Topik saya hari ini agak langka. Saya lupa kapan terakhir kalinya saya ingin menulis tentang cinta. Sudah ribuan tahun lamanya sejak sebelum Sung Go Kong bebas dari gunung batu. *ini mulai ngaco*
"Cie...Jatuh cinta..."
Bukan, saya tidak sedang jatuh cinta pada seseorang. Saya bahkan lupa kapan terakhir kalinya saya jatuh cinta. Tidak mudah bagi seseorang yang sudah pernah terluka secara dalam untuk jatuh cinta kedua kalinya. Bukan karena ia belum bisa move on, tapi lebih karena ia belum menemukan jawaban iya atas pertanyaannya selama ini, "Mungkinkah dia orang yang cocok? The last one for me?"
Terlatih patah hati? Tidak.
Hanya sekali, tapi sekali itu bisa menjadi guru yang hebat kalau terluka dengan sangat dalam.
Apa cinta itu?
Anda di sini bukan untuk membaca definisi cinta antara dua manusia. Ada definisi cinta yang jauh lebih dalam dan lebih luas daripada itu.
Menurut De Vito, cinta adalah perasaan yang ditandai dengan kedekatan dan kepedulian dan keintiman, hasrat, dan komitmen.
Tapi, seiring bergesernya waktu, cinta bisa jadi adalah kata yang paling banyak digunakan, disalahgunakan, dan dilecehkan oleh manusia.
Keduanya benar bagi saya. Tapi, seiring bertambah dewasa, saya lebih sering menemukan definisi cinta menurut De Vito. Cinta itu sendiri, bisa terjadi antara ibu dan anak, suami dan istri, kakak dan adik, dan sebagainya.
Berhubung saya sulit sekali jatuh cinta pada pria, kali ini saya akan menceritakan cinta saya yang lain. Hari ini saya baru saja mengadakan garage sale untuk menggalang dana bagi anak-anak di desa Rumpin mengunjungi kampus saya, Universitas Multimedia Nusantara. Kegiatan ini merupakan aksi sosial yang diadakan oleh "CSR" kampus.
Saya belum pernah bertemu dengan anak-anak desa Rumpin, tetapi ada sesuatu yang saya sebut bibit cinta, yang mengiyakan tawaran hati nurani saya untuk ikut melakukan garage sale. Dan luar biasa hasil yang didapatkan selama empat jam berteriak-teriak, tersenyum, menawar harga, dan mengajak warga sekitar untuk sayang keluarganya dengan membeli baju murah yang kami jajakan. Walaupun suara dan tenaga lumayan habis, saya masih heran, cinta Tuhan pada saya memampukan saya menulis artikel ini di tengan malam dengan banyak kegiatan dan materi kuis esok hari. Ada cinta dari Tuhan pada saya, cintanya itu saya berikan pada anak-anak desa Rumpin. Dan ada cinta yang muncul dari ibu-ibu yang membelikan pakaian untuk anak mereka. Begitu banyak cinta di dunia ini.
Dan benar juga lantunan Delon, semua karena cinta.
I can't imagine if there is no more love in this world.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar