Jumat, 19 Desember 2014

Pengalaman Menulis Novel



Pengalaman Menulis Novel

Mata kuliah Creative Writing  bimbingan Bapak Ahmadun Y. H. di Universitas Multimedia Nusantara Gading Serpong mengharuskan saya dan beberapa teman lainnya menulis novel. Kabar baiknya adalah, novel itu harus selesai dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Kabar baik yang kedua adalah, kami semua belum pernah menulis novel sebelumnya. Dan masih ada kabar baik yang ketiga, kebanyakan penulis novel sungguhan (baca: novelis)  bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menulis novel pertama mereka.




Bukan hal yang mudah untuk menulis novel. Maksud saya, bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan untuk menghasilkan novel yang nikmat dibaca, dengan penokohan yang kuat, bahasa yang renyah dan mudah dipahami, alur dinamis, semuanya butuh proses. Namun saya merasa sangat beruntung sempat merasakan menjadi novelis. Setidaknya ada dua hal yang bisa saya pelajari dari pengalaman menulis novel.(menulis jadi kebiasaan, kekuatan mestakung)
Deadline yang singkat dengan jadwal kuliah dan kerja saya yang padat mengharuskan saya berpandai-pandai dalam mencuri waktu untuk menulis novel. Tugas akhir mata kuliah Creative Writing ini harus dikumpulkan pada pertengahan bulan Desember - dalam bentuk buku - hanya beberapa bulan setelah tugas itu diumumkan.
Deadline yang sangat singkat dengan jadwal saya yang padat, menjadikan saya bekerja ekstra gila di hari-hari terakhir pengumpulan novel. Bangun tidur saya mengetik, sarapan lalu mengetik, selesai kelas lalu mengetik, bahkan terkadang saya terpaksa mengetik di dalam kelas (hahahaha ini kalau Bapak Dosen ngebosenin), makan di kantin lalu mengetik, teman saya mengobrol di sisi saya sambil saya mengetik, pulang ke kosan lalu mengetik, mandi lalu mengetik, makan malam lalu mengetik, saya melakukan APA SAJA selalu diakhiri dengan mengetik. Bahkan terkadang mengunyah sambil mengetik, berjalan sambil mengetik, dengar lagu sambil mengetik, teleponan sambil mengetik, ngobrol sambil mengetik, buang air sambil mengetik, mandi sambil mengetik, ikat rambut sambil mengetik, pakai baju sambil mengetik, membaca buku sambil mengetik, oke ini mulai NGACO.
Tapi intinya yang ingin saya katakan adalah, saya menjadikan mengetik, menulis novel, sebagai bagian dari hidup saya. Saya menjadikannya sebagai bagian dari kebutuhan. Menulis saya jadikan sebagai separuh napas saya. Ibarat kata, saya tidak bisa hidup tanpa mengetik. Deadline yang singkat mengharuskan saya melakukan hal-hal tersebut. Saat saya mengatakan bahwa saya melakukan A dan lalu mengetik , saya melakukan yang sebenarnya. I really mean it literally.
Dan ajaib, entah bagaimana, ide bermunculan dengan sendirinya saat mengetik (baca: menulis novel) itu dilakukan. Bahkan tanpa Anda percaya, tulisan itu beranak cucu menjadi sangat banyak. Novel yang pada mulanya saya rencanakan hanya 100 lebih jumlah halamannya, bertambah menjadi 150 halaman, malahan saya merencanakan menulis novel kedua.
Menulis novel menjadi bagian dari kebiasaan saya dan seperti ada sesuatu yang terenggut saat saya tidak lagi melakukannya. Hal itulah yang menggerakan saya menari-narikan jari saya di atas laptop saat ini, menulis artikel yang tidak saya ketahui akan menjadi seberapa panjang. Sekali saya menulis, saya akan tenggelam ke dalamnya. Dan ketika pikiran sudah terkoneksi, dalam majas hiperbola, bahkan topan badia pun tak akan menghentikan Anda.
Tapi sekali Anda berhenti, ide seperti merajuk, sulit untuk dipanggil. Maka itu, sekali Anda mendapatkan ide untuk menulis, lanjutkan, jangan berhenti, jangan pernah sekalipun. Setidaknya hukum itulah yang berlaku bagi saya dan membuat saya menyadari di tengah malam saat saya mengalihkan pandangan ke teman di sisi saya menanyakan, “Besok kelas jam berapa?” Alih-alih mendapat jawaban, dia membantah dengan mengatakan, “Bukan besok, tapi nanti, nanti pagi.”
Tenggelamnya saya dalam dunia menulis membuat waktu berjalan sangat cepat. Tahu-tahu hari sudah larut, tahu-tahu hari sudah berganti. Tahu-tahu sudah berjumlah lima ratus delapan puluh tiga kata. Menulislah sampai Anda lupa kalau Anda sedang menulis, mengetiklah sepanjang hari. Menulislah sampai Anda mati rasa, sampai Anda tak perlu berpikir kira-kira kata apa yang akan digunakan atau tanda apa yang akan Anda pakai, semuanya mengalir secara alami.
Biasakan diri Anda dengan menulis. Jadikan menulis sebagai suatu bagian hidup yang terenggut, cerita hidup yang terpenggal kalau Anda tak melakukannya, ada rasa kehilangan, rasa tak lengkap kalau Anda tidak menulis. Jadikan menulis itu esensial, sama esensialnya dengan kebutuhan Anda bernapas dan bersosialisasi. Tanpa menulis, ada sesuatu yang belum terlengkapi.
Intinya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa untuk menjadi novelis atau penulis sejati, jadikanlah menulis itu suatu kebiasaan. Practice makes perfect and it’s always true. Saya, juga teman-teman saya yang lain, dari yang awalnya benar-benar tidak memiliki bayangan tentang apa yang akan dituang di kertas putih beratus-ratus halaman, mendapati diri keasyikan bercerita. Kami semua berlatih terus tiap harinya, mengasah kemampuan kami dengan terus membunyikan ‘tik-tik’ di laptop kami. Novel yang bisa saya genggam merupakan hasil dari proses belajar. Dan saya benar-benar yakin bahwa novel yang baru saja kami cetak hanya sebuah langkah awal yang sanagat mendasar, masih banyak anak tangga yang harus saya dan semua penulis-penulis lainnya jajaki. Perkara menulis novel tak luput dari peran dua hal, kebiasaan dan waktu.
Yang saya maksud dengan waktu di sini adalah, masa-masa kepepet (dalam kasus saya). Dalam bahasa ilmiahnya adalah mestakung atau semesta mendukung. Semesta mendukung alam bawah pikiran saya untuk terus memotivasi pikiran dan kedua tangan saya untuk terus menghasilkan cerita, untuk terus berproduktif karena adanya batasan waktu.  Pikiran saya terus menerus dipacu dengan kenyataan bahwa novel iu harus menjadi buku dalam beberapa waktu ke depan, apapun yang terjadi. Mestakung itu merupakan hal yang benar-benar dahsyat dalam rangka menjadikan menulis sebagai bagian dari kebiasaan saya. Maka itu, buatlah target waktu untuk menulis novel.
Demikianlah yang bisa saya bagikan mengenai pengalaman menulis novel. Selamat berkarya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar