Jumat, 27 Maret 2015

Kesukacitaan Membaca

Judul ini sangat saya. Saya tidak akan pernah keberatan menunggu teman saya, seberapa lama pun itu (selama saya tidak punya keperluan yang mendesak), asalkan saya memiliki sesuatu untuk dibaca. Buku, majalah, quotes di kertas, lukisan di dinding, pesan di baliho, tulisan apapun yang menarik perhatian mata saya. Itulah satu rahasia mengapa saya tidak pernah merasa menunggu.


Saya tidak tahu kapan tepatnya saya mulai mencintai membaca. Tapi saya masih ingat perasaan bangga dan penuh kemenangan saya (bayangkan seorang perempuan yang baru mendaki Puncak Jaya Wijaya seorang diri dan menancapkan bendera merah putih di atas sana, dengan pakain tebal, sebuah kamera yang dikalungkan di lehernya, dan rambut yang tertiup-tiup) setelah berhasil menghabiskan waktu saya yang bernilai untuk melahap ludes sebuah buku. Oke, cerita itu agak dramatis. Tapi saya merasa sangat bangga. Sangat.

Rasanya seperti baru saja menyelesaikan sesuatu yang sangat panjang. Ada kebahagiaan, damai, dan sebuah rasa yang tidak bisa disampaikan. Mengagumkan mendapati bagaimana sebuah buku bisa membuat pikiran seseorang menjelajah jauh ke benua lain, atau tempat lain, budaya lain, cara orang tertentu melakukan hal tertentu, deskripsi tempat dan orang dan lain-lainnya. Bayangkan seberapa cerdas seorang penulis menyampaikan gagasan-gagasannya hanya dengan 26 karakter, sebuah spasi, dan beberapa tanda baca.

Bayangkan betapa hebat mereka bisa menuangkan segala penglihatannya dalam pikiran dalam sebuah kertas, bayangkan bagaimana sebuah tulisan bisa mengantarkan Anda ke tempat yang letaknya amat jauh dari diri Anda dan kepada benda/makhluk yang tak pernah Anda bayangkan sebelumnya. Bayangkan bagaimana kata-kata penulis bisa menari-nari di pikiran Anda dan membuat Anda melayang jauh ke dunia lain. Kalau berpacaran, dunia seolah milik berdua. Kala membaca buku, dunia hanya milik Anda dan buku di tangan Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar