Kuliah: Ilmu atau Prestige?
Sebuah pertanyaan fundamental
yang hampir sering dilupakan oleh sebagian besar calon mahasiswa.
Setelah menoleh ke belakang,
melihat hari-hari yang telah saya lalui, betapa yakinnya saya memilih
Universitas Multimedia Nusantara jurusan Ilmu Komunikasi sebagai kendaraan
tercepat saya menuju masa depan, saya tiba-tiba tersendat oleh gesekan
orang-orang di sekitar saya tentang cerahnya prospek jurusan Sastra China.
Melihat masih terbukanya kesempatan mengikuti SBMPTN maka mendaftarlah saya
secepatnya atas bantuan teman-teman saya, dengan awalnya tidak begitu ada
keinginan untuk mengambil jurusan Sastra China di Universitas Indonesia. Kala itu
saya menempatkan Ilmu Komunikasi sebagai pilihan pertama, Universitas Indonesia
tentunya, universitas yang orang bilang salah satu universitas terbaik di
Indonesia, berpamor, apalagi setelah melihat Anda mengenakan almamater kuning
kebanggaannya.
Usut punya usut, demi lolos
SBMPTN, saya beserta tiga teman saya yang lain rajin mengadakan belajar
kelompok, dengan satu tujuan, diterima di perguruan tinggi yang kami incar.
Jarak yang jauh dan cahaya mentari yang panas tak menjadi penghalang bagi saya
dan teman-teman untuk berkumpul sekedar membahas soal bersama-sama. Alhasil,
saya berhasil diterima di Universitas Indonesia, hanya saja pada pilihan kedua.
Dan beberapa teman saya yang lain juga beruntung mendapatkan hasil yang
diinginkan setelah menunggu kurang lebih satu bulan.
Awalnya, saya sudah
memantapkan diri untuk tidak mengambil jurusan Sastra China UI apabila
diterima, mengingat saya takut akan mengalami kejenuhan menghafal aksara yang
sebenarnya unik. Saya takut kesenangan saya akan bahasa mandarin ini merupakan
kesenangan semu. If you guys ask me: "Do you love mandarin?"
"Yes I do so!" But then you ask me: "Can you hold it on for
years?" "Oh, I am not sure..."
That's what I keep telling
myself about.
Inilah yang membuat saya tidak
bisa mendengarkan suara hati saya. Dear heart, where is your sound...
Begitu banyak perkataan,
pikiran, aspirasi yang terbang melayang-layang di pikiran saya. Tentang
bagaimana mantapnya saya mengambil jurusan ilmu komunikasi di UMN dan pasti
akan menolak Sastra China di UI, beberapa hari sebelum hasil SBMPTN keluar.
Namun setelah hasil tes menunjukkan bahwa saya diterima di Universitas
Indonesia yang biaya kuliahnya jauh lebih murah daripada di UMN, dan ketika
semua orang seolah menyerukan "UI! UI!" Hati saya yang semula yakin
tidak akan mengambil Sastra China mendadak goyah.
Berbagai pertimbangan hadir,
dan pemikiran ini terus melayang-layang di pikiran saya sebelum tidur.
1. Langkanya manusia berdarah Chinese
yang bisa masuk ke unversitas negeri apalagi Universitas Indonesia, ya walaupun
jurusan yang saya dapatkan ini merupakan jurusan yang termasuk sedikit
peminatnya. Tapi coba bayangan bagaimana beda bunyinya, kesannya, apabila
seseorang bertemu orang tua saya di pasar, atau tempat umum lainnya dan
menanyakan,” Eh, anakmu kuliah mana?” “UI” dan satu lagi “UMN.” Orang-orang
hanya mengetahui UI, mendengar namanya saja sudah membuat mereka mengangguk,
seolah mengerti benar UI itu sangat baik di semua jurusan.
2. Banyak yang mengatakan akan
lebih mudah mendapatkan pekerjaan apabila Anda merupakan mahasiswa yang berasal
dari universitas negeri. Bukan tidak heran, untuk bisa masuk ke perguruan
tinggi negeri, Anda akan dihadapkan pada tes yang berisi kumpulan soal yang
cukup sulit, membutuhkan penalaran yang tinggi dan soal-soal yang diberikan
biasanya merupakan soal yang diberikan saat hendak tes masuk perusahaan
tertentu. Jadi bukan tidak heran apabila mereka yang lolos tes masuk perguruan
tinggi negeri bisa mudah diterima di perusahaan karena mereka sudah bisa dan
terbiasa mengerjakan soal yang levelnya setara dengan yang dikerjakan oleh
mereka yang melamar pekerjaan, bahkan mampu mengerjakan dengan hasil yang
memuaskan.
3. Namun seorang teman bertanya,”Kuliah
untuk ilmu mandarin atau prestigenya?”
