Jumat, 25 September 2015

Rangkuman Buku Good to Great Jim Collins - Kultur Disiplin / Budaya Disiplin


5.       Adanya kebiasaan atau kebudayaan disiplin
Perusahan terobosan/breakthrough mempunyai orang-orang, pemikiran, dan tindakan yang disiplin.

Orang-orang disiplin terdiri 2:
-          orang dengan kepemimpinan level lima(kepemimpinan yang penuh kesederhanaan dan penuh keinginan secara profesional untuk maju)
-          orang yang selalu menempatkan orang-orang yang tepat baru kemudian memutuskan apa yang harus dikerjakan.

Sedangkan pikiran yang disiplin terdiri dari dua  hal:
1. Pemikiran yang selalu menatap kenyataan sepahit dan sebrutal apapun
2. Disiplin pemikiran selalu fokus pada jurus landak
Tindakan yang disiplin perlu kebudayaan disiplin. Saat perusahaan mempunyai orang-orang yang disiplin, perusahaan tidak membutuhkan hierarki. Pemikiran yang disiplin tidak membutuhkan birokrasi. Tindakan disiplin tidak membutuhkan kontrol yang berlebihan. Saat perususahaan mampu mengkoneksikan mental disiplin dengan kemampuannya mencapai keberhasilan, akan terjadi hal yang dahsyat. Ada empat hal yang bisa dilakukan supaya orang-orang bisa konsisten dalam menerapkan jurus landak dan memiliki budaya disiplin:
1.       Mengembangkan kebudayaan di sekitar ide tentang kebebasan dan bertanggung jawab sebagai kotak kerja / framework pekerjaan. Dijelaskan di buku “Good to Great” bahwa ketika seorang pilot mendaratkan pesawat terbang, ada urutan yang harus ia penuhi untuk menerbangkan pesawat. Namun, pilot dibebaskan untuk mendaratkan pesawt dengan selamat dengan caranya. Saat pesawat masih melayang pada ketinggian ribuan kaki, misalnya sang pilot mengatakan, “Penumpang terkasih, kami baru saja menemukan buku tentang kreativitas, maka itu sekarang kami akan mendarat dengan cara terbalik. Kita akan mendarat dengan pantat terlebih dahulu. Jadi kencangkan sabuk pengaman Anda. Selamat menikmati perjalanan dengan kreativitas yang luar biasa ini.”
Sudah pasti hal seperti ini bukanlah hal yang diharapkan dalam satu perusahaan. Jadi kreativitas harus disertai dengan tanggung jawab, dalam framework yang telah disepakati. Perusahaan yang dahsyat selalu memberikan kebebasan berkreasi dalam bekerja di dalam framework yang ingin dicapainya. Maka itu perusahaan dahsyat akan memperkerjakan orang dengan self-discipline sehingga orang-orang tersebut tidak perlu di-manage. Pada akhirnya perusahaan dahsyat tinggal mengatur sistemnya, bukan orangnya. Pertama membangun ide kebebasan di dalam satu rancangan kerja.
2.       Mengisi kebudayaan dengan self-dicipline, orang yang diperkerjakan mau mengosongkan kotaknya/bebannya, atau dalam hal ini mengurangi hal-hal mubazir yang mereka biasa lakukan. Jadi, dalam bekerja, 50% waktu dipakai untuk produktivitas, 50% sisanya dipakai untuk kepentingan pribadi atau hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Ditekankan juga di poin ini bahwa pekerja-pekerja tadi menulis hal-hal yang harus mereka hentikan untuk lakukan, baik dalam skala perorangan maupun dalam skala bisnis/perusahaan. Dalam skala perorangan maksudnya adalah pekerja tadi berhenti melakukan hal A atau hal B. Dalam skala perusahaan maksudnya adalah perusahaan berhenti fokus menjalankan bisnis yang tidak ada hubungannya dengan konsep landak perusahaan.
3.       Tidak ada kebingungan antara budaya yang disiplin dan disiplin secara tiran. Disiplin secara tiran adalah disiplin yang hanya dilakukan ketika ada pemimpin saja. Ketika pemimpinya pergi, pekerja akan melakukan hal yang tidak disiplin lagi.  Berbeda halnya dengan budaya yang disiplin, di mana sistem dan orang-orang yang sudah terbentuk adalah orang-orang dan sistem terbaik. Orang-orang ini akan menjalankan dengan dan atau tanpa pemimpinnya. Contohnya: Tung Desem Waringin (TDW) saat bekerja di suatu bank, Beliau membenahi hasil audit bank tersebut dari hasil audit yang  merupakan terburuk seluruh Indonesia menjadi terbaik seluruh Indonesia. Sampai saat ini, saat setelah lebih dari 8 tahun TDW meninggalkan bank tersebut, bank tersebut masih tetap disiplin dan menjadi yang terbaik. Itu semua terjadi karena yang TDW tinggalkan di sana bukanlah otoritas, melainkan hal-hal yang membuat perusahaan tersebut memiliki budaya yang disiplin, yaitu orang-orang dan sistem kerja yang disiplin.
4.       Fokus pada tiga lingkaran dan selalu fokus pada tiga lingkaran. Penerapan jurus landak sangat krusial bagi perusahaan bagus untuk hebat. Perusahaan harus fokus pada bidang di mana perusahaan bisa menjadi yang terbaik, bersemangat untuk lakukan dan menguntungkan secara ekonomi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar