A Second Pierching Friend
Have you ever imagined how an
18-year-old-young-Indonesian-lady-university-student being this close to a
35-year-old-Chinese-entrepeneur-dad?
This may
not be my campus task or occupation assignment, but I mean every single word of
this writing.
Saya hanyalah mahasiswa semester awal. Yang membedakan saya
dari mahasiswa seumuran saya adalah saya bisa berbahasa Mandarin, yang
menjadikan saya berkesempatan mengajar di salah satu PT bahasa asing yang
mengajarkan tujuh bahasa asing lainnya, membuat saya bisa berjumpa dengan
banyak sekali orang dari lain benua. Profesi saya sebagai guru Mandarin ini
suatu hari mengantarkan saya pada perjumpaan dengan seorang pria bermata sipit
dengan potongan rambut ala tentara, kulit putih dan pembawaan wajahnya yang
oriental, mengirimkan pesan ke mata setiap insan bahwa ia berasal dari daratan
bambu, daratan China, bahasa yang lumayan saya kuasai. Saya katakan lumayan
karena saya baru mendalaminya selama satu tahun lebih, masih banyak kosakata
yang harus saya kuasai.
Masih saya ingat, perjumpaan pertama kali itu, saya sangat
antusias. Bukan karena penampilannya yang menarik atau senyumnya yang ramah,
tapi lebih karena saya suka berinteraksi dengan orang asing, apalagi orang yang
sedang saya lihat ini berasal dari daratan di mana bahasa yang sungguh saya
cintai setelah bahasa Indonesia berasal.
Bermodalkan pembelajaran saya selama setahun, kami pun
berkomunikasi. Kebetulan guru saya dulu sering membiasakan saya mendengar dan
berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, jadi saya tidak menemukan kesulitan yang
berarti saat berkomunikasi dengannya. Sebut saja namanya Frank. Ya, memang itu
namanya.
Masih saya ingat pertemuan pertama kami, ketika berkenalan,
saya bisa membaca raut matanya seolah mengatakan, “Thanks God, she can speak
Chinese, I got one new friend!” Atau barangkali itu persepsi saya saja?
Entahlah.
Dan baru-baru ini saya menanyakan padanya, di suatu
kesempatan di tepi kolam, ditemani cahaya kuning lampu remang-remang, beberapa
meja dengan payung ala pantai, pohon kelapa yang tinggi, kolam renang dengan
patung ikan menyemburkan air di sisi-sisinya, berbaring di bawah sinar rembulan
di atas kursi kayu yang bisa diatur kemiringannya, ia mengaku bahwa ia
menyangka saya adalah orang China juga, sama sepertinya. Suatu kebanggaan yang
cukup membayar segala uncomfort zone yang saya lalui selama belajar
bahasa Mandarin.
Saya sudah lupa persis apa yang kami bicarakan pada jumpa
pertama. Yang saya ingat hanya kesannya saja, ia pria yang menyenangkan, teman
ngobrol dan belajar yang asik.
Dan kalian tahu, dari berkenalan dengannya, saya mendapatkan
cerita yang tak pernah mati, cerita yang akan selalu saya ingat dan saya
kembali ceritakan kepada murid-murid saya, mulai dari ketidakmampuannya
mengucapkan son sampai pada “hompimpa” ala China.
Hari itu Frank sedang belajar bahasa Indonesia di meja bundar
yang terletak tak jauh dari meja Customer Service. Ia mengeja
daftar-daftar suku kata yang ada di bukunya, bermacam-macam. Untuk memperjelas
pemahaman Anda, saya tuliskan sebagian darinya: dam, dim, dum, dem, dom.
Kira-kira begitulah. Saya berkesempatan duduk di sana, di antaranya dan seorang
guru bahasa Indonesia yang sebenarnya merupakan guru bahasa Jerman.
Jadi bahasa penghubung mereka (lingua franca) adalah
bahasa Inggris. Kebetulan ada kata dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia yang
tidak ada dalam bahasa Inggris, yaitu kamu dan Anda. Jadilah saya menembak
kosakata itu dengan sekali sikat, ia langsung paham. Saya merasa ‘berguna’. Dan
lalu saya merasa ingin menjadi penerjemah mereka. Terkadang kalau saya sempat,
saya mengikuti kelas mereka dan mengomunikasikan apa yang bisa saya sampaikan.
Sepenggal kejadian di atas hanya satu dari sekian banyak hal
yang telah saya lalui bersama Frank. Ada begitu banyak kejadian yang kami lalui
bersama dalam hitungan satu minggu.
Saya bisa melihat senyum bahagianya saat ber-video call
bersama istrinya(yang tenyata namanya sama dengan saya) dan putranya. Ia sangat
tertarik belajar bahasa Indonesia. Ia pemakan segala. Ia pria yang tangguh
dengan potongan rambut sederhana(potongan yang ia miliki empat tahun belakangan
mengingat kesehariannya memakai helm saat membangun terowongan ketika dulu
berada di China). Ia sosok yang peduli. Ia takut merasa mengganggu. Ia penyuka
lagu Cantonese dan ia menularkannya pada saya. Ia suka bernyanyi di
mobil atau bernyanyi dengan iringan gitar, tapi tidak suka berkaraoke. Ia suka
martabak dan oseng, ia juga suka sate. Ia suka hampir segala jenis makanan. Ia
lebih menyukai daging ayam ketimbang babi. Ia ramah, mudah berteman dengan
siapa saja. Ia sangat suka belajar hal baru. Sekali ia memutuskan untuk
belajar, ia tidak akan tidak bersungguh-sungguh. Bahkan ia mencatat setiap
detail kata dalam pembicaraan kami via whatsapp dalam sebuah buku hitam
kecil dan menanyakannya kepada saya kala berjumpa(hal ini cukup menyentuh saya).
Ia penepat janji(ia bahkan memeluk tiang sambil mengatakan I love you, sesuai
dengan janjinya pada saya). Ia suka memainkan gunting batu kertas. Ia suka
hampir segala macam hal yang saya suka. Ia penyuka segala.
Ia mengajarkan saya begitu banyak hal. Ia tidak pernah
berhanti belajar, dan itu adalah hal paling favorit yang saya suka darinya. Ia
pandai menikmati hidup walaupun sedang bersedih hati. Ia tidak pernah tidak
melakukan sesuatu, ia selalu menyibukkan diri. Ia suka bernyanyi di dalam mobil
di hari hujan. Terkadang ia berenang di malam hari seorang diri untuk
menghabiskan waktu. Ia suka makan buah. Ia suka mencoba hal-hal baru. Ia tidak
terbiasa bangun pagi. Ia mungkin suka bermain golf. Ia memberi dengan tulus,
tersenyum dengan tulus.
Ia menunujukkan saya bagaimana cara menyesap air langsung
dari mangkuknya. Ia memberitahu saya seni minum arak. Ia juga menceritakan
kebiasaan orang China yang berjalan kaki malam hari seusai makan. Ia baru tahu
ada jurusan Desain Komunikasi Visual dari saya. Ia juga terkagum-kagum
mendengar cerita saya tentang bagaimana seseorang bisa tertidur di atas paku
atau berjalan di atas beling. Ia dan saya bertukar begitu banyak cerita dan
budaya. Tapi di balik itu semua, kami berdua sama-sama belajar bahwa inti dari
komunikasi adalah, si penerima pesan menerima maksud yang disampaikan oleh si
pengirim pesan. Entah itu dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris,bahasa
Mandarin, sekalipun bahasa tubuh. Kata-kata yang keluar dari hati akan selalu
bisa tersampaikan dengan hati juga. Kami bertukar banyak sekali pikiran.
Mengagumkan bukan mendapati kemiripan latar belakang budaya
bisa melahirkan pertemanan lintas budaya, lintas usia dan lintas profesi?
Sampai pada detik ini, saya sering bingung harus memanggilnya
apa. Too old to be called brother, too young to be called uncle or even
father. But finally I find that everytime I want to talk to him, I just need to
count on him and he’ll be there.