Sebuah pertanyaan yang menurut
saya sangat mengetuk pintu hati saya yang terdalam. Kalau jawaban saya adalah
ilmu, jelas bukan UI pilihan yang tepat, karena guru mandarin saya di kota
Jambi mungkin kualitas pengajarannya jauh lebih baik daripada dosen UI,
bagaimanapun guru saya yang native speaker punya pelafalan yang
pasti jauh di atas mereka yang bukan native. Tetapi, who knows?
UI iya menang gengsi. Dan lagi pula, untuk mempelajari bahasa asing, akan lebih
baik untuk langsung mendaratkan kaki ke negara asal bahasa itu, berinteraksi
dengan orang-orang yang memang merupakan native speaker bahasa itu, akan
jauh lebih real bukan? Karena belajar itu pada hakikatnya adalah
mengulang. Selalu saya ingat perkataan guru bahasa inggris saya. “Repetition
is the mother of the skill.” Dan pernyataan itu benar, dan akan selalu
benar.
4. Orang awam rata-rata sangat
mendukung keputusan saya untuk masuk ke jurusan Sastra China Universitas Indonesia.
“UI coi, kapan lagi.” “Keren tuh.” “Susah loh masuknya,” “Kalo tamat bia
jadi translator, lumayan tuh gajinya.” Bukan, bukan tentang itu semua,
tetapi saya hampir yakin, jika Anda mengerti bahasa mandarin, atau pernah
belajar, atau setidaknya pernah mencicipi belajar bahasa asing lain, Anda akan
mengerti bahwa, belajar bahasa asing itu bukanlah sesuatu yang instan, butuh
waktu dan proses, dan ketika saya melihat buku biru yang telah saya pelajari
selama kurang lebih satu tahun saya sangat sadar dan mengerti akan satu hal,
bahkan 49 bab yang telah saya jejal masuk ke dalam otak saya pun banyak yang
tumpah keluar, banyak sekali. Mulai dari susunan bahasa sampai cara menulis
aksara, banyak belajar, banyak lupa. Saya mempelajari itu dalam waktu satu
tahun bahkan tidak lebih dari setengah buku, dan saya banyak lupa. Bagaimana
nanti apabila saya harus belajar satu buku, setengah tahun, benar-benar
diforsir. Sanggupkah otak saya? Sanggup iya, tapi bergunakah yang saya
pelajari? Memadaikah untuk digunakan? Bukan masalah mungkin tidak mungkin atau
niat tidak niat. Orang bisa mengatakan kalau ada niat kita pasti bisa, tapi
balik ke individu masing-masing, tahu kapasitas masing-masing. Belajar bahasa
inggris belasan tahun bahkan masih saja merasa belum puas bukan? Masih merasa
ada yang kurang. Begitu pula dengan bahasa mandarin!
Akhir kata, saya sekedar mengingatkan,
tulisan ini dibuat bukan untuk menjelek-jelekan jurusan tertentu atau
universitas tertentu, tulisan ini sekedar pikiran hati saya yang saat ini
benar-benar membutuhkan lilin terang untuk menjawab pertanyaan yang harus saya
jawab kurang dari sehari demi masa depan saya. Sebuah pertanyaan yang sangat
sulit dengan batas waktu yang begitu minim.
Hal datang silih berganti.
Ucapan selamat atas diterimanya saya di UI,bertambahnya teman-teman saya di
jejaring sosial yang berlatar belakang mahasiswa UI, tak menyangkanya
orang-orang sekitar saya, dan tatapan mata yang seolah berteriak,"Wow
hebat!" atau "Pasti nyesel kalo nggak ambil!" atau "Sastra
China, prospek yang mendukung." Tetapi semakin saya mengetik tulisan ini,
semakin saya sadar akan satu hal. Tak peduli berapapun banyak orang yang
mendukung saya melangkahkan kaki saya ke UI, masuk ke universitas berpamor
untuk jurusan sastra China yang sudah saya pelajari selama bertahun dan apabila
kuliah nanti buku yang akan saya gunakan kelak toh akan sama dengan buku
yang diajarkan Laoshi mandarin saya selama ini, tak peduli dari 20 orang
yang saya mintai pendapat antara UI atau UMN, dan 40 0rang menjawab UI,
sebagian hati saya, bukan sebagian kecil, seolah berteriak, "UMN Ta!"
Saya bisa tersenyum senang
saat ini, karena seiring saya berbagi, menumpahkan seluruh pikiran, olah, dan
rasa, semakin saya meyakinkan diri saya untuk mengambil jurusan Sastra China,
maka semakin melompat-lompatlah kenginan saya untuk terus mengatakan Ilmu
Komunikasi, go UMN!
This is my story, which one is
yours?
Salam cupcakes!
You guys may also check doyanngemil. Thank you for reading and clicking :)

Sekarang di mana kak?
BalasHapusAku juga sascin soale kwkwkwk
Sascin di universitas mana kak?
Hapus