Sabtu, 24 Januari 2015

Teman Sepintas Hinggap - A Second Pierching Friend



A Second Pierching Friend

Have you ever imagined how an 18-year-old-young-Indonesian-lady-university-student being this close to a 35-year-old-Chinese-entrepeneur-dad?



This may not be my campus task or occupation assignment, but I mean every single word of this writing.

Saya hanyalah mahasiswa semester awal. Yang membedakan saya dari mahasiswa seumuran saya adalah saya bisa berbahasa Mandarin, yang menjadikan saya berkesempatan mengajar di salah satu PT bahasa asing yang mengajarkan tujuh bahasa asing lainnya, membuat saya bisa berjumpa dengan banyak sekali orang dari lain benua. Profesi saya sebagai guru Mandarin ini suatu hari mengantarkan saya pada perjumpaan dengan seorang pria bermata sipit dengan potongan rambut ala tentara, kulit putih dan pembawaan wajahnya yang oriental, mengirimkan pesan ke mata setiap insan bahwa ia berasal dari daratan bambu, daratan China, bahasa yang lumayan saya kuasai. Saya katakan lumayan karena saya baru mendalaminya selama satu tahun lebih, masih banyak kosakata yang harus saya kuasai.

Masih saya ingat, perjumpaan pertama kali itu, saya sangat antusias. Bukan karena penampilannya yang menarik atau senyumnya yang ramah, tapi lebih karena saya suka berinteraksi dengan orang asing, apalagi orang yang sedang saya lihat ini berasal dari daratan di mana bahasa yang sungguh saya cintai setelah bahasa Indonesia berasal.

Bermodalkan pembelajaran saya selama setahun, kami pun berkomunikasi. Kebetulan guru saya dulu sering membiasakan saya mendengar dan berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, jadi saya tidak menemukan kesulitan yang berarti saat berkomunikasi dengannya. Sebut saja namanya Frank. Ya, memang itu namanya.

Masih saya ingat pertemuan pertama kami, ketika berkenalan, saya bisa membaca raut matanya seolah mengatakan, “Thanks God, she can speak Chinese, I got one new friend!” Atau barangkali itu persepsi saya saja? Entahlah.

Dan baru-baru ini saya menanyakan padanya, di suatu kesempatan di tepi kolam, ditemani cahaya kuning lampu remang-remang, beberapa meja dengan payung ala pantai, pohon kelapa yang tinggi, kolam renang dengan patung ikan menyemburkan air di sisi-sisinya, berbaring di bawah sinar rembulan di atas kursi kayu yang bisa diatur kemiringannya, ia mengaku bahwa ia menyangka saya adalah orang China juga, sama sepertinya. Suatu kebanggaan yang cukup membayar segala uncomfort zone yang saya lalui selama belajar bahasa Mandarin.

Saya sudah lupa persis apa yang kami bicarakan pada jumpa pertama. Yang saya ingat hanya kesannya saja, ia pria yang menyenangkan, teman ngobrol dan belajar yang asik.
Dan kalian tahu, dari berkenalan dengannya, saya mendapatkan cerita yang tak pernah mati, cerita yang akan selalu saya ingat dan saya kembali ceritakan kepada murid-murid saya, mulai dari ketidakmampuannya mengucapkan son sampai pada “hompimpa” ala China.

Hari itu Frank sedang belajar bahasa Indonesia di meja bundar yang terletak tak jauh dari meja Customer Service. Ia mengeja daftar-daftar suku kata yang ada di bukunya, bermacam-macam. Untuk memperjelas pemahaman Anda, saya tuliskan sebagian darinya: dam, dim, dum, dem, dom. Kira-kira begitulah. Saya berkesempatan duduk di sana, di antaranya dan seorang guru bahasa Indonesia yang sebenarnya merupakan guru bahasa Jerman.

Jadi bahasa penghubung mereka (lingua franca) adalah bahasa Inggris. Kebetulan ada kata dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia yang tidak ada dalam bahasa Inggris, yaitu kamu dan Anda. Jadilah saya menembak kosakata itu dengan sekali sikat, ia langsung paham. Saya merasa ‘berguna’. Dan lalu saya merasa ingin menjadi penerjemah mereka. Terkadang kalau saya sempat, saya mengikuti kelas mereka dan mengomunikasikan apa yang bisa saya sampaikan.

Sepenggal kejadian di atas hanya satu dari sekian banyak hal yang telah saya lalui bersama Frank. Ada begitu banyak kejadian yang kami lalui bersama dalam hitungan satu minggu.
Saya bisa melihat senyum bahagianya saat ber-video call bersama istrinya(yang tenyata namanya sama dengan saya) dan putranya. Ia sangat tertarik belajar bahasa Indonesia. Ia pemakan segala. Ia pria yang tangguh dengan potongan rambut sederhana(potongan yang ia miliki empat tahun belakangan mengingat kesehariannya memakai helm saat membangun terowongan ketika dulu berada di China). Ia sosok yang peduli. Ia takut merasa mengganggu. Ia penyuka lagu Cantonese dan ia menularkannya pada saya. Ia suka bernyanyi di mobil atau bernyanyi dengan iringan gitar, tapi tidak suka berkaraoke. Ia suka martabak dan oseng, ia juga suka sate. Ia suka hampir segala jenis makanan. Ia lebih menyukai daging ayam ketimbang babi. Ia ramah, mudah berteman dengan siapa saja. Ia sangat suka belajar hal baru. Sekali ia memutuskan untuk belajar, ia tidak akan tidak bersungguh-sungguh. Bahkan ia mencatat setiap detail kata dalam pembicaraan kami via whatsapp dalam sebuah buku hitam kecil dan menanyakannya kepada saya kala berjumpa(hal ini cukup menyentuh saya). Ia penepat janji(ia bahkan memeluk tiang sambil mengatakan I love you, sesuai dengan janjinya pada saya). Ia suka memainkan gunting batu kertas. Ia suka hampir segala macam hal yang saya suka. Ia penyuka segala.

Ia mengajarkan saya begitu banyak hal. Ia tidak pernah berhanti belajar, dan itu adalah hal paling favorit yang saya suka darinya. Ia pandai menikmati hidup walaupun sedang bersedih hati. Ia tidak pernah tidak melakukan sesuatu, ia selalu menyibukkan diri. Ia suka bernyanyi di dalam mobil di hari hujan. Terkadang ia berenang di malam hari seorang diri untuk menghabiskan waktu. Ia suka makan buah. Ia suka mencoba hal-hal baru. Ia tidak terbiasa bangun pagi. Ia mungkin suka bermain golf. Ia memberi dengan tulus, tersenyum dengan tulus.

Ia menunujukkan saya bagaimana cara menyesap air langsung dari mangkuknya. Ia memberitahu saya seni minum arak. Ia juga menceritakan kebiasaan orang China yang berjalan kaki malam hari seusai makan. Ia baru tahu ada jurusan Desain Komunikasi Visual dari saya. Ia juga terkagum-kagum mendengar cerita saya tentang bagaimana seseorang bisa tertidur di atas paku atau berjalan di atas beling. Ia dan saya bertukar begitu banyak cerita dan budaya. Tapi di balik itu semua, kami berdua sama-sama belajar bahwa inti dari komunikasi adalah, si penerima pesan menerima maksud yang disampaikan oleh si pengirim pesan. Entah itu dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris,bahasa Mandarin, sekalipun bahasa tubuh. Kata-kata yang keluar dari hati akan selalu bisa tersampaikan dengan hati juga. Kami bertukar banyak sekali pikiran.

Mengagumkan bukan mendapati kemiripan latar belakang budaya bisa melahirkan pertemanan lintas budaya, lintas usia dan lintas profesi?

Sampai pada detik ini, saya sering bingung harus memanggilnya apa. Too old to be called brother, too young to be called uncle or even father. But finally I find that everytime I want to talk to him, I just need to count on him and he’ll be there.