Senin, 02 Maret 2015

Duduk Kelamaan Mendatangkan Bahaya


Duduk Kelamaan Mendatangkan Bahaya


Berapa jam dalam sehari Anda duduk?
Data dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang rata-rata duduk lebih dari delapan jam sehari. Persoalannya, kini semakin banyak studi menunjukkan bahwa duduk terlalu lama memberikan dampak negatif terhadap kesehatan.
Tabib Italia, Bernandino Ramazzini pernah menggambarkan efek buruk dari terlalu banyak duduk di tempat kerja pada tahun 1700-an. Ia menyarankan orang untuk berhenti duduk sesekali dan melakukan kegiatan perangsangan aliran darah.
Menurut Dr. James Levine, direktur Mayo Clinic-Arizona State University Obesity Solutions Initiative, tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Ketika seseorang duduk terlalu lama, tubuhnya tidak menghabiskan energi. Hal ini mempercepat pembentukan lemak.
Sebuah studi yang dimuat dalam Journal of the National Cancer Institute menganalisis 43 penelitian yang menganalisis hubungan kebiasaan duduk dan 70.000 kasus kanker. Faktanya, partisipan dengan jam duduk yang lebih lama memiliki risiko 32 persen kanker endometrium, 24 persen risiko kanker usus besar, dan 21 persen risiko kanker paru.
Peneliti Kanada, Dr Peter Katzmarzyk menemukan bahwa mereka yang duduk hampir sepanjang waktu memiliki risiko kematian dini hampir sepertiga lebih tinggi dibandingkan mereka yang lebih lama berdiri sepanjang waktu.
Peneliti University College London, Dr Emmanuel Stamatakis menemukan hasil yang sama antara perempuan di Inggris: orang-orang yang sebagian besar berdiri/berjalan dalam bekerja memiliki risiko kematian dini 32 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang bekerja sambil duduk.
Studi lainnya dilakukan oleh Emma Wilmot dari University of Leicester terhadap 800.000 partisipan. Emma membuktikan bahwa duduk terlalu lama menempatkan seseorang pada risiko sakit jantung dan diabetes, bahkan pada mereka yang berolahraga teratur.
Sehabis makan, gula darah dalam tubuh akan melonjak selama satu jam. Jika pada saat itu seseorang hanya duduk, maka gula tersebut tidak dimanfaatkan oleh otot-otot dan sel tubuh untuk melakukan aktivitas. Akibatnya, gula tersebut diubah menjadi lemak.
Sebaliknya, gula akan dibakar menjadi energi apabila seseorang bergerak setelah makan. Semakin sedikit gula yang tersisa setelah aktivitas tersebut, semakin sedikit gula diubah menjadi lemak yang mengakibatkan obesitas dan diabetes.
            Solusinya? Kurangi porsi duduk Anda, perbanyaklah bergerak. Mengingat duduk terlalu lama dan berdiri terlalu lama juga tidak baik untuk kesehatan, alangkah lebih baiknya apabila Anda bergantian duduk dan berdiri. Kinerja aktivitas kognitif seperti membaca, mengetik, dan menulis tidak akan terganggu apabila dilakukan  sambil berdiri. Duduk dan berdiri secara bergantian akan meningkatkan kontraksi otot, merangsang aliran darah, dan menghasilkan lebih banyak bakaran kalori dan kadar gula darah yang sehat. Maka itu, perbanyaklah kegiatan duduk yang diselingi berdiri.

Senin, 09 Februari 2015

Cara Makan Ayam Gratis



Cara Makan Ayam Gratis



                Gadis berkulit putih dengan tubuh yang kurus kering itu terlihat sedang memisahkan kulit renyah ayam dari tempatnya melekat semula. Tidak lama, temannya yang duduk tepat di seberangnya menyeletuk, “Son, rajin amat lu misah-misahin ayam sama kulitnya.”
            Sonirima masih berkutat dengan suguhan di piringnya. Tidak digubrisnya ucapan teman makannya. Lalu, ia memanggil pelayan untuk minta kertas pembungkus.
            Megan, teman makan Sonorima, hanya memperhatikan ulah temannya itu. Daritadi, sejak pelayan dengan seragam berlogo kakek-kakek berkacamata itu mengantarkan makanan, sampai pada detik itu, saat makanannya sendiri hampir habis setengahnya, Sonorima serius sekali memisahkan ayam dari kulitnya. Awalnya Megan menduga kalau-kalau Sonorima punya kebiasaan menyisakan yang enak untuk dimakan terakhir, tapi ia mulai meragukan dugaannya setelah melihat pelayan tengah menyodorkan kertas pembungkus kepada Sonorima.
            Tak mampu menahan rasa penasarannya, tidak peduli walaupun daritadi diabaikan, Megan angkat suara, “Loh, kok ayamnya elu bungkusin? Nggak lu makan di sini?”
            Kebetulan Sonorima sudah selesai dengan ayamnya, ia menjawab pertanyaan Megan sambil tersenyum kecil, “Hehehe... Nggak, gua makan kulitnya aja.”
            “Loh, dagingnya?” spontan Megan bertanya.
            “Oh, itu mah buat Dogi aja,” jawab Sonorima sambil menyuapi mulutnya sendiri dengan nasi ditambah kulit renyah ayam.
            Megan memicingkan mata, agak meragukan persepsinya tentang Dogi yang baru saja disebutkan cewek kurus kering di hadapannya. “Maksud lo gukguk?” tanyanya setengah tak percaya.
            Sonorima mengangguk setuju sambil melanjutkan makannya. Megan pun berlalu sambil tak bisa berkata-kata. Matanya terbelalak besar selama beberapa detik.
            Di lain waktu, Megan dan Sonorima kembali memanjakan lidah mereka di restoran ayam berlogo kakek-kakek memakai kacamata itu. Kali itu berbeda, mereka tidak hanya berdua, mereka ditemani seorang teman laki-laki.
            “Duh, ayam-ayamnya mahal banget sih, kecil lagi,” gerutu Miko sesaat setelah pelayan beranjak jauh dari mereka setelah mengantarkan pesanannya.
            “Yah, emang segini porsi makan di sini. Kita mah udah biasa ya, Son?” Megan mengucapkan kalimat terakhirnya sambil menyikut tangan Sonorima. Tapi seperti biasa, kalau ia sudah serius dengan atraksi kulit ayamnya, ia tidak bisa diganggu.
            Megan dan Miko saling tatap.
            “Ehem...” Megan berdehem.
            “Kacang mahal nih,” celetuk Miko sambil tertawa.
            “Kacang apaan?” Akhirnya Sonorima tersadar dari alam bawah sadarnya.
            “Oh, kagak-kagak,” Megan menjawab.
            Setelah menelan ludahnya, Megan menyambung, “Miko, lu bilang ayamnya mahal kan? Mau ayam gratis ga?”
            “Ya, kalo ada ya maulah. Kenapa? Elu mau jadi sukarelawan ayam buat gua? Hahaha...”
            “Nggak sih. Tapi gua tau caranya gimana supaya elo bisa makan ayam gratis.”
            Tak perlu dua kali untuk berpikir, Miko bertanya, “Gimana?”
            “Elu jadi anjingnya Sonorima aja... Hahaha...”
            Sonorima yang sudah selesai memisahkan antara ayam dan kulitnya, kemudian menyobek sedikit daging ayamnya, diletakkannya di atas piring Miko.
            Miko, tak mengerti dengan ulah Sonorima, kemudian mengeluarkan kegilaannya. Ucapan terima kasihnya disampaikan dengan menggonggong ala manusia, “Guguk, guguk,” prakteknya sambil menaikkan kedua tangan dan mengambil ancang-ancang menjulurkan lidah.