Minggu, 30 November 2014

John



I owe him a story. Probably the existence of his kind of student is one of the reasons why teachers in the world wanna stay on their profession.

The gray-shirt-boy is named John, he is the student of Nanyang School, has just joined there months ago, with a little basic mandarin knowledge.

Last week, his mom asked my help to teach him, to bring him a good score for mandarin test, at least proper enough. His last score was 40. When I see the sample questions given, my nerves were on edge, i couldn’t speak. A three grade student of elementary student got that difficult questions. It was Saturday afternoon and the remedy would be hold on Monday morning.

Then I took a two-eye conversation with his mom, that it sounds incredible for his son to pass the test. But his mom kinda begging to my help. So I said,”Okay, I’ll do it, but I can’t assure you a very good score as we just have not more than two days.” Then we have a deal.

I taught him. I see how much pressure he hide on his self. He looked so tired. That Saturday I asked him,”What time do you get up?”

“6,” He answered.

“What an early time. What do you do then?”

‘I’ve forgotten his exact answer, but I do remember that he has no break time on that beautiful lovely enjoyable weekend. And that’s why he got an exhausted face when he met me to join my class.

So I asked him, “What do you like the most?”

Then he answered, “Drawing, Laoshi.”

With no doubts, I gave him my spidol and told him to draw anything he likes, do whatever he wanted to do, play as happy as he could do.

He drew me a Charmelion(if I’m not wrong memorizing the name, i was used to a pokemon players too). He told me everything about pokemon, about their abalities and how he loved it. So it’s like the teacher was being teached.

Minutes passed, as he drew some pokemon and found a lot of happiness there, I did all of his questions and put a lot of explanations there. We did our own business. He with his pokemon world and I with my mandarin world.

When it’s time to go home, I still did it. Honestly, it’s quite hard for me. I even used my dictionary and read it repeatedly and meticulously. So we both went home late. (He joined the last class I have to teach)

“John,” I called him. “Here are some explanations. It’s not difficult for you (Okay I’m probably lying in this case, I confess). When you have reached home, have a relaxed shower, lovely food, cool pokemons, play games, anything. You don’t need to try hard to study. But the next day, you have to study, wholeheartedly.”

Okay, Laoshi. Thank you,” Then I let him go home with a little happiness I put on him face. At that point I felt a little guilty with his mom, but I’m just like: Let it be.

A week after it, which means today, I meet this student again, he joins my class with a lot of cheerfulness. As I remember the last week occurence, I automatically ask him, “How is your test?”

And I get a contented answer, “It’s so incredible. I got a 100. Thank you for your help, Laoshi.”

I’m just there like speechless, so proud of him till I have no words left. He has been absolutely successful in bringing my whole day a lot of brightness.


Children love playing, let them do it.
Children love drawing, let them do it.
Children love speaking, let them do it.
When it s time for them to study, theyll do it, whole-heartedly.

Sabtu, 29 November 2014

Senyum Tiga Ribu



Senyum Tiga Ribu
Sebuah fakta unik baru saja ditemukan dari uang tiga ribu rupiah.
Sebelumnya, mari refleksikan pikiran sobat dengan pertanyaan-pertanyaan ini: Seberapa berarti tiga ribu rupiah untuk Anda? Berarti untuk membeli bolu kah? Atau uang transportasi untuk naik angkutan umum? Atau tiga ribu rupiah untuk jajan cemilan kecil?
Tiga ribu rupiah dilihat secara nominal, tidak ternilai besar, tapi lumayan untuk sekedar jajan kerupuk, keripik, bakso tusuk, siomay, cimol, cupcakes, puding, or anything like that.
Lalu apa yang membuat doyanngemil menulis artikel ini?
Amal dibalik tiga ribu rupiah itu sungguh dashyat dampaknya, luar biasa.
Kebetulan penulis adalah seorang mahasiswa yang juga bekerja, mengharuskan penulis menggunakan jasa ojek untuk transportasi. Penulis yang juga berkantong pas-pasan, bekerja demi meringankan beban orang tua, biasa menghargai jasa tukang ojek di tikungan seberang kampus dengan merogoh kocek sebesar tujuh ribu rupiah. Tujuh ribu rupiah bukan merupakan nominal yang besar, dan para tukang ojek yang baik hati itu (mereka bergantian mengantar saya) sudah terbiasa menerima harga itu.
Suatu pagi, penulis kehabisan pecahan uang lima ribu rupiah, hanya memiliki sepuluh ribu rupiah di dompet. Kemudian penulis teringat saja dengan kebaikan hati orang-orang di sekitar penulis, mereka yang tak terhitung jumlahnya dan kebaikannya. Entah kenapa penulis memutuskan untuk menghargai jasa tukang ojek itu sebesar sepuluh ribu rupiah. Sebuah keputusan yang tak akan pernah penulis sesali.
Dan sobat tahu apa yang penulis dapatkan?
Sebuah senyuman kebahagiaan seorang bapak tua beserta ucapan terima kasih berkali-kali. Senyum itu adalah senyuman paling menyentuh yang pernah penulis dapatkan semenjak bekerja. Senyuman itu langsung menggelitik akar hati penulis. Menyadarkan penulis akan sebuah nilai, “Bagaimana mungkin tiga ribu rupiah yang mungkin tak begitu berarti bagi Anda, bisa sangat berarti bagi orang-orang seperti tukang ojek di atas?”
Mari, tebarkan senyuman-senyuman tiga ribu lainnya. Atau mungkin Anda dapat menyumbang lebih? Selamat menabur kebaikan!

Setelah membaca artikel di atas, terbayangkan oleh Anda, mungkin cemilan kecil yang Anda berikan kepada orang tua, teman, saudara, atau siapapun di kehidupan Anda; dapat berarti di mata mereka. doyanngemil menyediakan cupcakes, kemanisan hidup berkualitas dalam sebuah gelas yang tak ternilai harganya. Siapa sangka dengan cupcakes kecil itu, Anda mampu menghadirkan senyuman-senyuman tiga ribu lainnya?

People who love to eat are always be the best people.

Kuliah: Ilmu atau Prestige?






Kuliah: Ilmu atau Prestige?
Sebuah pertanyaan fundamental yang hampir sering dilupakan oleh sebagian besar calon mahasiswa.

