Minggu, 17 Mei 2015

Dosenku Pencuri

Saya mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Saya mencintai kampus saya, alamamater saya. Tulisan yang Anda baca, judul di atas, benar adanya.

Let me tell you something, a secret.

Ada berbagai mata kuliah yang harus saya ambil, semuanya menyenangkan. Entah karena saya memang mencintai jurusan ilmu komunikasi, atau karena dosennya pencuri, atau pilihan A dan B keduanya benar? Oke, kalau begitu, jawabannya C, pilihan A dan B benar.

Dosen-dosen saya di UMN, menurut saya, semuanya pencuri. Bukan pencuri seperti Swiper pada Dora the Explorer. Mereka jauh lebih jagoan dari itu. Mereka jauh lebih keren dan berpengalaman. Tapi pada tulisan ini, saya ingin memfokuskan pada satu orang saja, yakni dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan saya, Bapak Edisius Riyadi Terre.

Tulisan ini bukanlah tugas mata kuliah saya atau cara saya melobi dosen untuk mendongkrak nilai. Tidak, bukan. Tulisan ini semata-mata sebagai cara saya menyampaikan apa yang selama ini saya pikirkan dan mungkin hampir seluruh mahasiswa didikan Bapak Edisius pikirkan.

Baiklah, the story starts here.

Mata kuliah umum hampir selalu menjadi mata kuliah yang mendapat nilai ketertarikan terendah bagi seluruh mahasiswa. Memang, saya belum melakukan survei resmi tentang ini, tetapi 9 dari 10 koresponden menyatakan demikian adanya. Saya sendiri, sewaktu mendapatkan kabar bahwa di semester kedua akan ada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, juga sudah mengernyitkan dahi dan mulai bergumam, mengenang masa SD sampai SMA yang saya habiskan dengan menguap-nguap ngantuk sampai menitikkan air mata sewaktu mengikuti mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Dan demi Planet Neptunus, bekal pendidikan sedari dua belas tahun yang lalu, yang diulang secara sama setiap tahun, mungkin dengan tambahan dan polesan sedikit di sana sini, harus kembali diulang sewaktu kuliah, yang jelas-jelas sudah diatur berdasarkan jurusan? Ada rasa malas di sana. Tapi berhubung akan dijalani dengan puluhan teman lain, mungkin rasa malas itu agaknya terasa dibagi 39 bagian.


Masih teringat jelas di bayangan saya, bagaimana “konferensi” singkat dengan teman-teman tentang pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Kami akan tertawa-tawa mengenang guru pendidikan kewarganegaraan yang rata-rata berkacamata dengan suara yang berat yang sangat mendukung untuk membelai pelajar ke alam mimpi. Intinya, pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang saya jalani selama 12 tahun, bisa jadi membawa saya pada masa-masa ngantuk. Mungkin dari ratusan pertemuan dengan aneka guru, hanya beberapa pertemuan saya saya benar-benar mencurahkan perhatian secara all-out.

Tapi, ada yang berbeda dengan sosok yang beberapa bulan lalu berdiri di hadapan saya dan teman-teman dan memperkenalkan diri. Beliau mengajar, mendidik, tetapi tidak membuat saya merasa seperti diajar. Or, I would like to conclude it like this: "Everytime I open my ears to the words he says, I know I learn something, but I don't feel like studying. And it's a lovely taste of learning."

Beliau menepati janjinya. Beliau mengatakan bahwa Beliau ingin menjadi teman belajar bagi saya dan bagi teman-teman saya. Dan benar, Beliau melakukannya. Beliau memberi ilmu dengan segenap hatinya. I can see his blaze. Ada cakrawala baru yang terkuak di kala Beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan. Dan saya suka setiap pertanyaannya yang menggelitik. Berikut ini beberapa pertanyaan Beliau yang membawa pikiran saya dan mahasiswa lain berjelajah jauh: perbedaan antara ekonomi politik dan politik ekonomi, perbedaan antara seks dan gender, perbedaan ketika membayangkan negara Indonesia sebagai daratan yang dikelilingi lautan ataukah lautan yang di dalamnya terdapat beberapa pulau/daratan. Poin-poin yang saya sebutkan barusan hanya seutas kecil cerita dari pelajaran seru yang Beliau ajak untuk eksplorasi. 

Beliau selalu sukses membawa suasana belajar di kelas menjadi suasana yang kondusif. Beliau tahu kapan saatnya memberikan pernyataan dan pertanyaan. Bagi saya, Beliau telah menepati pepatah terkenal ciptaan tokoh pergerakan nasional dalam bidang pendidikan, Ki Hadjar Dewantara; ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan merupakan hidangan penutup yang sangat memesona. Bapak Edisius telah sangat berhasil menjadikan saya warga negara Indonesia yang paham nilai-nilai kewarganegaraan. Namun, saya percaya, pendidikan kewarganegaraan yang sesungguhnya tidak berhenti sampai di sini, masih ada banyak hal yang harus saya dan jutaan masyarakat Indonesia lainnya lakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih baik lagi.

Nah, lihat, bagaimana dosen saya satu ini berhasil mencuri waktu saya untuk menulis artikel ini? Lagi-lagi, dosenku pencuri.

Yang Anda baca barusan ini, baru seperseribu aktivitas menyenangkan Ilmu Komunikasi di UMN, masih ada segudang lagi. Namun yang menjadi menarik adalah, kehadiran dosen-dosen pencuri perhatian seperti Bapak Edi.

Salam kewarganegaraan.

Senin, 04 Mei 2015

Seni dari Makan

Bahkan bukan hanya mendengarkan yang memiliki seni. Makan pun juga memiliki seni. Bukan tentang cara duduknya atau cara menyendokkan sesuatu ke mulut, bukan.


Semakin banyaknya rumah makan dan warung jajanan kecil di luar sana, dengan jumlah makanan yang tak terkira banyaknya dan kreasi yang kreatif membludak, bukan menjadi tugas yang sulit untuk memuaskan hasrat daging kita untuk makan.

One of the greatest luxuries of eating of mine is to be able to stop thinking about anything. The world is just belong to me and the thing in my mouth.


Selama makanan itu terlihat baik dan tidak beracun, kenapa tidak? Seperti halnya segala sesuatu yang dikemas dalam kaleng, kotak, plastik, alumunium, dsb, yang sering dijual di supermarket, yang menjadi santapan orang-orang sepanjang yang mereka inginkan.

Dulu, saya juga berpikir demikian. Hubungan saya dengan makanan berhenti seketika makanan itu berada di mulut saya. Makan adalah sesuatu lumrah yang dibutuhkan setiap insan. Yang diperlukan hanyalah menempatkannya di dalam mulut dan membiarkan tubuh dengan saluran pencernaannya mengemban tugas mereka. Kita tidak membutuhkan kursus spesial untuk makan.

Permasalahannya sekarang adalah, banyak dari makanan yang tersedia saat ini sudah berada pada fase sangat jauh dari kata alami dan sehat. Makanan sekarang ini telah melalui sekelibat proses panjang dengan banyak tahap, yang menjadikanya mungkin menarik secara visual, tetapi kehilangan esensi manfaatnya sebagai makanan. Mungkin tidak akan berbahaya apabila dikonsumsi sekali waktu, tapi apabila sering dikonsumsi, akan berdampak tidak baik bagi tubuh kita.


Berangkat dari lantunan Sugarnya Adam Levine, saya merasa tertantang untuk tidak makan gula selama tiga hari. Waktu yang singkat memang, tapi cukup menyiksa bagi seorang penyuka manis seperti saya. Teh saya menjadi pahit, sarapan gandum saya terasa tawar. Sangat tidak enak menghabiskan hari tanpa gula. Untuk apa saya melakukan hal ini?


Sebuah buku memberitahu saya tentang proses yang dilalui tebu untuk menjadi gula. Gula ternyata jahat, atau setidaknya, prosesnya lah yang menjadikannya cukup jahat di mata saya.

Tahukah Anda? Kecanduan manusia akan gula ikut mengambil bagian dalam penyebab kelaparan, pemerasan tenaga buruh, dan pemusnahan atas wilayah yang cukup besar yang dimiliki penduduk asli yang dibersihkan dalam rangka penanaman tebu oleh perusahaan penjajah profit?

Gula adalah akar dari banyak permasalahan dan bencana, yang mungkin banyak tidak diketahui oleh manusia, mulai dari kerusakan gigi yang ditumbulkannya sampai pada diabetes dan obesitas. Saya cukup kaget mengetahui cerita menyedihkan dibalik kristal putih mungil yang hampir selalu berhasil merangsang pikiran saya yang lelah. Ternyata makhluk manis ini punya terrible story di baliknya.

Berangkat dari hal itu juga, guru saya dulu juga mengajarkan untuk memperhatikan kandungan-kandungan yang terdapat dalam label makanan. Setiap kotak, kaleng, botol, pembungkus timah, plastik, apapun yang dijajakan di rak-rak di supermarket, semuanya memiliki label. Saya mengetahuinya. Hanya saja, saya tidak pernah memeperhatikannya.

Tahukah Anda, bagaimana seguci kecil mayonais, selai kacang atau sebungkus cemilan kentang, punya banyak sekali bahan penyusun?

Dan, nama-namanya dan persenan kandungannya, punya segudang misteri bagi saya. Hal-hal itu antara lain, pewarna makanan, zat aditif, pengawet, sampai pada aneka perisa makanan yang membuat makanan itu terlihat menarik dan tahan lama.

Semakin panjang daftar penyusunnya, semakin buatanlah makanan itu dan semakin sedikit kandungan nutrisi yang terdapat di dalamnya. Boleh saja makanan itu terlihat menarik dan terasa nikmat, tetapi makanan itu tidak begitu sehat.

Belajar untuk menyadari setiap hal yang saya konsumsi bukan hanya mengubah kebiasaan makan saya, menggantinya dengan masak bahan makanan segar kapanpun saya sempat, tetapi juga meningkatkan kesadaran saya tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh.


Jumat, 01 Mei 2015

Quotes of Mine

Here are some brief thoughts of mine gathered in one blog. Hope you guys also have the same agreement too. :) Pemikiran ini dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Best friend is the only one you can welcome with pjamas on your body.


Ga peduli seberapa gede meja yang dikasih atau seberapa gede lemari yang disediain, space kosong itu akan selalu terisi. -Anak Kos-


Setiap kali selesai membaca buku yang bagus, ada satu jeda kecil atas perasaan sedih dan kehilangan, berharap-harap akankan saya menemukan buku yang bagus lagi...dan apakah hanya saya seorang diri yang merasakannya...entahlah.


Bagi saya, orang yang takut air sedunia, mampu berenang sejauh 6-7 meter dan menyelam selama kurang lebih 30 detik adalah suatu kebanggan tersendiri. Ada prestasi di sana. Dan entah mengapa, akan selalu ada perasaan deg-degan setiap kali kulit saya menyentuh dinginnya air.


Turning on your playlist in order to prevent you from falling asleep when doing your uncountable task and at the end find you sink into the song and start dancing and humming instead of finishing your task.


Enjoying a plate of kangkung may not buy  me a ticket to home, but there are quality seconds of the feeling of home.
Who else do this?


I don't do the things I love for living. On the contrary. I do living for doing the things I love. May be I will be glad to be called "A Passionpreneur".

That moment when you and your friends are staring at one to another in silence, and you all just like put a suspicious smile and say in your eyes, "Aha! I know what you're thinking about!"

Orang bilang berkelana itu memperluas cakrawala. Itu benar.Tapi membaca buku juga memperluas cakrawala. Kalau berkelana dengan menggerakkan kaki, kalau "berkelana" tipe kedua dengan menggerakkan mata dan bermain hati.

Pernah ga sih beli barang bagus yang lagi diskon di mall lalu kembali ke toko yang sama suatu waktu di masa depan buat ngecek apakah barang itu masih diskon atau nggak. Dan jingkrak-jingkrak kegirangan kalau itu barang ternyata kembali ke harga normal, sebaliknya kecewa banget kalo ternyata diskonnya ditambah.

That freezing moment when you see someone and you both just like know each other but forget each other's name and when and where you meet.

For boys and girls, at one point or another, I believe you all have fallen for your friends, may be just one day, two days, or more. But you, have fallen for each other.

Putting "wkwkwk"or "hahaha" in a text with no meaning even any expression of emotion just to avoid the assumption of serious text.

Sabtu, 25 April 2015

Fakta tentang Tidur

Waking up in the morning and randomly thinking about this true fact of sleeping. In my opinion...

There are only 24 hours in a day. If people sleep 8 hours a day, indeed, it's true, which means one third of it, you can logically say that when people have gone through his 3 days, he actually just live for 2 days because he uses his one day just for sleeping and doing obviously nothing.

And if we count forward, when people die at his 60, he just live for actually 40 years of his life.
That's why, sometimes, I'm afraid of sleeping, it cuts my age.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Terbangun di pagi hari dan tiba-tiba tersadarkan akan fakta tentang tidur. Menurut saya...

Hanya ada 24 jam dalam sehari. Jika manusia tidur selama 8 jam sehari, dan ya, memang itu benar, yang itu berarti sepertiga dari 24, Anda bisa secara logis mengatakan bahwa ketika manusia telah melalui tiga hari dari hidupnya, manusia itu sebenarnya hanya hidup selama dua hari karena ia telah menggunakan satu harinya untuk tidur dan tidak melakukan aktivitas apa-apa selain berdiam diri di tempatnya mendaratkan tubuh.

Dan apabila kita hitung maju, ketika manusia meninggal pada usia 60 nya, sebenarnya dia hanya hidup selama 40 tahun dari hidupnya.

