Senin, 16 November 2015

Aku si Penyandang Disabilitas

Menetes air
Bukan ketika hujan
Menetes air
Dari rahang mulut, bahkan setelah ditahan

Terikatku di kursi roda
Terkurungku di balok putih
Tak kunjung dukaku mereda
Sampai rambutku memutih

Orang yang sama
Kegiatan yang sama
Terapi yang sama
Setiap hari, setiap menit, setiap waktu
Bosanku bertambah!

Hei teman, mengapa tak pernah kau menjengukku?

Kau sibuk bernyanyi, memuja Dia yang adalah penciptamu
Kau sibuk menari, menyembah Dia yang adalah penciptamu
Kau bilang kau pengasih
Tapi, pernahkah kau tolehkan kepalamu
Kau cubit sedikit nurani hatimu
Melihatku yang mungkin bersedih?

Sahabatku datang dan pergi dengan mudah
Menyapaku barang beberapa bulan
Untuk pergi selama-lamanya
Ke suatu tempat yang kuharap itu indah
Menawarkan segala kenyamanan
Yang tak pernah ia terima selama hidupnya

Manjakah aku?
Si penyandang disabilitas
Yang mungkin tak akan merasakan
Kaki yang sama kokohnya dengan milikmu
Tangan yang tak akan sama lincahnya dengan punyamu
Rahang yang tak sama baiknya dengan milikmu
Bahkan tulang dan sendi yang tak semulus punyamu

Tapi
Sebuah langit
Sebuah matahari
Sebuah kicauan burung
Sehilir rumput
Semilir angin
Para sahabatku yang setia
Alam tanahku

Mereka mampu menghadirkan
Sebuah senyuman
Sebuah kehangatan
Sebuah harapan
Sebuah kesembuhan
Bagi aku
Si penyandang disabilitas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar