Pengalaman Menulis Novel
Mata
kuliah Creative Writing bimbingan
Bapak Ahmadun Y. H. di Universitas Multimedia Nusantara Gading Serpong mengharuskan
saya dan beberapa teman lainnya menulis novel. Kabar baiknya adalah, novel itu
harus selesai dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Kabar baik yang kedua
adalah, kami semua belum pernah menulis novel sebelumnya. Dan masih ada kabar
baik yang ketiga, kebanyakan penulis novel sungguhan (baca: novelis) bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk
menulis novel pertama mereka.
Bukan
hal yang mudah untuk menulis novel. Maksud saya, bukan hal yang mudah seperti
membalikkan telapak tangan untuk menghasilkan novel yang nikmat dibaca, dengan penokohan
yang kuat, bahasa yang renyah dan mudah dipahami, alur dinamis, semuanya butuh
proses. Namun saya merasa sangat beruntung sempat merasakan menjadi novelis.
Setidaknya ada dua hal yang bisa saya pelajari dari pengalaman menulis novel.(menulis
jadi kebiasaan, kekuatan mestakung)
Deadline
yang singkat dengan jadwal kuliah dan kerja saya yang padat mengharuskan saya
berpandai-pandai dalam mencuri waktu untuk menulis novel. Tugas akhir mata
kuliah Creative Writing ini harus dikumpulkan pada pertengahan bulan
Desember - dalam bentuk buku - hanya beberapa bulan setelah tugas itu
diumumkan.
Deadline
yang sangat singkat dengan jadwal saya yang padat, menjadikan saya bekerja
ekstra gila di hari-hari terakhir pengumpulan novel. Bangun tidur saya
mengetik, sarapan lalu mengetik, selesai kelas lalu mengetik, bahkan terkadang
saya terpaksa mengetik di dalam kelas (hahahaha ini kalau Bapak Dosen
ngebosenin), makan di kantin lalu mengetik, teman saya mengobrol di sisi saya
sambil saya mengetik, pulang ke kosan lalu mengetik, mandi lalu mengetik, makan
malam lalu mengetik, saya melakukan APA SAJA selalu diakhiri dengan mengetik.
Bahkan terkadang mengunyah sambil mengetik, berjalan sambil mengetik, dengar lagu
sambil mengetik, teleponan sambil mengetik, ngobrol sambil mengetik, buang air
sambil mengetik, mandi sambil mengetik, ikat rambut sambil mengetik, pakai baju
sambil mengetik, membaca buku sambil mengetik, oke ini mulai NGACO.
Tapi
intinya yang ingin saya katakan adalah, saya menjadikan mengetik, menulis
novel, sebagai bagian dari hidup saya. Saya menjadikannya sebagai bagian dari
kebutuhan. Menulis saya jadikan sebagai separuh napas saya. Ibarat kata, saya
tidak bisa hidup tanpa mengetik. Deadline yang singkat mengharuskan saya
melakukan hal-hal tersebut. Saat saya mengatakan bahwa saya melakukan A dan
lalu mengetik , saya melakukan yang sebenarnya. I really mean it literally.
Dan
ajaib, entah bagaimana, ide bermunculan dengan sendirinya saat mengetik (baca:
menulis novel) itu dilakukan. Bahkan tanpa Anda percaya, tulisan itu beranak
cucu menjadi sangat banyak. Novel yang pada mulanya saya rencanakan hanya 100
lebih jumlah halamannya, bertambah menjadi 150 halaman, malahan saya
merencanakan menulis novel kedua.
Menulis
novel menjadi bagian dari kebiasaan saya dan seperti ada sesuatu yang terenggut
saat saya tidak lagi melakukannya. Hal itulah yang menggerakan saya
menari-narikan jari saya di atas laptop saat ini, menulis artikel yang tidak
saya ketahui akan menjadi seberapa panjang. Sekali saya menulis, saya akan
tenggelam ke dalamnya. Dan ketika pikiran sudah terkoneksi, dalam majas
hiperbola, bahkan topan badia pun tak akan menghentikan Anda.
Tapi
sekali Anda berhenti, ide seperti merajuk, sulit untuk dipanggil. Maka itu,
sekali Anda mendapatkan ide untuk menulis, lanjutkan, jangan berhenti, jangan
pernah sekalipun. Setidaknya hukum itulah yang berlaku bagi saya dan membuat
saya menyadari di tengah malam saat saya mengalihkan pandangan ke teman di sisi
saya menanyakan, “Besok kelas jam berapa?” Alih-alih mendapat jawaban, dia
membantah dengan mengatakan, “Bukan besok, tapi nanti, nanti pagi.”
Tenggelamnya
saya dalam dunia menulis membuat waktu berjalan sangat cepat. Tahu-tahu hari
sudah larut, tahu-tahu hari sudah berganti. Tahu-tahu sudah berjumlah lima
ratus delapan puluh tiga kata. Menulislah sampai Anda lupa kalau Anda sedang
menulis, mengetiklah sepanjang hari. Menulislah sampai Anda mati rasa, sampai
Anda tak perlu berpikir kira-kira kata apa yang akan digunakan atau tanda apa
yang akan Anda pakai, semuanya mengalir secara alami.
Biasakan
diri Anda dengan menulis. Jadikan menulis sebagai suatu bagian hidup yang
terenggut, cerita hidup yang terpenggal kalau Anda tak melakukannya, ada rasa
kehilangan, rasa tak lengkap kalau Anda tidak menulis. Jadikan menulis itu
esensial, sama esensialnya dengan kebutuhan Anda bernapas dan bersosialisasi.
Tanpa menulis, ada sesuatu yang belum terlengkapi.
Intinya,
saya sampai pada satu kesimpulan bahwa untuk menjadi novelis atau penulis
sejati, jadikanlah menulis itu suatu kebiasaan. Practice makes perfect and
it’s always true. Saya, juga teman-teman saya yang lain, dari yang awalnya
benar-benar tidak memiliki bayangan tentang apa yang akan dituang di kertas
putih beratus-ratus halaman, mendapati diri keasyikan bercerita. Kami semua berlatih
terus tiap harinya, mengasah kemampuan kami dengan terus membunyikan ‘tik-tik’
di laptop kami. Novel yang bisa saya genggam merupakan hasil dari proses
belajar. Dan saya benar-benar yakin bahwa novel yang baru saja kami cetak hanya
sebuah langkah awal yang sanagat mendasar, masih banyak anak tangga yang harus
saya dan semua penulis-penulis lainnya jajaki. Perkara menulis novel tak luput
dari peran dua hal, kebiasaan dan waktu.
Yang
saya maksud dengan waktu di sini adalah, masa-masa kepepet (dalam kasus saya).
Dalam bahasa ilmiahnya adalah mestakung atau semesta mendukung. Semesta
mendukung alam bawah pikiran saya untuk terus memotivasi pikiran dan kedua
tangan saya untuk terus menghasilkan cerita, untuk terus berproduktif karena
adanya batasan waktu. Pikiran saya terus
menerus dipacu dengan kenyataan bahwa novel iu harus menjadi buku dalam
beberapa waktu ke depan, apapun yang terjadi. Mestakung itu merupakan hal yang
benar-benar dahsyat dalam rangka menjadikan menulis sebagai bagian dari
kebiasaan saya. Maka itu, buatlah target waktu untuk menulis novel.
Demikianlah
yang bisa saya bagikan mengenai pengalaman menulis novel. Selamat berkarya!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar