Berhadapan dengan berbagai manusia dari belahan dunia yang cukup variatif membawa saya pada percakapan-percakapan yang layak diklipingkan menjadi sebuah cerita. Semoga Anda menangkap maksud pengakuan dari manusia-manusia di bawah ini.
Suatu hari, saya bertemu dengan orang-orang Indonesia. Di dalam makan malam yang berlangsung ceria itu, kami membicarakan artis-artis Korea yang sedang populer. Salah seorang teman saya menyeletuk kepada teman saya yang lain, "Bagaimana kamu bisa mengidolakan A? Bagaimana kamu bisa meningat wajah artis-artis Korea satu per satu? Semuanya begitu mirip, kawan."
Orang Indonesia bilang kalau orang Korea terlihat mirip.
Di hari yang berbeda pula, saya jumpai teman-teman bule saya. "Kamu keren bisa membedakan siap saja temanmu." Saya mematung seperti melongo, "Maksud kamu?" tanya saya kepadanya.
"Ya, itu, keren saja, kamu bisa membedakan wajah teman-teman kamu," tunjuknya pada dua orang teman saya yang sama-sama berkulit sawo matang dan bermata belok.
Orang barat bilang kalau orang Indonesia terlihat mirip.
Nah, hari ini, saya berbelanja ke mall dan melihat dua orang Arab memakai sorban di kepalanya. Barulah saya mengerti rumus kemiripan antar budaya:
Orang ... menganggap orang ... terlihat mirip.
Nah, kalau Anda sering melihat orang-orang dari berbagai belahan dunia, mungkin Anda bisa benar-benar mengerti maksud artikel ini. Kita akan terbiasa membedakan orang ketika kita sudah melihat ragam wajah manusia dengan ras yang sama.
Sabtu, 20 Juni 2015
Kamis, 11 Juni 2015
Psikologi Ikan
Pulau Sulawesi menyimpan pesona laut yang menakjubkan. Teman saya, seorang Jerman berkebangsaan Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menghibur pikiran di pulau yang terkenal dengan keindahan lautnya.
Sebuah percakapan berisi kesenangan saya memancing ikan, membuat percakapan kami berakhir pada pernyataannya, "You are a cruel person."
Saya tidak terima dikatakan jahat. Apa yang jahat dengan orang yang memancing untuk kesenangan? Saya ceritakan kepadanya bahwa saya biasanya memancing, tapi tidak untuk saya makan. Saya memancing, membiarkan mulut ikan menancap berdarah di mata kail, lalu meminta teman saya untuk mencabut ikan itu dan mengembalikannya ke air. Semua itu saya lakukan semata-mata untuk mendapatkan sensasi menunggu memandang air sambil ngobrol, perasaan deg-degan saat pancingan saya bergetar, rasa bermain ketika harus memutar-mutar untuk mendapatkan ikan. Kemudian lagi, pandai-pandai memformulakan pelet dan membentuknya untuk menarik minat ikan untuk memakannya.
Apa yang salah dengan hal-hal di atas? Tidak ada, bagi saya. Dan mungkin jutaan orang lainnya dengan kebiasaan yang sama.
Tapi seorang teman saya yang mengerti ikan menyadarkan saya bahwa ternyata ikan juga punya psikologi, sama seperti manusia.
"Pernahkah Anda melihat ikan tersenyum?" tanyanya dalam bahasa Inggris.
Saya menggeleng. Lalu saya diam, tapi mata saya mengisyaratkan kepadanya untuk memperjelas maksud dari pertanyaannya tentang ikan yang tersenyum. Kemudian dia melanjutkan, "Saya pernah melihatnya. Mereka begitu cantik. Mereka bermain satu sama lain. Mereka tidak seperti ikan biasa. Mereka punya kumis dan kau akan tahu bedanya karena... Ya, kau akan tahu saja, sama seperti kau tahu siapa temanmu yang sedang kasmaran. Ada tatapan cinta dan senyum bahagia ketika kau melihat mereka bermain."
Saya terpelongo mendengarkan pernyataannya. Keren, gumam saya dalam hati. "Dan kau tahu di mana letaknya jahatmu?"
Saya menggeleng.
"Jahatmu adalah ketika kau memancing untuk kau kembalikan. Kalau kau memancing untuk kau makan, ya, itu oke. Tapi, tahukah kau, ketika kau memancing untuk kau kembalikan, sama saja kau bermain-main dengan darah ikan. Tak tahukah kau, ikan yang kau pancing itu, tidak akan lagi menjadi ikan yang sama setelah kau mengembalikannya ke air? Ia akan menjadi ikan yang trauma untuk makan. Ia akan menjadi ikan yang selalu berpikir dua kali bahkan untuk bertahan hidup. Ia akan selalu terbayang bagaimana mata kailmu melubangi mulutnya hingga terluka dan menyeretnya ke permukaan air untuk bertatap muka dengan makhluk asing besar bernama manusia. Ia akan dihantui pikiran bahwa makan itu berbahaya until the end of his life. Di saat teman-temannya yang lain bisa makan tanpa rasa takut, bisa bermain dengan rasa bahagia, di saat itulah pikirannya selalu terngian-ngiang akan manusia jahat seperti kau," katanya dengan jujur dan terbuka, sambil menatap saya dalam saat mengucapkan tatapan terakhir.
"Sama seperti manusia yang psikologinya terpengaruh karena pernah mengalami kekerasan, seperti itulah psikologi ikan terganggu ketika dipancing untuk dikembalikan lagi ke air."
Even if fishes are animal, they have feelings too, same like you.
Senin, 08 Juni 2015
Surat Jawaban
Ini adalah jawaban dari dosen Pendidikan Kewarganegaraan saya atas artikel Dosenku Pencuri. Bahasanya begitu puitis dan menyentuh, melukiskan tingkat intelegensinya, penggambaran yang elok.
_________________________________________________________________________________
Dear Renata,
Selamat malam. Semoga balasanku tidak menggangu waktu istirahatmu yang sangat berharga setelah seharian lelah belajar menjadi seorang manusia yang unik, tak ada duanya dari abad ke abad. Bukankah hal ini saja begitu menggetarkan jiwa? Betapa tak terselaminya kecerdasan sang Mahaintelijensi itu. Sengaja kutulis malam ini dengan harapan bahwa engkau akan membacanya besok, karena malam ini ingin kupersembahkan hidupku ke dalam dekapan semesta dengan sukacita dan rasa syukur karena Tuhan mengirimiku anak-anak sorgawi yang meneguhkan rasa percaya bahwa dunia ini bisa menjadi sorga yang lain.
Saya berterima kasih padamu karena telah menjadi seorang sahabat bagiku selama semester ini, dan kuyakin akan tetap demikian. Saya berdoa semoga engkau, dan tentu juga sahabat-sahabat kita yang lain, dari perjalanan ke perjalanan, dari perhentian ke perhentian, senantiasa ditemani kawan seperjalanan. Saya telah belajar menjadi kawan seperjalananmu. Saya telah sampai pada sebuah perhentian. Dengan ikhlas kuserahkan engkau pada kehidupan yang pasti akan memberimu kawan seperjalanan yang lain lagi untuk sebuah perjalanan yang lain lagi, tetapi tetap ke tujuanmu sendiri yang telah ditetapkan kehidupan bagimu. Dengan harap saya mendengar dengan telinga iman dan memandang dengan mata doa bahwa engkau tetap setia pada jalanmu. Pergilah. Lanjutkan perjalananmu. Ada yang datang ada yang pergi. Semua terjadi hanya demi satu hal: tujuan kita diciptakan. Semua dipertemukan, diperkenalkan, hanya demi tujuan kita semua diciptakan: menjadi satu keluarga semesta.
Saya meninggalkanmu di sini. Sahabat lain akan membawamu pergi, menemanimu menempuh perjalanamu. Tetapi perjalananmu adalah perjalanannya juga. Seperti halnya denganku. Perjalananmu satu semester kemarin sebenarnya perjalananku. Saya menemanimu melakukan perjalananmu, tetapi sebenarnya juga engkau menemaniku melakukan perjalananku. Saya telah belajar menjadi kawan seperjalananmu, begitu sebaliknya. Akhirnya kita belajar satu hal, hal terpenting, melebihi ilmu, nilai, gelar, ijasah, yaitu kita tidak lagi mementingkan BAGAIMANA kita berjalan, tetapi BERSAMA SIAPA kita berjalan.
Saya melepasmu di perhentian ini. Tetapi kenanganku padamu, sebagaimana juga pada sahabat-sahabat kita yang lain, menjadi doa yang menggetarkan sorga agar engkau selalu dikawani sahabat sorgawi, karena engkau layak untuk dikawani, karena engkau dari abad ke abad hingga abad ke abad hanya ada satu, tak tergantikan, sebagaimana diriku, sebagaimana sahabat kita yang lain.
Selamat Renata, sahabatku dalam perjalanan semesta.
_____________________________________________________________________________________________
What I learn since I know Lorem Ipsum Dolor Sit Amet
I used to see a magazine as a bunch of articles. I read
every single words written there. I’ve never noticed the font the magazine use.
As long as it’s readable, I will read it.
But once, I am required to design a newsletter and it brings
me an obligation to pay attention to every single point of it, from cover to
articles to cover. I think Times New Roman doesn’t give any piece of
cake for the cover of the article. I think any font doesn’t have any big
matter. But, a visual communication design friend of mine, warn me of this, “I
recommend you an Arial or Calibri for the cover. It’s strong,
elegant, it has no tail or line upside the character. Times New Roman or
Minion is suitable for the text in the article because it has tail.”
Bang. Then I notice. It truely is.
Then he asks me, “Why do you italic this word? What does
this mean?”
I take a breath for a while, thinking, “Nothing, just to
make it seen not really nothing,” I answered.
“Then just un-italic it. You have to have reason for every
single bold, italic, or different colour you use.”
I said thank you and grab some magazines to my room. I used
to spend hours to read the text. But now, since I haven’t finished my design-newsletter-task,
I take the magazine to read the design. I think this is what my lecturer wants
me to do.
Thanks to my lecturer and my visual communication design
friend.
Now, I have a new glasses to read a magazine. The old and mainstream
one to read the text, the new one to read the design.
Minggu, 31 Mei 2015
Orang Bahagia
Menjadi orang bahagia adalah tentang keputusan hidup.
Saya yakin Anda masuk paling tidak satu dari beberapa
kategori di bawah ini. Dan dengan begitu pula saya berani mendeklarasikan bahwa
Anda adalah orang bahagia (OB). Selamat membaca.
· Orang bahagia akan kaget ketika pagi hari
dibangunkan oleh alarm, atau mungkin anak kos, mungkin juga ibu kos. Hal yang
patut mereka bahagiakan adalah kenyataan bahwa mereka masih boleh hidup.
· Orang bahagia juga akan bangkit dari ranjangnya,
melepas kehangatan selimut, untuk bersiap-siap melanjutkan petualangan setelah
beristirahat sepertiga hari lamanya. Mereka bahagia karena diberikan kesempatan
untuk tidak menjadi orang yang gagal.
· Mereka para OB juga tahan hinaan. Bahagia bukan
menyadari bahwa orang lain mempedulikan kita? Bahkan orang lain sangat
perhatian dan hinaan itu menjadi batu loncatan.
· Ada kemungkinan juga OB pakaiannya mengetat. Itu
berarti para OB tidak kekurangan makan. Kalau pakaian/celananya melonggar, itu
bahagia uga, tandanya para OB punya segudang aktivitas, dan itu menandakan
mereka aktif dan penting dalam kehidupan bermasyarakat.
·
Kriteria terakhir ini, kriteria yang saya
banget. OB cenderung kurang tidur. Banyak hal yang harus mereka lakukan, mereka
punya tanggung jawab. Tidur delapan jam sehari menjadi salah satu fenomena mewah.
Meskipun begitu, mereka punya hubungan sosial yang baik karena apa yang mereka
kerjakan biasanya berhubungan langsung dengan kebaikan banyak orang.
Itulah ciri-ciri orang bahagia ala saya. Semoga memberikan
hiburan yang mencerahkan.
Minggu, 24 Mei 2015
Cinta
Topik saya hari ini agak langka. Saya lupa kapan terakhir kalinya saya ingin menulis tentang cinta. Sudah ribuan tahun lamanya sejak sebelum Sung Go Kong bebas dari gunung batu. *ini mulai ngaco*
"Cie...Jatuh cinta..."
Bukan, saya tidak sedang jatuh cinta pada seseorang. Saya bahkan lupa kapan terakhir kalinya saya jatuh cinta. Tidak mudah bagi seseorang yang sudah pernah terluka secara dalam untuk jatuh cinta kedua kalinya. Bukan karena ia belum bisa move on, tapi lebih karena ia belum menemukan jawaban iya atas pertanyaannya selama ini, "Mungkinkah dia orang yang cocok? The last one for me?"
Terlatih patah hati? Tidak.
Hanya sekali, tapi sekali itu bisa menjadi guru yang hebat kalau terluka dengan sangat dalam.
Apa cinta itu?
Anda di sini bukan untuk membaca definisi cinta antara dua manusia. Ada definisi cinta yang jauh lebih dalam dan lebih luas daripada itu.
Menurut De Vito, cinta adalah perasaan yang ditandai dengan kedekatan dan kepedulian dan keintiman, hasrat, dan komitmen.
Tapi, seiring bergesernya waktu, cinta bisa jadi adalah kata yang paling banyak digunakan, disalahgunakan, dan dilecehkan oleh manusia.
Keduanya benar bagi saya. Tapi, seiring bertambah dewasa, saya lebih sering menemukan definisi cinta menurut De Vito. Cinta itu sendiri, bisa terjadi antara ibu dan anak, suami dan istri, kakak dan adik, dan sebagainya.
Berhubung saya sulit sekali jatuh cinta pada pria, kali ini saya akan menceritakan cinta saya yang lain. Hari ini saya baru saja mengadakan garage sale untuk menggalang dana bagi anak-anak di desa Rumpin mengunjungi kampus saya, Universitas Multimedia Nusantara. Kegiatan ini merupakan aksi sosial yang diadakan oleh "CSR" kampus.
Saya belum pernah bertemu dengan anak-anak desa Rumpin, tetapi ada sesuatu yang saya sebut bibit cinta, yang mengiyakan tawaran hati nurani saya untuk ikut melakukan garage sale. Dan luar biasa hasil yang didapatkan selama empat jam berteriak-teriak, tersenyum, menawar harga, dan mengajak warga sekitar untuk sayang keluarganya dengan membeli baju murah yang kami jajakan. Walaupun suara dan tenaga lumayan habis, saya masih heran, cinta Tuhan pada saya memampukan saya menulis artikel ini di tengan malam dengan banyak kegiatan dan materi kuis esok hari. Ada cinta dari Tuhan pada saya, cintanya itu saya berikan pada anak-anak desa Rumpin. Dan ada cinta yang muncul dari ibu-ibu yang membelikan pakaian untuk anak mereka. Begitu banyak cinta di dunia ini.
Dan benar juga lantunan Delon, semua karena cinta.
I can't imagine if there is no more love in this world.
Senin, 18 Mei 2015
Cerah Berkat Anjing
Salah satu hari paling menyenangkan dari menjadi perempuan adalah memiliki wajah yang cerah, apalagi kalau cerah itu cerah secara alami. Pengalaman saya barusan dan beberapa menit yang lalu menggerakkan jari saya untuk berbagi cara menjadi cerah alami.
Hari ini, dengan tak diduga-duga, seekor anjing sukses memutihkan wajah saya.
Saya sudah mengajar beberapa bulan di rumah rekan kerja saya, saya mengajar anaknya. Rekan kerja saya ini selalu menceritakan bahwa ia memiliki seekor anjing gila yang suka menggigit orang. Ia lupa menceritakan kalau ia punya dua ekor anjing. Putrinya sendiri pernah digigit anjing. PRT nya pun memilih berhenti bekerja karena takut dengan anjingnya.
Hari ini, tibalah giliran saya. Saya turun ke bawah untuk mengambil segelas air minum. Saya meninggalkan bau tubuh saya di lantai dapur. Selang beberapa menit kemudian, rekan kerja saya membiarkan anjingnya berkelana bebas. Tentu saja yang ia keluarkan adalah anjing waras. Ketika saya turun lagi, dan selama ini tidak pernah merasa unsave dengan kehadiran anjing, anjing ini tiba-tiba mendekati saya.
Saya kira itu adalah anjing gila yang suka gigit orang. Benar saja, ia mendekat makin agresif. Saya deg-degan bukan kepalang, Saya kabur, naik ke atas tangga dan merasa save di sana. Pikiran saya salah, si anjing ternyata bisa naik tangga! Jadilah saya lari terbirit-birit menaiki tangga, sambil menggendong tas di punggung yang berisi tiga buah buku, tangan saya masing-masing memeluk botol minuman dengan volume 700 ml dan botol air mineral 1 liter. Saya berlari sekencang-kencangnya. Saking cepatnya, mata saya berair. Dan Anda tahu, saya masuk ke dalam kamar murid saya dan mengunci pintu.
Wajah saya berhenti pada sebuah cermin. Terpana saya menghembuskan nafas lelah. Wajah saya begitu cerah, putih, putih sekali. Padahal saya tidak pakai obat apa-apa. Setelah itu saya tak kuasa menahan tawa. Betapa kerennya saya. Saya sendiri tidak percaya kalau saya mempu berlari dengan kcepatan sedahsyat itu. Selisih jarak antara saya dan anjing itu kurang dari 30 cm. Kaki saya bahkan bisa merasakan embusan napas dari gonggongannya. Luar biasa, menakutkan. Tapi pengalaman ini berhasil membuat wajah saya cerah alami.
Terima kasih, anjing yang saya kira gila!
Langganan:
Postingan (Atom)



