Sabtu, 18 April 2015

Hadiah dari Teman

Saya seorang penerjemah.
Bukan penerjemah seperti ada orang asing menjadi pembicara dalam suatu acara kemudian saya berdiri dengan mikrofon dan menyuarakan bahasanya menjadi bahasa Indonesia kepada ratusan pendengar lain.
No, I'm not that kind of translator. May be haven't yet.

Bukan juga penerjemah seperti ada orang asing datang ke suatu perusahaan dan tidak bisa berbahasa Indonesia, lalu saya menafsirkan pesannya tentang mesin, proses kerja atau daya yang dihabiskannya. No, I'm not that kind of translator too. May be haven't yet.

Penerjemah yang saya maksudkan di sini adalah penerjemah seperti ini.
Ketika ada orang yang tidak bisa berbahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Jerman, Korea, Jepang, Prancis, dsb dan saya berada pada posisi mengetahui bahasa-bahasa itu, ketika itulah aura penerjemah saya keluar. Bukan yang levelnya advance memang, tetapi cukup untuk mengajak berkenalan, menanyakan kabar dan barangkali berbicara sehari-hari yang mengundang tawa dengan segenap bahasa tubuh dan bahasa hati. Seringkali ketika ada orang yang menemukan orang yang bisa berbahasa sama dengan mereka, orang itu merasa lebih gembira. Dan kenyataan melihat senyum gembira dan mata ceria merekalah yang membuat saya selalu dan akan selalu termotivasi untuk terus mempelajari bahasa mereka.

Nah, suatu hari, teman saya bertanya, "Pernahkan mereka memberikanmu hadiah?"

Hadiah. Tentu saja pernah. Bukan hadiah dalam kotak yang dibungkus dengan kertas indah dan diikat dengan pita cantik. Bukan, bukan hadiah semacam itu. Tetapi, adakah hadiah-hadiah yang lebih berharga dari hadiah seperti di bawah ini?
Duduk manis di bawah pohon kelapa di tepi kolam atau mendengarkan lagu di mobil sambil mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana cara orang mereka biasanya makan buah tertentu, apa yang orang mereka lakukan sehabis makan, seberapa penting kata A dalam bahasa mereka, bagaimana mereka hidup di negara mereka mulai dari kecil dan sampai bisa terdampar di Indonesia dan menjadi jatuh cinta dengannya, bagaimana cara mereka menghabiskan minuman tertentu pada saat tertentu, bagaimana orang mereka akan bereaksi ketika Anda mengatakan hal B, alasan mengapa potongan rambut orang mereka rata-rata seperti itu, bagaimana cara mereka memainkan hompimpa ala negara mereka dan bagaiman mereka bermain sebelum era digital, bagaimana mereka hidup di negara dengan musim seperti itu, bagaimana pandangan mereka tentang negara Indonesia, dan mungkin akan bertambah semakin banyak lagi seiring saya bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang,

Hal-hal tersebut adalah salah satu hadiah sekaligus memori paling indah dalam hidup saya dan karenanya saya akan terus belajar bahasa asing.

I want to be that kind of translator.

Selasa, 14 April 2015

Kreativitas

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, salah satu anugerah paling luar biasa yang kita miliki adalah anugerah untuk menciptakan. Perhatikan anak-anak kecil di sekitar Anda. Berikan mereka seperangkat pensil warna, mainan blok, mainan lego, sebongkah clay, lidi-lidi kecil, apapun yang bisa Anda beri, dan mereka akan menyusun, membentuk, memoles, menciptakan sesuatu yang baru. Dan bukan hanya benda yang mereka ciptakan, melainkan juga cerita dan petualangan. Dan jangan lupa perhatikan gerak mulut dan ekspresi mereka ketika mereka menceritakannya dengan semangat yang membara-bara dari api yang bersinar keluar dari mata mereka. Imajinasi anak-anak, menurut saya, sungguh “liar”.

Saya juga sempat menjadi anak-anak dan itu merupakan salah satu masa paling imajinatif yang bisa saya bayangkan. Tembok di rumah adalah kanvas sejati. Kalau bukan ibu saya yang melindungi keputihan dinding rumah dari coretan jahil saya, mungkin dinding rumah kami sekarang akan penuh dengan warna-warni spidol, pensil warna, dan mungkin krayon. Dan tak perlu lebih dari lima detik bagi saya untuk menyadari betapa saya adalah seorang pelukis amatir dengan level di bawah nol. Kembali saya buka catatan masa kecil saya, hampir di setiap lembar dari buku catatan saya, saya temukan garis-garis dan gambar-gambar yang seharusnya tidak berada di sana. Dan saya percaya, tidak sedikit dari Anda yang juga melakukannya. Ayo ngaku?

Betapa masa kanak-kanak diisi oleh goresan-goresan tak jelas, coretan-coretan yang mungkin tak berarti, gambar-gambar lucu yang terkadang bagus juga kalau dilihat, tulisan cepat sampai-sampai hampir tak terbaca, arsiran uang 500 rupiah dengan gambar Pancasila, lukisan wajah guru, bentuk kelas, tulisan curahan hati tentang betapa bahagianya hari itu, apapun, segalanya, kreativitas, bisa ditumpahkan di bagian atas dari buku.

Intinya, setiap space putih kosong di buku adalah lahan yang menyegarkan untuk memulai kreativitas baru. Dan sama seperti mie ayam bakso gratis di kala hujan lebat, itu akan selalu terlihat lezat.

Dan walaupun jurusan perkuliahan saya bukanlah seni, saya memiliki buku gambar sendiri. Yang jelas bukan buku gambar A3 yang harus diberi garis tepi 2cm dengan kotak kecil di pojokan bertuliskan nama dan NIM. Di sana, saya menuangkan segala pikiran saya. Entah itu cerita bahagia atau pelajaran berharga. Terkadang saya menggambar ringkas untuk memperkuat penjelasan suatu cerita. Dan selalu ada kerinduan tersendiri untuk kembali membuka buku ambar itu dan melihat cerita yang tertuang di sana. Tak jarang saya tersenyum melihat betapa bijak saya saat itu.

Saya sangat percaya, keinginan untuk menciptakan telah ada di setiap dari kita. Kalau kita memperhatikan sekitar, selain objek-objek alami yang telah ada dari alam, hampir segala sesuatunya adalah hasil dari buah pemikiran dan kreativitas manusia. Sebut saja komputer Anda, kursi, meja, HP, buku, tas, lemari, apapun dan mungkin semuanya, adalah hasil dari daya pikir dan daya cipta manusia. Itulah yang membedakan manusia dari spesies hewan apapun di muka bumi, kemampuan untuk menciptakan dan melahirkan sesuatu yang baru.

Sebaliknya, nilai kebahagiaan kita berkurang ketika kita tidak bisa mengekspresikan diri kita secara bebas dan kreatif. Kita bisa saja menjadi sukses dalam pekerjaan kita dan mampu membeli benda yang kita butuhkan dan inginkan. Tetapi jika hal itu memendam kebebasan kita untuk menjadi pribadi yang kreaif, sepertinya bekerja seperti robot, melakukan hal yang sama setiap hari setiap saat, hal yang paling mungkin terjadi adalah hidup kita menjadi membosankan dan tidak menarik.

Tentu saja, tidak semua hal dalam hidup dan pekerjaan mengizinkan kita untuk mengeksplorasi dan menyatakan kreativitas kita. Tidak semua dari kita bekerja pada imdustri kreatif. Tidak semua dari kita bahkan tertarik pada seni atau pekerjaan yang melibatkan seni, apalagi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap desain dan bagaimana suatu karya tercipta. Beberapa dari kita cukup cerdas untuk bertahan dengan kertas kerja atau pekerjaan mengelola sesuatu atau seseorang.

Walaupun demikian, kita menemukan diri kita berada pada zona paling bahagia dan puas ketika kita bisa menciptakan hal baru, yang sederhana namun mudah dipahami dan bermanfaat. Mungkin itu secarik puisi, sebuah cerpen, video singkat tentang tutorial melakukan sesuatu, sebait senandung, sebuah gambar, benda palsu mainan, gelang manik-manik kecil, sebuah susunan mainan robot, rumah-rumahan, rel kereta api mainan, pesawat kecil, nugget rumahan, sepiring pasta lezat, bolu manis, segelas minuman menggoda, sweater jahitan tangan sendiri, kerajinan tangan, tanaman hias rawatan sendiri, hewan peliharaan, atau segala sesuatu apapun itu yang kita nikmati untuk lakukan di waktu senggang kita.

Kebahagiaan dan kepuasan saat memanggang kue yang lezat atau makanan bagi keluarga dan teman dapat menghilangkan kepenatan setelah seharian otak kita diminta untuk menunjukkan “taringnya”. Ada sebuah pencapaian ketika kita melihat hasilnya dan kepuasan itu tidak akan tergantikan oleh sesuatu apapun di dunia. Rasa bangga itu ada karena itu adalah bentuk pengekspresian diri. Ada kebanggaan ketika kita bisa menciptakan sesuatu dari yang bukan sesuatu.


Maka itu, selalu sediakan waktu untuk menuangkan kreativitas Anda dalam bentuk apapun. Otak kita menghargai stimulus yang diberikan dan jiwa kita pantas menunjukkan cara mengekspresikan diri. Karena kreativitas, baik itu dalam bidang seni, musik, sastra dan hobi seperti memasak, memancing, kerajinan tangan, berkebun, membuat patung, dan segala sesuatu yang melibatkan tangan untuk bekerja, adalah bahasa nyata bagi jiwa untuk bersuara.


Kamis, 09 April 2015

Seni dari Mendengarkan

Mendengarkan itu memiliki seni. Saya tidak mengetahuinya sampai suatu buku atau barangkali teman (ceritanya ini randomly ngetik karena semalam mimpi naik pesawat terbang babi bersayap, hahaha) memberitahu saya bahwa ada tingkatan yang berbeda-beda dalam mendengarkan. Seperti yang kita tahu, mendengarkan dan mendengar itu adalah dua hal yang berbeda. Saat Anda duduk di dalam angkutan umum bersama orang yang Anda kenal, Anda mendengar suara bising jalanan, seperti aspal yang tergesek atau supir yang meneriakkan kepada penumpang untuk mepet. Di lain sisi, barangkali Anda mendengarkan cerita teman Anda. Mendengar adalah suatu proses yang pasti dialami indera kita seiring kita hidup dan telinga kita bekerja, tapi mendengarkan adalah ketika kita menerima suara itu dan mengirimkannya kepada impuls otak untuk dicerna dan dipahami.

Kita bisa secara fisik mendengar orang berbicara. Banyak dari kita hanya berhenti pada tahap mendengar, yang itu berarti, seluruh suara yang masuk dalam pikiran hanya berakhir tidak berarti.

Hal lain untuk diingat adalah kita dilengkai dengan dua telinga, yang berarti manusia diminta untuk menjadi pendengar yang baik. Namun, banyak dari kita yang memperkerjakan lidah kita lebih lama daripada telinga ketika berkomunikasi. Kita cenderung untuk berbicara daripada mendengarkan. Bahkan ketika terlihat seolah-olah sedang mendengarkan orang lain berbicara pun, tak jarang kita menghitung-hitung, menduga-duga di dalam pikiran, kira-kira kapan saat yang paling tepat untuk menenayakan pertanyaan apa.

Sebenarnya, apa yang dibutuhkan untuk berbicara adalah, mulut yang terbuka, dengan lidah yang menyesuaikan bentuk kata, dan pita suara. Sisanya, yang jauh lebih penting adalah keingingan hati untuk mendengarkan lawan bicara dengan sepenuh hati.

Pada kenyataannya, memusatkan perhatian untuk benar-benar berada di tempat saat itu, mendengarkan lawan bicara, agak sulit dilakukan. Untuk beberapa orang, hal itu bahkan membosankan.

Cara kita mendengarkan menentukan kualitas komunikasi dan kualitas hubungan kita. Ketika kita mendengarkan dengan hati, ketika jiwa kita benar-benar berada di dalam raga kita ketika orang lain butuh untuk didengarkan, ketika itulah lawan bicara kita merasa diperhatikan, dipedulikan, dan dihargai. Mengagumkan melihat hubungan kita bertumbuh dan berevolusi dengan dahsyat ketika kita benar-benar bisa mengembangkan seni dari mendengarkan.


Jumat, 03 April 2015

Fakta Menyedihkan tentang Manusia

Luangkan waktu Anda 5 menit dan mungkin Anda baru akan sadar tentang fakta paling menyedihkan dari manusia.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang senang membinasakan makhluk hidup lain.
Manusia pergi ke sungai, melihat buaya, lalu berlari minta tolong kepada orang untuk membunuh buaya itu. Hei, apa yang salah dengannya? Di sanalah rumahnya. Memang seharusnya buaya berada di sana.

Lagi.

Manusia pergi ke hutan, atau gunung, atau tempat sejenis itu. Manusia melihat harimau, kemudian berlari kabur dan pergi lagi membawa senapan atau bahkan membakar hutan. Hei, apa yang salah? Di sanalah rumahnya. Lagi, manusia senang membinasakan makhluk lain.

Masih mengatakan “bukan saya”?

Manusia menyemprotkan obat pembasmi serangga demi membinasakan semut, kecoak, dan lain sebagainya.

Manusia melihat cicak dan terbesit ide untuk membinasakannya.

Hal ini, yang paling sering, manusia membunuh nyamuk, bahkan semut. (Oke, kalau sudah di level sangat mengganggu mungkin bisa dipertimbangkan.)

Ada lagi.

Manusia melihat bunga cantik. Manusia memetiknya, menunjukkan keindahannya pada manusia lain dan lalu menelantarkannya. Manusia senang membinasakan makhluk hidup lain.

Manusia berjalan kaki. Ada jalan yang panjang dan ada shortcut yaitu dengan menginjak rumput. Manusia menginjak rumput. Tak tahukah manusia bahwa rumput juga bernapas?

Lagi-lagi, manusia senang membinasakan makhluk hidup lain.


Apakah manusia masih ingin lari dari kenyataan ini


Selasa, 31 Maret 2015

Menjadi Seperti Anak-Anak

Masihkah Anda ingat bagaimana cara Anda melihat dunia ketika Anda masih anak-anak? Ketika alasan Anda menangis hanyalah seputar dimarahi orang tua atau terjatuh ke tanah? Dunia ini adalah tempat yang penuh dengan hal-hal indah nan menakjubkan. Dunia ini adalah tempat yang penuh dengan taman bermain yang luas dan misterius, yang menyetrum kedua kaki Anda untuk terus berjelajah dan menjamah tempat-tempat baru. Setiap hari adalah awal yang indah untuk mulai berkelana dan bersenang-senang. Anda tidak menginginkannya untuk berakhir. Pulang kembali ke ranjang menjadi salah satu musuh Anda. Sebaliknya, Anda menari, bernyanyi, berteriak, dan tertawa sampai Anda lelah sendiri dan tertidur dengan penuh kesukacitaan.

Ada begitu banyak pelajaran yang bisa diambil ketika Anda masih anak-anak. Satu-satunya kata yang meluncur dengan mudah adalah, “Kenapa?” Anda menanyakan segala sesuatu hal dan Anda tidak takut apakah orang dewasa menganggapnya aneh atau tidak. Karena sebagai seorang anak, Anda tidak takut apapun. Anda ingin mengetahui segalanya dan Anda tidak takut pada kenyataan.

Dan ketika ada sesuatu yang tidak Anda pahami, atau tidak tahu bagaimana cara mereka bekerja, lagi-lagi, sebagai seorang anak, Anda tidak perlu kehilangan lima detik untuk bertanya, “Bagaimana?” Anda tidak berpura-pura mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak Anda ketahui. Anda tidak takut akan penolakan karena Anda tahu, untuk menjadi tidak ditolak, satu-satunya hal yang Anda butuhkan adalah bertanya. Karena hanya dengan bertanyalah Anda bisa menemukan jawaban.

