Mendengarkan itu memiliki seni. Saya tidak mengetahuinya sampai suatu buku atau barangkali teman (ceritanya ini randomly ngetik karena semalam mimpi naik pesawat terbang babi bersayap, hahaha) memberitahu saya bahwa ada tingkatan yang berbeda-beda dalam mendengarkan. Seperti yang kita tahu, mendengarkan dan mendengar itu adalah dua hal yang berbeda. Saat Anda duduk di dalam angkutan umum bersama orang yang Anda kenal, Anda mendengar suara bising jalanan, seperti aspal yang tergesek atau supir yang meneriakkan kepada penumpang untuk mepet. Di lain sisi, barangkali Anda mendengarkan cerita teman Anda. Mendengar adalah suatu proses yang pasti dialami indera kita seiring kita hidup dan telinga kita bekerja, tapi mendengarkan adalah ketika kita menerima suara itu dan mengirimkannya kepada impuls otak untuk dicerna dan dipahami.
Kita bisa secara fisik mendengar orang berbicara. Banyak dari kita hanya berhenti pada tahap mendengar, yang itu berarti, seluruh suara yang masuk dalam pikiran hanya berakhir tidak berarti.
Hal lain untuk diingat adalah kita dilengkai dengan dua telinga, yang berarti manusia diminta untuk menjadi pendengar yang baik. Namun, banyak dari kita yang memperkerjakan lidah kita lebih lama daripada telinga ketika berkomunikasi. Kita cenderung untuk berbicara daripada mendengarkan. Bahkan ketika terlihat seolah-olah sedang mendengarkan orang lain berbicara pun, tak jarang kita menghitung-hitung, menduga-duga di dalam pikiran, kira-kira kapan saat yang paling tepat untuk menenayakan pertanyaan apa.
Sebenarnya, apa yang dibutuhkan untuk berbicara adalah, mulut yang terbuka, dengan lidah yang menyesuaikan bentuk kata, dan pita suara. Sisanya, yang jauh lebih penting adalah keingingan hati untuk mendengarkan lawan bicara dengan sepenuh hati.
Pada kenyataannya, memusatkan perhatian untuk benar-benar berada di tempat saat itu, mendengarkan lawan bicara, agak sulit dilakukan. Untuk beberapa orang, hal itu bahkan membosankan.
Cara kita mendengarkan menentukan kualitas komunikasi dan kualitas hubungan kita. Ketika kita mendengarkan dengan hati, ketika jiwa kita benar-benar berada di dalam raga kita ketika orang lain butuh untuk didengarkan, ketika itulah lawan bicara kita merasa diperhatikan, dipedulikan, dan dihargai. Mengagumkan melihat hubungan kita bertumbuh dan berevolusi dengan dahsyat ketika kita benar-benar bisa mengembangkan seni dari mendengarkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar