Sabtu, 05 September 2015

Permasalahan Dunia

Menurut saya, hal yang menjadi masalah di dunia adalah terlalu banyaknya keberadaan orang beragama, kurang banyak orang yang beriman, kurang banyak orang yang peduli terhadap hal-hal kemasyarakatan. Itulah yang menjadi permasalahan dunia.

Kalau ada seorang ibu yang ditinggal suami, sementara ia harus membesarkan anaknya. Ia tak memiliki pekerjaan. Berbagai tempat telah ia lamar, namun tidak di satu tempat pun ia diterima. Ia hampir putus asa. Di tengah desakannya untuk menghidupi diri dan anaknya, ia terpaksa menjadi pekerja prostitusi. Dapatkah orang beragama mengatakan ibu tersebut orang yang tak bermoral? 

Dapatkah dirimu mengatakan kamu orang yang bermoral kalau Anda tidak menolong ibu tersebut?

Rabu, 02 September 2015

I Lived

Loving a song titled "I Lived - One Republic" till I'm willing to put it here and write my love of this song. Here are the lyrics, so meaningful and keep my spirit up.

Hope when you take that jump, you don't fear the fall
Semoga ketika kamu mengambil sebuah langkah yang hebat, kamu tidak takut akan jatuh

Hope when the water rises, you built a wall
Semoga ketika rintangan datang, kamu sudah membangun tembok (sudah siap dan berjaga-jaga)

Hope when the crowd screams out, they're screaming your name
Semoga ketika orang-orang bersorak kemenangan, mereka menyerukan namamu

Hope if everybody runs, you choose to stay
Semoga ketika semua orang memilih untuk kabur(menyerah), kamu memilih untuk bertahan

This is the part I love the most and I feel it my own, and it really does true:
Hope that you fall in love, and it hurts so bad
Semoga kamu jatuh cinta dan itu melukaimu dengan sangat buruk

The only way you can know is give it all you have
Satu-satunya cara kamu dapat mengetahuinya (rasa sayangmu, perjuanganmu, segalanya) adalah dengan memberikan seluruh yang kamu miliki

And I hope that you don't suffer but take the pain
Dan saya harap kamu tidak menderita, melainkan menerima lukanya

Hope when the moment comes, you'll say...
Berharap ketika saatnya tiba, kamu akan bilang...

I, I did it all
Saya, saya melakukan itu semua

I, I did it all
Saya, saya melakukan itu semua

I owned every second that this world could give
Saya memiliki tiap detik dari apa yang dunia bisa berikan

I saw so many places, the things that I did
Saya melihat begitu banyak tempat, hal-hal yang saya lakukan

With every broken bone, I swear I lived
Dengan segenap tulang yang rapuh, saya bersumpah bahwa saya telah hidup

What a touching song!

Selasa, 01 September 2015

Berhentilah Memberi Sumbangan Ketika Berbelanja

Artikel ini bukan untuk memfirnah para kasir supermarket.


Pernahkah Anda belanja di Indom*ret, Alfam*rt, Hyperm*rt, Gi*nt atau supermarket-supermarket lain serupa dan mendapati bahwa transaksi Anda mencapai angka yang tidak bulat? Misalnya: 19.800.

Dan lalu karena keterburuan Anda, enggan menyimpan uang koin, atau malas mencari koin, Anda akhirnya merogohkan selembar hijau Anda bertuliskan 20000 dan kemudian memberikannya ke kasir.

BING!

Di saat yang bersamaan si kasir menawarkan, "Bagaimana kalau 200 peraknya untuk disumbangkan saja, Pak/Bu?"

Lalu karena Anda orang yang baik hati dan suka menolong (padahal malas menunggu dan tidak enak untuk mengatakan tidak), Anda mengiyakan permintaan si kasir. Dan 200 perak Anda pun Anda sumbangkan dengan perasaan dalam hati bahwa Anda baru saja mendapatkan pahala.

200 perak bukan nominal yang besar bagi Anda, tidak juga bagi si kasir.
Namun 200 perak adalah nominal yang besar untuk dikali satu juta pembeli selama tiga puluh hari.

Sebuah perusahaan besar seperti nama-nama yang saya sebutkan di atas memiliki program CSR berupa penyumbangan uang kepada mereka yang tidak mampu. Apakah menyumbangkan sebagian uang kepada mereka yang tidak mampu merupakan hal yang salah? Tentu saja tidak. Yang salah adalah, perusahaan seharusnya membiayai program CSR mereka dengan keuntungan bersih yang didapatkan oleh perusahaan, bukan ditarik dari konsumen.

Jadi, apabila Anda berbelanja dan mendapati si kasir meminta Anda untuk menyumbangkan barangkali satu dua perak dari uang kembalian Anda, jangan berikan. Biarkan si kasir melihat kepergian Anda sambil memasang muka dengan pesan, "Pelit."

Dan kalau Anda cukup peduli, biarkan si kasir membaca tulisan ini.

Minggu, 23 Agustus 2015

Pepes

Bagi makhluk yang menaiki kereta pertama kalinya di usia yang ke sembilan belasnya, kata pepes yang disampaikan orang-orang untuk mendeskripsikan padatnya kereta dirasa tidak terlalu membantu.
Setelah menempuh perjalanan Serpong - Depok, Depok - Jakarta Barat; barulah saya paham apa dan bagaimana pepes itu. 
Apa yang terlintas di benak Anda ketika melihat gambar ini?
Pepes! Makanan! Murah! Enak! Mantap!
Hahaha, oke, itu otak makanan, sama seperti saya ketika pertama kali mendengar ramainya kereta sama dengan pepes.
Tidak ada bayangan yang jelas tentang apa pepes itu.
Selama ini orang-orang suka menggambarkan ramainya KRL dengan kata pepes. Deskripsi terbaik untuk mendefinisikan pepes kereta adalah adalah suatu keadaan ramainya kereta di mana sekalipun Anda pingsan, tidur, atau bahkan tidak menyadarkan diri sekalipun di dalamnya; Anda tidak akan terjatuh.

Kamis, 20 Agustus 2015

Cerita Ini Pasti Membuat Anda Bangga Belajar Bahasa Inggris

Baru-baru ini salah seorang teman saya bertemu dengan para bule norak.

Di suatu siang yang indah dan biasa, di Mall of Indonesia, mall yang banyak berisi bule dan orang-orang asing, teman saya, seorang wanita, berada pada sebuah lift, sendirian.

Dia adalah seorang guru bahasa Inggris dengan kulit sawo matang dan karakter wajah yang khas Indonesia. Tak lama setelah ia masuk, berlari lah sesosok pria tinggi besar dengan rambut pirang dan kulit putih, khas orang barat. Dia adalah bule. Ia berlari sambil tertawa cengengesan layaknya seorang bocah, sangat tidak sesuai dengan bobot tubuhnya. Dengan tangannya yang banyak ditumbuhi rambut, ia menahan pintu lift sambil tersenyum setengah mengejek. Dilihatnya sekilas teman saya itu, lalu diarahkannya lagi tatapannya pada teman-teman sesama bulenya yang sedang berjalan menuju lift.

Dengan suaranya yang penuh nada ejekan, ia berteriak kepada teman-temannya, "See! This lady is gonna freaking out!"

Teman-temannya di ujung sana berlari sambil tertawa-tawa. Teman saya, menunggu sampai semua bule itu masuk ke dalam lift, lalu dengan wajah judesnya berkata, "I'm not gonna freaking out."

"Hey! she even can understand what we are talking about," celetus bule cengengesan tadi.

"I'm not even afraid of you," balas teman saya.

Pintu lift tertutup. Sunyi.

"Do I look like I care? I can bite you," kata bule tersebut, diikuti tawa meledek teman-temannya.

"I'll bite you back, then." celetus teman perempuan saya, mengakhiri pembicaraan dengan gagah dan keren sambil berjalan keluar lift.

Selasa, 11 Agustus 2015

Green

For every single question related to the reason I love green, I finally got an answer.

It's easy to find a reason why people love flowers. It's beautiful and fragrant. But it takes ten times to think of the reason people love leafs, they are all green and flat and have almost no appealing comeliness.

Loving the beautiful is ordinary, but loving the ordinary is beautiful.

An Escape

Doing nothing is a boredom.
Doing too much is a boredom.
I love being in between, although it's not a freedom.

Just like Desi Anwar thaws my heart with her brilliant mind and touching story, I gonna take this shot of my holiday-people-call to write my frank ideas.

Instead of staying in my house enjoying mom's delicious cooking, or staying somewhere flatly, I choose to rove to another part of this world, to a brand new place. Having a disappointing relation with my previous bureau, with almost have the same system with the place I decide to work now, makes this job tender alerts me like all the time.

If it alerts me like a lot then why I say yes to this job?

After losing teaching, then I just do realize that teaching is my life. Not that kind of teaching eight hours a day, but the feeling of sharing something important in a simple and easy-to-understand way that I love. The time when I meet people and get new ideas, the conference in the teacher's room, the crying little peanut or some little hugs from behind, it's sweet.

And today is my first day go to MOI, far away from my comfortable bed. It tooks me 2 hours half to get in here, with all the courage I plant in my body and the help from kind-hearted people around here, I get to this new place.

The person hurts me the most this morning is a driver. Not because he treats me bad, but it is because he helps me in my hard condition that makes my heart slapped. By the way the artist-looking driver offers me a help, I just do believe that every people are good in heart. After getting his frowning face when I wasn't able to open the bus door, he gave me a free ride to the place I was aiming to go. What a lucky day.

One of the best pride a language teacher can make is bringing out a question whether he/she is a native speaker of that language. And people believe that he/she is a native even when he/she is not.

Another escape ...

I call him my brother I am willing to walk meters away to the place I've just recognized at night, alone, to buy him a food without deliberating a thing. After being rejected at first to ask him to have dinner together, still I go to have it for him. 
He calls me his sister when he gives me his solely bed, pillow, bolster, and blanket to the person share no tokens to the place he lives.
This is how I looking for my future husband, (apasi.udah.mikirin.suami.aja) the one whom I love sincerely and the one who loves me sincerely.