bawah ini. Dan dengan begitu pula saya berani mendeklarasikan bahwa Anda adalah orang bahagia (OB). Selamat membaca.

·        Orang bahagia akan kaget ketika pagi hari dibangunkan oleh alarm, atau mungkin anak kos, mungkin juga ibu kos. Hal yang patut mereka bahagiakan adalah kenyataan bahwa mereka masih boleh hidup.

·    Orang bahagia juga akan bangkit dari ranjangnya, melepas kehangatan selimut, untuk bersiap-siap melanjutkan petualangan setelah beristirahat sepertiga hari lamanya. Mereka bahagia karena diberikan kesempatan untuk tidak menjadi orang yang gagal.

·      Mereka para OB juga tahan hinaan. Bahagia bukan menyadari bahwa orang lain mempedulikan kita? Bahkan orang lain sangat perhatian dan hinaan itu menjadi batu loncatan.

·       Ada kemungkinan juga OB pakaiannya mengetat. Itu berarti para OB tidak kekurangan makan. Kalau pakaian/celananya melonggar, itu bahagia uga, tandanya para OB punya segudang aktivitas, dan itu menandakan mereka aktif dan penting dalam kehidupan bermasyarakat.

·         Kriteria terakhir ini, kriteria yang saya banget. OB cenderung kurang tidur. Banyak hal yang harus mereka lakukan, mereka punya tanggung jawab. Tidur delapan jam sehari menjadi salah satu fenomena mewah. Meskipun begitu, mereka punya hubungan sosial yang baik karena apa yang mereka kerjakan biasanya berhubungan langsung dengan kebaikan banyak orang.


Itulah ciri-ciri orang bahagia ala saya. Semoga memberikan hiburan yang mencerahkan.

Minggu, 24 Mei 2015

Cinta

Topik saya hari ini agak langka. Saya lupa kapan terakhir kalinya saya ingin menulis tentang cinta. Sudah ribuan tahun lamanya sejak sebelum Sung Go Kong bebas dari gunung batu. *ini mulai ngaco*

"Cie...Jatuh cinta..."
Bukan, saya tidak sedang jatuh cinta pada seseorang. Saya bahkan lupa kapan terakhir kalinya saya jatuh cinta. Tidak mudah bagi seseorang yang sudah pernah terluka secara dalam untuk jatuh cinta kedua kalinya. Bukan karena ia belum bisa move on, tapi lebih karena ia belum menemukan jawaban iya atas pertanyaannya selama ini, "Mungkinkah dia orang yang cocok? The last one for me?"

Terlatih patah hati? Tidak.
Hanya sekali, tapi sekali itu bisa menjadi guru yang hebat kalau terluka dengan sangat dalam.

Apa cinta itu?
Anda di sini bukan untuk membaca definisi cinta antara dua manusia. Ada definisi cinta yang jauh lebih dalam dan lebih luas daripada itu.

Menurut De Vito, cinta adalah perasaan yang ditandai dengan kedekatan dan kepedulian dan keintiman, hasrat, dan komitmen.

Tapi, seiring bergesernya waktu, cinta bisa jadi adalah kata yang paling banyak digunakan, disalahgunakan, dan dilecehkan oleh manusia.

Keduanya benar bagi saya. Tapi, seiring bertambah dewasa, saya lebih sering menemukan definisi cinta menurut De Vito. Cinta itu sendiri, bisa terjadi antara ibu dan anak, suami dan istri, kakak dan adik, dan sebagainya.

Berhubung saya sulit sekali jatuh cinta pada pria, kali ini saya akan menceritakan cinta saya yang lain. Hari ini saya baru saja mengadakan garage sale untuk menggalang dana bagi anak-anak di desa Rumpin mengunjungi kampus saya, Universitas Multimedia Nusantara. Kegiatan ini merupakan aksi sosial yang diadakan oleh "CSR" kampus.

Saya belum pernah bertemu dengan anak-anak desa Rumpin, tetapi ada sesuatu yang saya sebut bibit cinta, yang mengiyakan tawaran hati nurani saya untuk ikut melakukan garage sale. Dan luar biasa hasil yang didapatkan selama empat jam berteriak-teriak, tersenyum, menawar harga, dan mengajak warga sekitar untuk sayang keluarganya dengan membeli baju murah yang kami jajakan. Walaupun suara dan tenaga lumayan habis, saya masih heran, cinta Tuhan pada saya memampukan saya menulis artikel ini di tengan malam dengan banyak kegiatan dan materi kuis esok hari. Ada cinta dari Tuhan pada saya, cintanya itu saya berikan pada anak-anak desa Rumpin. Dan ada cinta yang muncul dari ibu-ibu yang membelikan pakaian untuk anak mereka. Begitu banyak cinta di dunia ini.

Dan benar juga lantunan Delon, semua karena cinta.

I can't imagine if there is no more love in this world.

Senin, 18 Mei 2015

Cerah Berkat Anjing

Salah satu hari paling menyenangkan dari menjadi perempuan adalah memiliki wajah yang cerah, apalagi kalau cerah itu cerah secara alami. Pengalaman saya barusan dan beberapa menit yang lalu menggerakkan jari saya untuk berbagi cara menjadi cerah alami.
Hari ini, dengan tak diduga-duga, seekor anjing sukses memutihkan wajah saya.

Saya sudah mengajar beberapa bulan di rumah rekan kerja saya, saya mengajar anaknya. Rekan kerja saya ini selalu menceritakan bahwa ia memiliki seekor anjing gila yang suka menggigit orang. Ia lupa menceritakan kalau ia punya dua ekor anjing. Putrinya sendiri pernah digigit anjing. PRT nya pun memilih berhenti bekerja karena takut dengan anjingnya.

Hari ini, tibalah giliran saya. Saya turun ke bawah untuk mengambil segelas air minum. Saya meninggalkan bau tubuh saya di lantai dapur. Selang beberapa menit kemudian, rekan kerja saya membiarkan anjingnya berkelana bebas. Tentu saja yang ia keluarkan adalah anjing waras. Ketika saya turun lagi, dan selama ini tidak pernah merasa unsave dengan kehadiran anjing, anjing ini tiba-tiba mendekati saya.

Saya kira itu adalah anjing gila yang suka gigit orang. Benar saja, ia mendekat makin agresif. Saya deg-degan bukan kepalang, Saya kabur, naik ke atas tangga dan merasa save di sana. Pikiran saya salah, si anjing ternyata bisa naik tangga! Jadilah saya lari terbirit-birit menaiki tangga, sambil menggendong tas di punggung yang berisi tiga buah buku, tangan saya masing-masing memeluk botol minuman dengan volume 700 ml dan botol air mineral 1 liter. Saya berlari sekencang-kencangnya. Saking cepatnya, mata saya berair. Dan Anda tahu, saya masuk ke dalam kamar murid saya dan mengunci pintu.

Wajah saya berhenti pada sebuah cermin. Terpana saya menghembuskan nafas lelah. Wajah saya begitu cerah, putih, putih sekali. Padahal saya tidak pakai obat apa-apa. Setelah itu saya tak kuasa menahan tawa. Betapa kerennya saya. Saya sendiri tidak percaya kalau saya mempu berlari dengan kcepatan sedahsyat itu. Selisih jarak antara saya dan anjing itu kurang dari 30 cm. Kaki saya bahkan bisa merasakan embusan napas dari gonggongannya. Luar biasa, menakutkan. Tapi pengalaman ini berhasil membuat wajah saya cerah alami.

Terima kasih, anjing yang saya kira gila!

Minggu, 17 Mei 2015

Dosenku Pencuri

Saya mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Saya mencintai kampus saya, alamamater saya. Tulisan yang Anda baca, judul di atas, benar adanya.

Let me tell you something, a secret.

Ada berbagai mata kuliah yang harus saya ambil, semuanya menyenangkan. Entah karena saya memang mencintai jurusan ilmu komunikasi, atau karena dosennya pencuri, atau pilihan A dan B keduanya benar? Oke, kalau begitu, jawabannya C, pilihan A dan B benar.

Dosen-dosen saya di UMN, menurut saya, semuanya pencuri. Bukan pencuri seperti Swiper pada Dora the Explorer. Mereka jauh lebih jagoan dari itu. Mereka jauh lebih keren dan berpengalaman. Tapi pada tulisan ini, saya ingin memfokuskan pada satu orang saja, yakni dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan saya, Bapak Edisius Riyadi Terre.

Tulisan ini bukanlah tugas mata kuliah saya atau cara saya melobi dosen untuk mendongkrak nilai. Tidak, bukan. Tulisan ini semata-mata sebagai cara saya menyampaikan apa yang selama ini saya pikirkan dan mungkin hampir seluruh mahasiswa didikan Bapak Edisius pikirkan.

Baiklah, the story starts here.

Mata kuliah umum hampir selalu menjadi mata kuliah yang mendapat nilai ketertarikan terendah bagi seluruh mahasiswa. Memang, saya belum melakukan survei resmi tentang ini, tetapi 9 dari 10 koresponden menyatakan demikian adanya. Saya sendiri, sewaktu mendapatkan kabar bahwa di semester kedua akan ada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, juga sudah mengernyitkan dahi dan mulai bergumam, mengenang masa SD sampai SMA yang saya habiskan dengan menguap-nguap ngantuk sampai menitikkan air mata sewaktu mengikuti mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Dan demi Planet Neptunus, bekal pendidikan sedari dua belas tahun yang lalu, yang diulang secara sama setiap tahun, mungkin dengan tambahan dan polesan sedikit di sana sini, harus kembali diulang sewaktu kuliah, yang jelas-jelas sudah diatur berdasarkan jurusan? Ada rasa malas di sana. Tapi berhubung akan dijalani dengan puluhan teman lain, mungkin rasa malas itu agaknya terasa dibagi 39 bagian.


Masih teringat jelas di bayangan saya, bagaimana “konferensi” singkat dengan teman-teman tentang pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Kami akan tertawa-tawa mengenang guru pendidikan kewarganegaraan yang rata-rata berkacamata dengan suara yang berat yang sangat mendukung untuk membelai pelajar ke alam mimpi. Intinya, pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang saya jalani selama 12 tahun, bisa jadi membawa saya pada masa-masa ngantuk. Mungkin dari ratusan pertemuan dengan aneka guru, hanya beberapa pertemuan saya saya benar-benar mencurahkan perhatian secara all-out.

Tapi, ada yang berbeda dengan sosok yang beberapa bulan lalu berdiri di hadapan saya dan teman-teman dan memperkenalkan diri. Beliau mengajar, mendidik, tetapi tidak membuat saya merasa seperti diajar. Or, I would like to conclude it like this: "Everytime I open my ears to the words he says, I know I learn something, but I don't feel like studying. And it's a lovely taste of learning."

Beliau menepati janjinya. Beliau mengatakan bahwa Beliau ingin menjadi teman belajar bagi saya dan bagi teman-teman saya. Dan benar, Beliau melakukannya. Beliau memberi ilmu dengan segenap hatinya. I can see his blaze. Ada cakrawala baru yang terkuak di kala Beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan. Dan saya suka setiap pertanyaannya yang menggelitik. Berikut ini beberapa pertanyaan Beliau yang membawa pikiran saya dan mahasiswa lain berjelajah jauh: perbedaan antara ekonomi politik dan politik ekonomi, perbedaan antara seks dan gender, perbedaan ketika membayangkan negara Indonesia sebagai daratan yang dikelilingi lautan ataukah lautan yang di dalamnya terdapat beberapa pulau/daratan. Poin-poin yang saya sebutkan barusan hanya seutas kecil cerita dari pelajaran seru yang Beliau ajak untuk eksplorasi. 

Beliau selalu sukses membawa suasana belajar di kelas menjadi suasana yang kondusif. Beliau tahu kapan saatnya memberikan pernyataan dan pertanyaan. Bagi saya, Beliau telah menepati pepatah terkenal ciptaan tokoh pergerakan nasional dalam bidang pendidikan, Ki Hadjar Dewantara; ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan merupakan hidangan penutup yang sangat memesona. Bapak Edisius telah sangat berhasil menjadikan saya warga negara Indonesia yang paham nilai-nilai kewarganegaraan. Namun, saya percaya, pendidikan kewarganegaraan yang sesungguhnya tidak berhenti sampai di sini, masih ada banyak hal yang harus saya dan jutaan masyarakat Indonesia lainnya lakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih baik lagi.

Nah, lihat, bagaimana dosen saya satu ini berhasil mencuri waktu saya untuk menulis artikel ini? Lagi-lagi, dosenku pencuri.

Yang Anda baca barusan ini, baru seperseribu aktivitas menyenangkan Ilmu Komunikasi di UMN, masih ada segudang lagi. Namun yang menjadi menarik adalah, kehadiran dosen-dosen pencuri perhatian seperti Bapak Edi.

Salam kewarganegaraan.

Senin, 04 Mei 2015

Seni dari Makan

Bahkan bukan hanya mendengarkan yang memiliki seni. Makan pun juga memiliki seni. Bukan tentang cara duduknya atau cara menyendokkan sesuatu ke mulut, bukan.


Semakin banyaknya rumah makan dan warung jajanan kecil di luar sana, dengan jumlah makanan yang tak terkira banyaknya dan kreasi yang kreatif membludak, bukan menjadi tugas yang sulit untuk memuaskan hasrat daging kita untuk makan.

One of the greatest luxuries of eating of mine is to be able to stop thinking about anything. The world is just belong to me and the thing in my mouth.


Selama makanan itu terlihat baik dan tidak beracun, kenapa tidak? Seperti halnya segala sesuatu yang dikemas dalam kaleng, kotak, plastik, alumunium, dsb, yang sering dijual di supermarket, yang menjadi santapan orang-orang sepanjang yang mereka inginkan.

Dulu, saya juga berpikir demikian. Hubungan saya dengan makanan berhenti seketika makanan itu berada di mulut saya. Makan adalah sesuatu lumrah yang dibutuhkan setiap insan. Yang diperlukan hanyalah menempatkannya di dalam mulut dan membiarkan tubuh dengan saluran pencernaannya mengemban tugas mereka. Kita tidak membutuhkan kursus spesial untuk makan.

Permasalahannya sekarang adalah, banyak dari makanan yang tersedia saat ini sudah berada pada fase sangat jauh dari kata alami dan sehat. Makanan sekarang ini telah melalui sekelibat proses panjang dengan banyak tahap, yang menjadikanya mungkin menarik secara visual, tetapi kehilangan esensi manfaatnya sebagai makanan. Mungkin tidak akan berbahaya apabila dikonsumsi sekali waktu, tapi apabila sering dikonsumsi, akan berdampak tidak baik bagi tubuh kita.


Berangkat dari lantunan Sugarnya Adam Levine, saya merasa tertantang untuk tidak makan gula selama tiga hari. Waktu yang singkat memang, tapi cukup menyiksa bagi seorang penyuka manis seperti saya. Teh saya menjadi pahit, sarapan gandum saya terasa tawar. Sangat tidak enak menghabiskan hari tanpa gula. Untuk apa saya melakukan hal ini?


Sebuah buku memberitahu saya tentang proses yang dilalui tebu untuk menjadi gula. Gula ternyata jahat, atau setidaknya, prosesnya lah yang menjadikannya cukup jahat di mata saya.

Tahukah Anda? Kecanduan manusia akan gula ikut mengambil bagian dalam penyebab kelaparan, pemerasan tenaga buruh, dan pemusnahan atas wilayah yang cukup besar yang dimiliki penduduk asli yang dibersihkan dalam rangka penanaman tebu oleh perusahaan penjajah profit?

Gula adalah akar dari banyak permasalahan dan bencana, yang mungkin banyak tidak diketahui oleh manusia, mulai dari kerusakan gigi yang ditumbulkannya sampai pada diabetes dan obesitas. Saya cukup kaget mengetahui cerita menyedihkan dibalik kristal putih mungil yang hampir selalu berhasil merangsang pikiran saya yang lelah. Ternyata makhluk manis ini punya terrible story di baliknya.

Berangkat dari hal itu juga, guru saya dulu juga mengajarkan untuk memperhatikan kandungan-kandungan yang terdapat dalam label makanan. Setiap kotak, kaleng, botol, pembungkus timah, plastik, apapun yang dijajakan di rak-rak di supermarket, semuanya memiliki label. Saya mengetahuinya. Hanya saja, saya tidak pernah memeperhatikannya.

Tahukah Anda, bagaimana seguci kecil mayonais, selai kacang atau sebungkus cemilan kentang, punya banyak sekali bahan penyusun?

Dan, nama-namanya dan persenan kandungannya, punya segudang misteri bagi saya. Hal-hal itu antara lain, pewarna makanan, zat aditif, pengawet, sampai pada aneka perisa makanan yang membuat makanan itu terlihat menarik dan tahan lama.

Semakin panjang daftar penyusunnya, semakin buatanlah makanan itu dan semakin sedikit kandungan nutrisi yang terdapat di dalamnya. Boleh saja makanan itu terlihat menarik dan terasa nikmat, tetapi makanan itu tidak begitu sehat.

Belajar untuk menyadari setiap hal yang saya konsumsi bukan hanya mengubah kebiasaan makan saya, menggantinya dengan masak bahan makanan segar kapanpun saya sempat, tetapi juga meningkatkan kesadaran saya tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh.


Jumat, 01 Mei 2015

Quotes of Mine

Here are some brief thoughts of mine gathered in one blog. Hope you guys also have the same agreement too. :) Pemikiran ini dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Best friend is the only one you can welcome with pjamas on your body.


Ga peduli seberapa gede meja yang dikasih atau seberapa gede lemari yang disediain, space kosong itu akan selalu terisi. -Anak Kos-


Setiap kali selesai membaca buku yang bagus, ada satu jeda kecil atas perasaan sedih dan kehilangan, berharap-harap akankan saya menemukan buku yang bagus lagi...dan apakah hanya saya seorang diri yang merasakannya...entahlah.


Bagi saya, orang yang takut air sedunia, mampu berenang sejauh 6-7 meter dan menyelam selama kurang lebih 30 detik adalah suatu kebanggan tersendiri. Ada prestasi di sana. Dan entah mengapa, akan selalu ada perasaan deg-degan setiap kali kulit saya menyentuh dinginnya air.


Turning on your playlist in order to prevent you from falling asleep when doing your uncountable task and at the end find you sink into the song and start dancing and humming instead of finishing your task.


Enjoying a plate of kangkung may not buy  me a ticket to home, but there are quality seconds of the feeling of home.
Who else do this?


I don't do the things I love for living. On the contrary. I do living for doing the things I love. May be I will be glad to be called "A Passionpreneur".

That moment when you and your friends are staring at one to another in silence, and you all just like put a suspicious smile and say in your eyes, "Aha! I know what you're thinking about!"

Orang bilang berkelana itu memperluas cakrawala. Itu benar.Tapi membaca buku juga memperluas cakrawala. Kalau berkelana dengan menggerakkan kaki, kalau "berkelana" tipe kedua dengan menggerakkan mata dan bermain hati.

Pernah ga sih beli barang bagus yang lagi diskon di mall lalu kembali ke toko yang sama suatu waktu di masa depan buat ngecek apakah barang itu masih diskon atau nggak. Dan jingkrak-jingkrak kegirangan kalau itu barang ternyata kembali ke harga normal, sebaliknya kecewa banget kalo ternyata diskonnya ditambah.

That freezing moment when you see someone and you both just like know each other but forget each other's name and when and where you meet.

For boys and girls, at one point or another, I believe you all have fallen for your friends, may be just one day, two days, or more. But you, have fallen for each other.

Putting "wkwkwk"or "hahaha" in a text with no meaning even any expression of emotion just to avoid the assumption of serious text.