Setelah menoleh ke belakang, melihat hari-hari yang telah saya lalui, betapa yakinnya saya memilih Universitas Multimedia Nusantara jurusan Ilmu Komunikasi sebagai kendaraan tercepat saya menuju masa depan, saya tiba-tiba tersendat oleh gesekan orang-orang di sekitar saya tentang cerahnya prospek jurusan Sastra China. Melihat masih terbukanya kesempatan mengikuti SBMPTN maka mendaftarlah saya secepatnya atas bantuan teman-teman saya, dengan awalnya tidak begitu ada keinginan untuk mengambil jurusan Sastra China di Universitas Indonesia. Kala itu saya menempatkan Ilmu Komunikasi sebagai pilihan pertama, Universitas Indonesia tentunya, universitas yang orang bilang salah satu universitas terbaik di Indonesia, berpamor, apalagi setelah melihat Anda mengenakan almamater kuning kebanggaannya.
Usut punya usut, demi lolos SBMPTN, saya beserta tiga teman saya yang lain rajin mengadakan belajar kelompok, dengan satu tujuan, diterima di perguruan tinggi yang kami incar. Jarak yang jauh dan cahaya mentari yang panas tak menjadi penghalang bagi saya dan teman-teman untuk berkumpul sekedar membahas soal bersama-sama. Alhasil, saya berhasil diterima di Universitas Indonesia, hanya saja pada pilihan kedua. Dan beberapa teman saya yang lain juga beruntung mendapatkan hasil yang diinginkan setelah menunggu kurang lebih satu bulan.
Awalnya, saya sudah memantapkan diri untuk tidak mengambil jurusan Sastra China UI apabila diterima, mengingat saya takut akan mengalami kejenuhan menghafal aksara yang sebenarnya unik. Saya takut kesenangan saya akan bahasa mandarin ini merupakan kesenangan semu. If you guys ask me: "Do you love mandarin?" "Yes I do so!" But then you ask me: "Can you hold it on for years?" "Oh, I am not sure..."
That's what I keep telling myself about.
Inilah yang membuat saya tidak bisa mendengarkan suara hati saya. Dear heart, where is your sound...
Begitu banyak perkataan, pikiran, aspirasi yang terbang melayang-layang di pikiran saya. Tentang bagaimana mantapnya saya mengambil jurusan ilmu komunikasi di UMN dan pasti akan menolak Sastra China di UI, beberapa hari sebelum hasil SBMPTN keluar. Namun  setelah hasil tes menunjukkan bahwa saya diterima di Universitas Indonesia yang biaya kuliahnya jauh lebih murah daripada di UMN, dan ketika semua orang seolah menyerukan "UI! UI!" Hati saya yang semula yakin tidak akan mengambil Sastra China mendadak goyah.
Berbagai pertimbangan hadir, dan pemikiran ini terus melayang-layang di pikiran saya sebelum tidur.
1.     Langkanya manusia berdarah Chinese yang bisa masuk ke unversitas negeri apalagi Universitas Indonesia, ya walaupun jurusan yang saya dapatkan ini merupakan jurusan yang termasuk sedikit peminatnya. Tapi coba bayangan bagaimana beda bunyinya, kesannya, apabila seseorang bertemu orang tua saya di pasar, atau tempat umum lainnya dan menanyakan,” Eh, anakmu kuliah mana?” “UI” dan satu lagi “UMN.” Orang-orang hanya mengetahui UI, mendengar namanya saja sudah membuat mereka mengangguk, seolah mengerti benar UI itu sangat baik di semua jurusan.
2.     Banyak yang mengatakan akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan apabila Anda merupakan mahasiswa yang berasal dari universitas negeri. Bukan tidak heran, untuk bisa masuk ke perguruan tinggi negeri, Anda akan dihadapkan pada tes yang berisi kumpulan soal yang cukup sulit, membutuhkan penalaran yang tinggi dan soal-soal yang diberikan biasanya merupakan soal yang diberikan saat hendak tes masuk perusahaan tertentu. Jadi bukan tidak heran apabila mereka yang lolos tes masuk perguruan tinggi negeri bisa mudah diterima di perusahaan karena mereka sudah bisa dan terbiasa mengerjakan soal yang levelnya setara dengan yang dikerjakan oleh mereka yang melamar pekerjaan, bahkan mampu mengerjakan dengan hasil yang memuaskan.
3.     Namun seorang teman bertanya,”Kuliah untuk ilmu mandarin atau prestigenya?”
Sebuah pertanyaan yang menurut saya sangat mengetuk pintu hati saya yang terdalam. Kalau jawaban saya adalah ilmu, jelas bukan UI pilihan yang tepat, karena guru mandarin saya di kota Jambi mungkin kualitas pengajarannya jauh lebih baik daripada dosen UI, bagaimanapun guru saya yang native speaker punya pelafalan yang pasti jauh di atas mereka yang bukan native. Tetapi, who knows? UI iya menang gengsi. Dan lagi pula, untuk mempelajari bahasa asing, akan lebih baik untuk langsung mendaratkan kaki ke negara asal bahasa itu, berinteraksi dengan orang-orang yang memang merupakan native speaker bahasa itu, akan jauh lebih real bukan? Karena belajar itu pada hakikatnya adalah mengulang. Selalu saya ingat perkataan guru bahasa inggris saya. “Repetition is the mother of the skill.” Dan pernyataan itu benar, dan akan selalu benar.
4.     Orang awam rata-rata sangat mendukung keputusan saya untuk masuk ke jurusan Sastra China Universitas Indonesia. “UI coi, kapan lagi.” “Keren tuh.” “Susah loh masuknya,” “Kalo tamat bia jadi translator, lumayan tuh gajinya.” Bukan, bukan tentang itu semua, tetapi saya hampir yakin, jika Anda mengerti bahasa mandarin, atau pernah belajar, atau setidaknya pernah mencicipi belajar bahasa asing lain, Anda akan mengerti bahwa, belajar bahasa asing itu bukanlah sesuatu yang instan, butuh waktu dan proses, dan ketika saya melihat buku biru yang telah saya pelajari selama kurang lebih satu tahun saya sangat sadar dan mengerti akan satu hal, bahkan 49 bab yang telah saya jejal masuk ke dalam otak saya pun banyak yang tumpah keluar, banyak sekali. Mulai dari susunan bahasa sampai cara menulis aksara, banyak belajar, banyak lupa. Saya mempelajari itu dalam waktu satu tahun bahkan tidak lebih dari setengah buku, dan saya banyak lupa. Bagaimana nanti apabila saya harus belajar satu buku, setengah tahun, benar-benar diforsir. Sanggupkah otak saya? Sanggup iya, tapi bergunakah yang saya pelajari? Memadaikah untuk digunakan? Bukan masalah mungkin tidak mungkin atau niat tidak niat. Orang bisa mengatakan kalau ada niat kita pasti bisa, tapi balik ke individu masing-masing, tahu kapasitas masing-masing. Belajar bahasa inggris belasan tahun bahkan masih saja merasa belum puas bukan? Masih merasa ada yang kurang. Begitu pula dengan bahasa mandarin!
Akhir kata, saya sekedar mengingatkan, tulisan ini dibuat bukan untuk menjelek-jelekan jurusan tertentu  atau universitas tertentu, tulisan ini sekedar pikiran hati saya yang saat ini benar-benar membutuhkan lilin terang untuk menjawab pertanyaan yang harus saya jawab kurang dari sehari demi masa depan saya. Sebuah pertanyaan yang sangat sulit dengan batas waktu yang begitu minim.
Hal datang silih berganti. Ucapan selamat atas diterimanya saya di UI,bertambahnya teman-teman saya di jejaring sosial yang berlatar belakang mahasiswa UI,  tak menyangkanya orang-orang sekitar saya, dan tatapan mata yang seolah berteriak,"Wow hebat!" atau "Pasti nyesel kalo nggak ambil!" atau "Sastra China, prospek yang mendukung." Tetapi semakin saya mengetik tulisan ini, semakin saya sadar akan satu hal. Tak peduli berapapun banyak orang yang mendukung saya melangkahkan kaki saya ke UI, masuk ke universitas berpamor untuk jurusan sastra China yang sudah saya pelajari selama bertahun dan apabila kuliah nanti buku yang akan saya gunakan kelak toh akan sama dengan buku yang diajarkan Laoshi mandarin saya selama ini, tak peduli dari 20 orang yang saya mintai pendapat antara UI atau UMN, dan 40 0rang menjawab UI, sebagian hati saya, bukan sebagian kecil, seolah berteriak, "UMN Ta!"
Saya bisa tersenyum senang saat ini, karena seiring saya berbagi, menumpahkan seluruh pikiran, olah, dan rasa, semakin saya meyakinkan diri saya untuk mengambil jurusan Sastra China, maka semakin melompat-lompatlah kenginan saya untuk terus mengatakan Ilmu Komunikasi, go UMN!
This is my story, which one is yours?
Salam cupcakes!

You guys may also check doyanngemil.  Thank you for reading and clicking :)