Sebuah buku dengan judul yang sensasional berhasil membangkitkan gairah membaca saya yang mungkin telah hilang selama berbulan-bulan.
Membangkitkan? Barangkali bukan itu kata yang tepat. Buku Rich Dad, Poor Dad telah menciptakan rasa cinta saya pada buku beraroma finansial; dengan bumbu akuntansi, aset, neraca, liabilasi, dan kata-kata lain berkoherensi dengan itu.
Catatan Penulis
Saya tidak dibayar sepeserpun untuk menuliskan pujian terhadap buku ini.
Isi
Apakah sekolah menyiapkan generasi muda untuk mengahadapi dunia yang riil?
Apakah meraih nilai tertinggi di kelas dan mendapatkan peringkat tertinggi di kelas bisa menjamin seseorang mendapatkan masa depan yang cerah?
"Belajarlah yang rajin, raihlah nilai yang tinggi, carilah pekerjaan yang aman dan terjamin."
Nasihat semacam itu barangkali akan bekerja di era 1945, namun sudah kadaluwarsa untuk diterapkan sekarang.
Buku Rich Dad, Poor Dad karangan Robert T. Kiyosaki menuliskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas secara lugas dan menawan, mengulas paradigma Robert yang memiliki dua ayah yang berbeda, memiliki cara pandang yang berbeda tentang uang, bahkan tak jarang bertolak belakang.
Ayahnya yang terdidik mendorong Robert untuk menjadi orang yang pandai dan cerdik.
Ayahnya yang kaya mendorong Robert untuk mengetahui bagaimana memperkerjakan orang yang pandai dan cerdik.
See the differences?
Lagi.
Salah seorang ayahnya mengatakan, "Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan."
Pada saat yang sama, ayahnya yang lain mengatakan, "Kekurangan akan uang adalah akar segala kejahatan."
Well, both are true, I admit it.
Buku ini mengupas bagaimana dalam kehidupan, orang-orang terjerat dalam kehidupan "Perlombaan Tikus"
Berikut ini adalah pernjelasan Robert mengenai "Perlombaan Tikus":
"Jika Anda melihat kehidupan orang-orang yang pendidikannya sedang-sedang saja dan bekerja keras, ada jalan yang serupa. Anda dilahirkan dan pergi ke sekolah. Orangtua bangga dan senang karena anaknya unggul, memperoleh nilai baik dan jujur, dan diterima di sebuah universitas bergengsi. Anak itu lulus, dan mungkin melanjutkan ke program pasca-sarjana, dan kemudian melakukan persis seperti yang telah diprogramkan: mencari sebuah pekerjaan yang aman dan terjamin. Si anak mendapatkan pekerjaan itu, mungkin sebagai dokter atau pengacara, atau bergabung dengan Angkatan Bersenjata atau menjadi pegawai negeri. Biasanya si anak mulai menghasilkan uang, kartu kredit mulai dikoleksi, dan belanja pun dimulai.
Karena sudah mempunyai uang untuk dibelanjakan ,sang anak pergi ke tempat-tempat di mana anak-anak muda lainnya senang berkumpul, dan mereka bertemu banyak orang, mereka berkencan, dan kadang-kadang mereka menikah. Saat ini aktivitas hidup telah berubah sangat banyak, karena sekarang, baik pria(suami) maupun wanita (istri) bekerja. Dua penghasilan dalam keluarga tentu menggembirakan. Mereka merasa berhasil, masa depan mereka cerah, dan mereka memutuskan untuk membeli rumah, mobil, televisi, berlibur, dan mempunyai anak. Segumpal kegembiraan tiba. Permintaan uang tunai sangat besar. Pasangan itu memutuskan bahwa karier mereka sangat penting dan mereka bekerja keras untuk itu, mencari promosi dan kenaikan(gaji maupun jabatan). Kenaikan-kenaikan pun datang, dan mereka juga mempunyai seorang anak lagi sehingga membutuhkan rumah yang lebih besar.
Mereka bekerja lebih keras, menjadi karyawan yang baik, bahkan lebih berdedikasi. Mereka bersekolah kembali untuk memperoleh keterampilan yang lebih terspesialisasi dengan harapan bisa menghasilkan uang lebih banyak. Mungkin mereka mencari kerja tambahan atau sambilan. Penghasilan mereka pun naik, tetapi pajak-pajak yang harus mereka bayar pun semakin bertambah: pajak atas rumah baru yang lebih besar, pajak kendaraan, dan pajak-pajak lainnya. Mereka memperoleh cek gaji yang besar dan bertanya-tanya ke mana larinya seluruh uang itu. Mereka membeli beberapa reksa dana dan membeli kebutuhan rumah tangga dengan kartu kredit. Kebutuhan anak-anak mereka dan kebutuhan pendidikan mereka juga mereka perhatikan, begitu pula dengan kebutungan menabung untuk hari tua (masa pensiun) mereka.
Pasangan bahagia itu, yang lahir 35 tahun yang lalu, sekarang terperangkap dalam perlombaan tikus selama sisa-sisa hari kerja mereka. Mereka bekerja untuk para pemilik perusahaan mereka, atau untuk pemerintah, untuk membayar pajak, hipotek bank, dan tagihan kartu-kartu kredit.
Bagian mirisnya adalah, mereka menasihati anak-anak mereka sendiri untuk 'rajin belajar, memperoleh rangking yang baik, dan mendapatkan pekerjaan atau karir yang aman dan terjamin'. Mereka tidak belajar apa pun tentang uang, kecuali dari mereka yang mendapat keuntungan dan kenaifan mereka, dan bekerja keras sepanjang hidup mereka. Proses itu terulang dalam generasi berikutnya yang bekerja keras. Ini adalah "Perlombaan Tikus"."
Nah, kalau sekarang Anda menyadari bahwa Anda sedang berada dalam perlombaan ini atau hampir menjerumuskan diri Anda ke dalam perlombaan ini dan membutuhkan jawaban untuk menghindari perlombaan ini, buku setebal 238 halaman ini menyediakan jawabannya bagi Anda.
keren review buku rich dad poor dad nya gan :)
BalasHapus