Anda juga tidak menduga-duga hal yang tidak bisa Anda dengar atau lihat. Anda tidak berpura-pera menjadi lebih pintar atau lebih baik daripada orang lain dan berpendapat tentang sesuatu yang tidak Anda ketahui. Sebaliknya, Anda adalah orang yang jujur, tulus dan rendah hati. Dan orang-orang melihat keluguan dan kepolosan Anda sebagai sesuatu yang menarik. Itulah mengapa orang-orang menyayangi Anda dan berharap bisa melindungi Anda.

Sebagai seorang anak, Anda cepat tanggap. Ketika Anda melihat sesuatu yang aneh pada diri orang lain, Anda akan bertanya mengapa atau memberikan pendapat. Anda melakukannya tanpa didasari niat mengkritik atau meremehkan. Anda bertanya semata-semata demi memenuhi hasrat penasaran Anda, bukan karena Anda menghakimi orang itu atau membanding-bandingkannya. Itulah mengapa orang-orang tidak mudah tersinggung mendengar perkataan Anda melainkan merespon perkataan Anda dengan jujur. Dan mereka menghargai Anda yang telah menunjukkan perhatian kepada mereka.

Namun seiring kita bertumbuh besar, beberapa hal terjadi. Kita kehilangan seluruh rasa ingin tahu dan perasaan takjub yang kita dapatkan setelah mengetahui hal baru. Sebaliknya, kita tumbuh menjadi orang dewasa yang memiliki banyak pendapat dan kepercayaan, yang tidak bersedia untuk memberikan pertanyaan karena kita pikir kita sudah tahu jawabannya. Kita menghakimi orang dengan cepat, terlebih mereka yang tidak tertarik pada hal yang sama dengan kita dan mereka yang tidak percaya pada hal yang kita percayai. Dunia orang dewasa adalah dunia yang penuh dengan kesinisan, asumsi, dan penghakiman. Itulah satu-satunya hal yang yang ada di dunia orang dewasa, sementara dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan warna menyejukkan.

Mungkin kita menjadi seperti itu karena selama perjalanan hidup kita, kita merasakan kekecewaan dan harapan yang tidak terpenuhi. Kita jadi merasa kita tidak perlu belajar sesuatu yang baru, bertanya dan mengembangkan pikiran kita. Singkat kata, kita merasa sudah hebat. Kita memiliki sebuah hidup dan tanggung jawab. Untuk apa lagi kita bertumbuh? Apa lagi yang bisa kita ubah?

Dengan demikian, menjadi tualah kita, secara fisik maupun mental. Seiring dengan pikiran kita yang menjadi kaku dan kekeh, begitu juga dengan tubuh kita. Begitu pula dengan ekspresi kita yang sudah terbentuk sedemikian rupa.
Tapi kita tidak perlu menjadi seperti itu. Kita mungkin tidak bisa mengembalikan waktu atau mencegah waktu untuk berjalan, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita bertumbuh. Sebagai kenyataannya, kita tidak perlu bertambah tua. Jumlah tahun-tahun yang dilalui dan pengalaman-pengalaman hidup tidak sepantasnya menjadikan kita pribadi yang kokoh dan kekeh dalam menjalani kehidupan.

Sebalikmya, kita seharusnya mencoba untuk menjadi seperti anak-anak. Selalu melihat dunia sebagai tempat yang berlimpah ruah dengan petualangan dan kebahagiaan, memandang kekecewaan dan harapan yang belum terpenuhi sebagai permainan yang sedang kita mainkan, terkadang menang dan terkadang kalah. Tidak pernah takut untuk terus berpartisipasi ataupun menyerah.

Dan jika kita masih mampu mempertahankan rasa penasaran itu untuk tetap hidup dalam diri kita, kita bisa menemukan bahwa sebenarnya dunia ini sangat dahsyat dan penuh dengan tempat-tempat misterius untuk dijelajahi dan rahasia-rahasia untuk dikuak. Jadi, daripada terpaku pada satu hal, pesimis dan terkurung dalam lingkaran tekanan kehidupan, lebih baik kita mendongak dan mencari hal-hal baru, setiap hari. Seperti seorang anak yang tidak bisa menunggu untuk bangkit dan ranjang dan bermain dengan mainannya.

Menjadi seperti anak-anak tidak sama dengan menjadi kekanak-kanakan. Menjadi seperti anak-anak berarti memanggil kembali seluruh kebahagiaan tulus masa lalu dan tetap memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai hal menakjubkan di dunia ini. Menjadi seperti anak-anak yang dimaksud di sini adalah memandang dunia sebagai taman bermain di mana kita bisa mengembangkan kemampuan sampai pada titik maksimal. 

Jumat, 27 Maret 2015

Kesukacitaan Membaca

Judul ini sangat saya. Saya tidak akan pernah keberatan menunggu teman saya, seberapa lama pun itu (selama saya tidak punya keperluan yang mendesak), asalkan saya memiliki sesuatu untuk dibaca. Buku, majalah, quotes di kertas, lukisan di dinding, pesan di baliho, tulisan apapun yang menarik perhatian mata saya. Itulah satu rahasia mengapa saya tidak pernah merasa menunggu.


Saya tidak tahu kapan tepatnya saya mulai mencintai membaca. Tapi saya masih ingat perasaan bangga dan penuh kemenangan saya (bayangkan seorang perempuan yang baru mendaki Puncak Jaya Wijaya seorang diri dan menancapkan bendera merah putih di atas sana, dengan pakain tebal, sebuah kamera yang dikalungkan di lehernya, dan rambut yang tertiup-tiup) setelah berhasil menghabiskan waktu saya yang bernilai untuk melahap ludes sebuah buku. Oke, cerita itu agak dramatis. Tapi saya merasa sangat bangga. Sangat.

Rasanya seperti baru saja menyelesaikan sesuatu yang sangat panjang. Ada kebahagiaan, damai, dan sebuah rasa yang tidak bisa disampaikan. Mengagumkan mendapati bagaimana sebuah buku bisa membuat pikiran seseorang menjelajah jauh ke benua lain, atau tempat lain, budaya lain, cara orang tertentu melakukan hal tertentu, deskripsi tempat dan orang dan lain-lainnya. Bayangkan seberapa cerdas seorang penulis menyampaikan gagasan-gagasannya hanya dengan 26 karakter, sebuah spasi, dan beberapa tanda baca.

Bayangkan betapa hebat mereka bisa menuangkan segala penglihatannya dalam pikiran dalam sebuah kertas, bayangkan bagaimana sebuah tulisan bisa mengantarkan Anda ke tempat yang letaknya amat jauh dari diri Anda dan kepada benda/makhluk yang tak pernah Anda bayangkan sebelumnya. Bayangkan bagaimana kata-kata penulis bisa menari-nari di pikiran Anda dan membuat Anda melayang jauh ke dunia lain. Kalau berpacaran, dunia seolah milik berdua. Kala membaca buku, dunia hanya milik Anda dan buku di tangan Anda.

Sabtu, 14 Maret 2015

Ribuan Perspektif

Pernahkah Anda menyadari keragaman ketertarikan pada manusia membuat manusia memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan kacamata yang berbeda-beda?

Setiap orang di dunia ini punya cara yang berbeda-beda dalam menanggapi lingkungan sekitarnya. Bergaul dengan beranekaragam orang dengan ketertarikan yang sangat berbeda satu sama lain, bertukar pikiran tentang milyaran objek di dunia, membuat wawasan saya makin mekar. Betapa sebuah hal sederhana, sangat sederhana, bisa disorot orang dari paradigma yang mungkin tak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Sahabat-sahabat saya yang luar biasa lah yang mengajarkan beberapa hal ini pada saya.

Ketika Anda mendengarkan musik, apa yang Anda dengar? Musiknya, liriknya, atau keduanya? Sebagian dari Anda mungkin hanya mendengar saja. Sebagian dari Anda mungkin hanya menikmatinya sebagai teman seperjalanan ke kampus yang jaraknya puluhan kilometer atau pengisi keheningan di mana pun itu. Segelintir orang seperti saya, berusaha menyimak betul, mendengarkan dengan seksama kata-kata apa saja yang tertuang di lagu. Teman saya yang gitaris mendengarkan dengan cara yang berbeda, mereka menghayati permainan gitarnya, kapan si gitaris masuk, apakah temponya pas atau tidak, menimang-nimang apakah itu A# atau bukan, dan hal-hal kegitaran lainnya. Teman saya yang ayahnya berbisnis speaker, mendengarkan halus lembut lagu itu, bagaimana si bass mengambil alih, atau bagaimana suara musik itu pecah, bagaimana suara unsur ini tenggelam termakan suara yang lain. Satu lagu yang didengarkan oleh tiga orang bisa berpengaruh sangat berbeda. Kepada teman saya yang memperhatikan halus lembut lagu, dia selalu memberi penilaian, lagu ini kurang halus, atau kurang ini bagus itu, saya tak mengerti caranya menilai lagu itu. Yang saya mengerti adalah dia tidak sedang berbohong. Suatu waktu ia mengajari saya cara mendengarkan lagu ala dia. Dan butuh waktu yang tidak lama untuk mempelajarinya. Pada akhirnya, saya mengerti caranya dan berakhir dengan senyuman, senang sekali bisa mengerti, namun tak berniat menghabiskan seluruh waktu mendengarkan lagu saya untuk mendengarkan ala dia.

Suatu hari saya mengadakan perjalanan Serpong-Jakarta bersama teman-teman baru saya. Mereka datang dari pelosok manapun di Indonesia dengan minat di bidang yang berbeda dengan saya. Di mobil itu ada anak ilmu komunikasi, anak akuntansi, anak DKV, anak bahasa, anak fotografi, anak musik dsb.

Kami sama-sama melihat pemandangan yang kurang lebih seperti ini: dua buah papan reklame yang besar, yang satu beriklan produk elektronik rice cooker, yang satunya lagi berlatar belakang abu-abu polos dengan tulisan harap hubungi ... Sisi jalan ditanami pohon hijau nan cantik. Mobil berlalu-lalang. Damainya suasana kala itu ditambah iringan musik dari radio kesayangan kami, menyajikan lagu merdu.

Anak akuntansi tiba-tiba berceloteh, “Kalian lihat, papan itu kosong, padahal beberapa bulan yang lalu ada yang mengisi. Kebijakan pajak yang dibuat makin tinggi membuat perusahaan enggan berpromosi. Tahun 2014 lalu, pajak ...(saya lupa namanya) dibuat ...” Kemudian mulailah ia bercerita dengan serunya. Ia menjelaskan banyak sekali hal seputar dunia pajak.

Duduklah kami-kami dengan manis, mendengarkan penjelasannya.

“Sadar nggak kalian? Pada saat ia menyampaikan kuliah singkatnya tentang pajak, saya sedang asyik membaca bahasa asing yang tertera pada papan satunya lagi, melatih otak kanan saya. Menariknya, di saat yang sama, si anak DKV sedang menilai-nilai desain iklan dan permainan warnanya, apakah cocok atau tidak. Dan di saat yang bersamaan pula, si anak musik memusikalisasi iklan tersebut. Berbeda lagi, si anak fotografi menghitung-hitung, apabila ia mengambil foto dengan menggunakan fitur bulb, akankah papan reklame dan pohon-pohon di sekitarnya terlihat apik. Dan mungkin hanya saya, si pecinta bahasa asing sekaligus anak ilkom yang menyadari hal ini dan mengomunikasikannya kepada Anda-anda sekalian.


You may see a thing as an A, but who knows if others see it as a B, or an A too, but with different point of view.