That's why, sometimes, I,m afraid of sleeping. It cuts my age.

Festival Kuasa Allah

Artikel ini telah saya tulis pada 29 Maret lalu, namun entah mengapa baru sekarang ini saya ingin mempublikasikannya di sini.

Rasa penasaran yang menggebu-gebu berhasil mengantarkan tubuh saya menuju Arena JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 28 Maret 2015.
Tulisan ini bukan berita atau ajakan untuk pindah agama. Tulisan ini sekedar bentuk dari gerakan jiwa saya untuk menyampaikan kepada orang-orang kalau mukjizat Tuhan itu sungguh nyata.
Gereja Mawar Sharon kembali menggelar Festival Kuasa Allah 21 tadi malam. Saya bukan jemaat dari gereja ini. Saya pergi semata-mata untuk menjawab pertanyaan saya selama ini, “Apakah orang-orang yang saya lihat di televisi itu benar-benar sembuh dari penyakitnya?”
Awalnya saya agak takut. Saya membayangkan nanti akan ada tubuh yang bergetar-getar, orang yang berteriak-teriak, menangis, tertawa, bahkan tak sedikit yang tergeletak di lantai. Membayangkan hal itu membuat saya bergidik ngeri. Namun karena dibungkus rasa ingin tahu, hal-hal itu tidak menjadi masalah.
Memutuskan untuk bisa memahami hal-hal spiritual di festival ini, saya duduk di antara para jemaat, mencoba masuk ke atmosfer mereka. Dan benar saja, bulu kuduk saya tak henti-hentinya berdiri mendengar dan melihat kesaksian orang-orang tentang kesembuhannya. Tak jarang, mereka membuat saya menitikkan air mata.
Ternyata perjumpaan dengan Tuhan itu sungguh ada. Tuhan sungguh menyembuhkan mereka yang percaya. Saya melihat bagaimana mereka yang lumpuh bisa berjalan, berlari, bahkan ada yang berjingkrak. Ada yang tangannya tak bisa digerakkan, kini bisa digerakkan. Ada balita yang tidak berani berjumpa dengan orang, berani digendong maju dan ingin mengambil microphone. Ada penderita tiroid bisa disembuhkan. Ada yang indung telurnya bermasalahm juga disembuhkan dalam perjumpaan ini. Saya melihat bagaimana orang-orang yang haus jiwanya, dijamah oleh roh kudus. Saya melihat bagaimana orang-orang yang rindu akan kesembuhan dan percaya akan itu, sungguh disembuhakan. Saya melihat berbagai mukjizat.
Dan ternyata orang sakit itu datang dari berbagai agama, bukan hanya dari penganut Kristen saja. Betapa luar biasa berkesempatan menyaksikan orang-orang yang berbagi atas keajaiban dalam hidup mereka.
Awalnya saya sempat bertanya-tanya, “Mungkinkah ini skenario belaka? Mungkinkah orang sakit itu hanya akting dengan kursi roda dan alat bantu lainnya? Dan para petugas pelayanan itu sudah mempersiapkan skenario ini?” Tapi pikiran saya yang lainnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, “Sebegitu kurang kerjaan kah mereka, puluhan orang di panggung dan ratusan orang sakit di balik panggung, puluhan pendoa dan petugas pelayanan serta ribuan jemaat lainnya mempersiapkan drama teater paling improvisasional? Sebegitu “niat” kah mereka membohongi manusia?”
Festival Kuasa Allah tadi malam itu keren, keren sekali menurut saya.
Semoga tulisan ini menjadi sarapan bernutrisi di Minggu ini. smile emotikon Happy Sunday and God bless.

Jumat, 24 April 2015

Catatan Seorang Demonstran

Baru saja membaca secuil halaman dari buku karya Soe Hok Gie dan menemukan sebuah puisi keren.

Saya mimpi tentang sebuah dunia,
Di mana ulama - buruh dan pemuda,
Bangkit dan berkata - Stop semua Kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apa pun.

Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu, dan beras,
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,
Dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun,
Agam apa pun, rasa apa pun, dan bangsa apa pun,
Dan melupakan perang dan kebencian
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi,
Yang tak pernah akan datang.




Kehilangan


Kalau Anda pecinta buku, pernahkah Anda merasakan hal serupa dengan apa yang saya rasakan di bawah ini?
Setelah selesai membaca sebuah buku yang sangat bagus, ada satu jeda singkat atas rasa kehilangan atau kesedihan, seperti rasa gembira karena akhirnya buku itu tamat juga, dan rasa kehilangan karena tak tahu di mana lagi harus menemukan buku yang tepat. Rasa kehilangan itu ada.